MENJADI GURU BIASA SAJA:

MENJADI GURU BIASA SAJA:

Terpaksa Masuk IKIP( 1) 

Tahun 1979 bagi siswa kelas III SMA saat itu , suasana persiapan masuk perguruan tinggi negeri ( Sipenmaru) terasa membara dan heroik. Semua sibuk belajar, yang berduit ikut Bimbingan Belajar atau les privat ke guru, yang lain cukup dengan belajar kelompok. Mendapatkan jurusan pilihan di PTN menjadi impian. Aku pun ikut bergiat merenda masa depan dengan ubyang ubyung belajar kelompok, apalagi Bapak hanya mengijinkan anak- anaknya kuliah di UGM. Tak ada pilihan, kerja keras ! Aku juga ingin tunjukkan ke pacar ( adik kelas) bahwa aku layak diperhitungkan makhlum aku orang tak punya dan ia termasuk dari keluarga terpandang. 

Di tengah semangat yang membara , Bapak mengajak bicara denganku. Intinya, aku diminta menunda masuk PTN tahun depan. 

” Panen gagal, kondisi ekonomi keluarga morat marit. Apalagi dua kakakmu masih kuliah di UGM” begitu alasan Bapak. Aku mengerti Bapak hanya petani, dan Simbok buka warung di rumah , tetapi tak bisa dipungkiri aku sangat kecewa, bahkan down

Aku menutup diri, menarik diri, tak mau lagi gabung belajar kelompok, aku sangat minder. Aku sering pergi tanpa tujuan, pelarianku ikut bantu kerja di bengkel motor tetangga, bahkan ikut ngernet Colt. Malam begadang gak ada juntrungnya. Akhirnya tubuhku tak sanggup, aku tumbang kena tifus. Saat itu teman2 lagi sibuk jalani test masuk PTN, aku tergolek sakit hampir satu bulan sambil menangisi nasib. Terpuruk! 

Setelah pengumuman hasil tes dan teman- teman merayakan euforia diterima di PTN, aku semakin merasa seperti jatuh  ke dalam sumur tak berdasar dan tak berdaya untuk keluar. 

Ketika kondisiku mulai membaik, kakak saya bilang bahwa ia mendapat uang beasiswa dan membujuk aku untuk daftar di Sanata Dharma, gelombang 3 ( terakhir) tanpa sepengetahuan Bapak. Dalam kondisi belum fit aku jalani tes untuk jurusan Mipa, Fisika. Singkat cerita,aku diterima. Saat wawancara penentuan uang sumbangan, yang mestinya orangtua terpaksa saya sendiri yang menghadap. Bapak menolak datang karena merasa berapa pun  yg diputuskan toh ia tak akan sanggup bayar. Aku diberi jumlah paling minimal oleh panitia adhoc ( aku lupa, mungkin 400 ribu) , kalau tidak sanggup bisa ke Wakil Rektor 2. Percuma saja kalau aku lapor Bapak, maka aku pun langsung menghadap Warek 2 . Setelah ngomong- ngomong, keringanan hanya bisa diangsur, besaran tetap. Ngangsur pakai apa?, pikirku. Karena tidak ada jalan keluar, akhirnya Pak Warek menyampaikan bahwa Pemerintah ada rencana buka program Diploma 1 untuk mengatasi kekurangan guru SMP,  dan Sadhar ditunjuk sebagai salah satu penyelenggara. Kuliah gratis, bahkan dapat uang ikatan dinas, tamat langsung diangkat PNS syarat bersedia ditempatkan di seluruh wilayah Indonesia. Aku langsung menerima bukan karena tertarik tetapi tidak ada pilihan. Namaku langsung tercatat, dan tidak perlu ikut tes. Jadilah aku mahasiswa Diploma 1,Jurusan Mipa- Fisika, IKIP Sanata Dharma.

Paul Subiyanto

Dr.Paulus Subiyanto,M.Hum --Dosen Bahasa Inggris di Politeknik Negeri Bali ; Penulis buku dan artikel; Owner of Multi-Q School Bal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *