Pensiun dari Kelas, Tidak dari Panggilan

Pensiun dari Kelas, Tidak dari Panggilan

Pada 1 Oktober 2025, St. Kartono resmi memasuki masa pensiun setelah 34 tahun mengabdi di SMA Kolese De Britto Yogyakarta, sejak 1 Juli 1991, ditambah mahasiswa praktik Juli-Desember 1988.

Hari itu menandai transisi penuh makna: ia menerima dua Surat Keputusan sekaligus, satu tentang pensiun dari tugas mengajar di kelas, satu lagi tentang penugasan baru di Yayasan De Britto untuk merancang karya strategis.

Fokus barunya: memperkuat literasi guru dan melestarikan warisan pendidikan Yesuit, bukan sebagai birokrat, melainkan sebagai penenun nilai lewat kata dan kehadiran.

Acara perpisahan sederhana pada 19 Desember 2025 berubah menjadi perayaan syukur yang hangat. Dulu, saat anak-anak masih kecil, keluarga Kartono selalu hadir dalam setiap kegiatan sekolah, dari pertemuan rutin hingga piknik bersama keluarga besar De Britto.

Kini, Bu Irine Ros Sari Pratiwi sang istri, kedua putrinya (Prima Interpares dan Melati Mewangi) hadir dengan penuh cinta, mengantar sang ayah memasuki babak baru ini.

“Terima kasih, Bu Irine, atas pendampinganmu bersama menuju ‘tanah terjanji’ di sini,” ucap St. Kartono dengan tulus, sebuah ungkapan yang menyiratkan bahwa kebahagiaan sejati tak perlu dicari jauh, cukup dibangun di sini, bersama orang-orang yang dicintai.

Biarlah anak-anak yang bicara. Prima dan Melati menyampaikan bagaimana mereka merasa disejahterakan oleh Yayasan De Britto, bukan hanya secara material, tetapi lewat pelajaran mendalam dari para Romo Yesuit yang disampaikan melalui buku, diskusi, dan teladan hidup.

Mereka mengakui: impian mereka untuk “berkelana menembus batas” tak lepas dari ayah yang bekerja dengan keteguhan, tanpa gembar-gembor, namun dengan konsistensi yang menggetarkan.

Inspirasi itu hadir dalam bentuk kecil: catatan di bekal sekolah, buku yang diselipkan di tas, dan ritual menulis bersama keluarga setiap Minggu pagi.

Turut hadir dalam acara ini Superior Kolese de Britto, Romo Sugiyo Pitoyo, SJ. Tak ketinggalan Romo James Spillane, SJ, yang hadir secara istimewa sebagai sahabat seperjalanan iman (keluarga) dan pendidikan.

Ia menyebut St. Kartono sebagai “guru yang mengajar dengan kehadiran, bukan hanya suara”, sebuah pengakuan yang disambut haru oleh semua hadirin.

“Terima kasih, Romo James, atas kehadiran istimewa untuk mengantar saya pensiun,” ujar Kartono, sementara Bu Irine menegaskan dengan semangat: “Kami tak berhenti. Kami hanya berganti medan.”

Nama St. Kartono telah lama dikenal sebagai kolumnis produktif di Kompas, Kedaulatan Rakyat, Bernas, Basis, Utusan, dan Brayatminulya.

Ratusan tulisannya memadukan kepekaan sosial, kedalaman refleksi iman, dan cinta pada profesi keguruan, tanpa retorika kosong, selalu berpijak pada realitas sehari-hari di kelas dan dapur rumah guru.

Artikel pertamanya di Kompas, berjudul “Mengapa Guru Harus Membaca?”, menjadi pintu masuk bagi banyak esai kritis namun penuh kasih tentang dunia pendidikan.

Buku-bukunya seperti Menjadi Guru untuk Muridku (Kanisius, 2011) dan Sekolah Bukan Pasar (Kompas), menegaskan keyakinannya: guru bukan agen birokrasi, melainkan pembentuk karakter dan penjaga nyala harapan.

Meski pensiun dari kelas formal, ia justru semakin aktif. Ia tetap mengajar 10 SKS di Universitas Sanata Dharm, dalam refleksi menulis dan pendidikan karakter, tempat mahasiswa belajar bukan hanya menulis, tapi menghadirkan diri dengan utuh di atas kertas.

Ia mendampingi pelatihan menulis untuk guru dan siswa, dari SD hingga instansi pemerintah, selalu menekankan: menulis bukan soal sempurna, tapi keberanian jujur.

Ia sedang menyusun antologi kisah guru “biasa” yang luar biasa: mereka yang mengajar di pelosok, tanpa insentif besar, tapi dengan ketekunan yang menggetarkan.

Dan di rumah, bersama Bu Irine dan kedua putrinya, ia memulai proyek “Menulis Bersama Keluarga” untuk 2026, bukan sebagai pelatih, tapi sebagai sesama pejalan yang saling mendengar lewat tinta.

Ia tidak pensiun dari kelas. Ia naik ke kelas kehidupan yang lebih luas, tempat setiap langkah, setiap diam, dan setiap kata menjadi pelajaran bagi banyak orang.

Seperti kata seorang mantan murid yang paling menyentuh: “Pak Ton tak pernah mengajar kami cara menulis yang benar. Ia mengajar kami cara hidup yang bisa ditulis dengan jujur.”

Semangat St. Kartono mengingatkan kita: panggilan sejati adalah api yang tak pernah padam.

Ia hanya berpindah wadah, dari papan tulis ke halaman koran, dari kelas ke keluarga, dari masa kini ke warisan masa depan.

Sementara di WAG Perseduluran BraMin ucapan selamat memasuki masa pensiun seakan menyambut sang sahabat dengan penuh kehangatan sembari memberi peneguhan bahwa pensiun bukan akhir, tapi malah menjadi awal yang indah untuk lebih banyak bersama keluarga.

Selamat menapaki jalan baru, Pak Kartono. Warisan tulisan dan teladan Anda akan terus mengalir, dalam diam, dalam kata, dalam hidup yang ditulis dengan jujur. (dirangkum dari berbagai sumber oleh Alfred B. Jogo Ena)

Alfred Jogo Ena

Alfred Jogo Ena

Seorang editor yang suka menulis dan guru agama di beberapa sekolah menengah di Yogyakarta. Ia juga melayani pelatihan dan konsultasi penulisan buku

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *