Mata yang Lebih Terang daripada Kacamata

Mata yang Lebih Terang daripada Kacamata

Setiap Kamis, tepat pukul dua belas siang, waktu berhenti sejenak di sudut ruang perpustakaan yang ramai dengan anak-anak lain yang membaca atau sekadar “ngadem” di ruang ber-AC. Di sana, seorang gadis berdiri, tinggi semampai, berkacamata, dengan sorot mata yang tak pernah kabur oleh keraguan. Matanya tajam, tapi tak menusuk; ia bersahabat, bahkan sebelum kami saling menyapa.

Namanya tak akan kusebutkan di sini, bukan karena ingin menyembunyikan, tapi agar setiap pembaca bisa memanggilnya dengan nama yang paling dekat dengan hatinya: Anak Cahaya, Pembawa Damai, Guru Kecilku.

Ia murid pertamaku yang memaksaku kembali belajar. Bukan hanya cara mengajar, tapi cara hadir. Di hadapannya, bicara bukan sekadar suara, tapi gerak bibir yang harus jelas, tatapan yang tak boleh kabur, niat yang mesti lurus seperti anak panah. Ia butuh kejujuran dalam setiap kata, ketulusan dalam setiap napas. Karena bagi dia, salah satu huruf yang kulewatkan (satu nada yang kubengkokkan) bisa jadi jurang yang memisahkan pemahaman dari kebenaran.

Dan Tuhan tahu, betapa berdosanya aku jika berani bermain-main dengan kebenaran di depannya.

Ia masih kelas X Tata Busana di SMK KR yang berada dalam naungan Yayasan Kowani. Namun, tangannya sudah menari di atas kain seperti tangan penari balet yang mengenal setiap inci panggung. Ia menjahit bukan hanya dengan benang dan jarum, tapi dengan harapan. Sketsa-sketsanya tak sekadar goresan pensil, itu doa dalam bentuk garis: halus, penuh ritme, dan hidup. Nilai ujiannya pun di atas rata-rata anak-anak yang menamakan dirinya normal. Sebuah berkat bagi penulis untuk mendampingi sampai dua tahun ke depan.

(foto muridku yang sudah kusamarkan wajahnya dengan kacamata hitam)

Teman-temannya, yang dunia sebut “normal”, tak pernah memandangnya sebagai lain. Mereka tertawa bersamanya, meminjam sketsanya, meminta bantuan menjahit rok pramuka.

Di sana, dalam tawa yang tulus itu, aku melihat: Keluarga Kudus tidak hanya tinggal di Nazaret, mereka juga hadir di ruang kelas ini, di antara mesin jahit dan buku catatan yang penuh coretan warna-warni.

Aku datang sebagai guru agama, tapi ia yang mengajarkanku teologi inkarnasi yang paling nyata: Allah hadir bukan dalam kemegahan, tapi dalam kerentanan yang jujur.

Pater JB Berthier, pendiri Tarekat Keluarga Kudus, pernah berkata: “Gereja harus pergi ke mana orang-orang berada, terutama ke tempat yang gelap, ke tempat yang diabaikan atau dalam bahasa misi disebut mereka yang jauh.”

Tapi siapa sangka? Di tempat yang kukira “gelap”, justru ada cahaya yang menyilaukan. Ia tak butuh aku “datang menyelamatkan”. Ia butuh aku datang dengan jujur, tanpa topeng kompetensi, tanpa jubah kepandaian. Cukup seorang manusia yang mau menatap matanya, membuka bibir pelan, dan berkata: “Aku di sini. Bersamamu.”

Dan dalam tatapan itu (di antara jeda napas dan gerak bibir) aku menyadari sesuatu yang mengguncang:
Aku-lah yang berkebutuhan khusus.

Bukan karena tak bisa berbicara lambat. Bukan karena tak fasih membaca gerak tangan. Tapi karena (di hadapannya) ketidakjujuran kecilku langsung terlihat seperti retak di kaca bening. Ketidakikhlasanku terasa seperti noda tinta di kain putih. Ia tak menilai. Ia hanya menerima dan justru di situlah penghakiman paling lembut: pencerminan diriku sendiri.

Kesabaran yang ia ajarkan bukan untuk memahami dirinya. Tapi untuk memahami diriku yang sering lupa bahwa kebenaran tak perlu dipaksakan, melainkan dihidupi.

Suatu hari, saat ia menyerahkan sketsa Maria yang sedang menjahit jubah Yesus kecil, aku bertanya:
“Kenapa kau gambar Bunda Maria sedang menjahit?”

Ia menatapku, lalu tersenyum pelan, seperti matahari yang baru saja menyerah pada senja: “Karena jahitan yang baik… butuh waktu. Dan tangan yang sabar.”

Aku mengangguk. Tapi dalam hati, aku berbisik: Seperti juga kasih Tuhan, bukan jahitan instan. Ia menjahit hidup kita dengan benang waktu, kesabaran, dan kepercayaan… pelan, tapi tak pernah putus.

Dan di sanalah aku tahu: Gadis ini bukan muridku. Ia utusan yang dikirim bukan untuk diajar, tapi untuk mengingatkanku: bahwa mengajar bukan soal mengisi kepala, tapi menyentuh jiwa…lewat kejujuran, ketulusan, dan keberanian untuk jadi manusiawi sepenuhnya.

(tulisan murid “spesial” yang rapi dan jelas)

***
Di balik kacamata yang jernih bersinar,
tertulis kisah yang tak perlu dibingkai emas.
Dia mengajar tanpa suara yang menggelegar
lewat tatapan mata, hati pun berbisik: “Inilah kasih yang utuh.”

(tulisannya sangat rapi)

Alfred Jogo Ena

Alfred Jogo Ena

Seorang editor yang suka menulis dan guru agama di beberapa sekolah menengah di Yogyakarta. Ia juga melayani pelatihan dan konsultasi penulisan buku

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *