MAKNA PENGUSIRAN SETAN DALAM INJIL

MAKNA PENGUSIRAN SETAN DALAM INJIL

Narasi tentang setan demit iblis sangat familiar dengan manusia sejak purba. Kita pun dibesarkan melalui mitos- mitos tentang tuyul gendruwo kuntil anak, bahkan film- film bertema horor selalu box office di bioskop.
Pengusiran setan merupakan salah satu tindakan penting dalam pewartaan Injil yang dilakukan oleh Yesus, dan ini bukan hal yang aneh bagi kita. Dalam Injil, pengusiran setan tidak sekadar dipahami sebagai tindakan spektakuler atau mukjizat luar biasa, melainkan sebagai tanda nyata kehadiran Kerajaan Allah di tengah manusia. Yesus sendiri menegaskan, “Jika Aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu” (Luk. 11:20).
Secara teologis, pengusiran setan menyingkapkan pertarungan antara kuasa Allah dan kuasa kejahatan. Setan melambangkan segala bentuk penindasan, keterikatan, dan kuasa dosa yang merusak martabat manusia. Dengan mengusir setan, Yesus memulihkan kebebasan dan keutuhan manusia, sekaligus menyatakan bahwa Allah berpihak pada mereka yang tertindas dan terbelenggu.
Dalam konteks pewartaan Injil, pengusiran setan menegaskan bahwa keselamatan yang ditawarkan Allah bersifat menyeluruh: bukan hanya pengampunan dosa, tetapi juga pembebasan dari kuasa jahat yang menguasai hidup manusia. Pewartaan Injil dengan demikian bukan sekadar ajaran moral, melainkan kabar pembebasan yang konkret dan transformatif.
Bagi Gereja dan orang beriman, makna pengusiran setan ini tetap relevan. Ia mengajak umat untuk terlibat dalam perjuangan melawan “kuasa-kuasa jahat” dalam arti luas, seperti ketidakadilan, kebencian, ketakutan, dan struktur dosa yang menindas. Dengan hidup seturut Injil, orang beriman dipanggil menjadi tanda kehadiran Kerajaan Allah yang membebaskan dan memulihkan dunia.
Untuk itu, perlu lebih memahami bagaimana alam pikir Yahudi melihat Kerasukan Setan
Dalam tradisi Yahudi, khususnya pada zaman Perjanjian Kedua (sekitar abad ke-5 SM hingga abad ke-1 M), kerasukan setan dipahami sebagai kondisi di mana seseorang berada di bawah pengaruh roh jahat yang mengganggu kehidupan fisik, psikis, dan rohaninya. Pemahaman ini berkembang dari Kitab Suci Ibrani, tradisi lisan, serta pengaruh konteks budaya .kata “setan” (Ibr. śāṭān) pada awalnya berarti “lawan” atau “penuduh”, bukan selalu pribadi jahat yang berdiri berlawanan dengan Allah. Dalam Kitab Ayub, misalnya, setan digambarkan sebagai makhluk yang berada dalam lingkaran surgawi dan bertindak atas izin Allah. Namun demikian, terdapat juga konsep “roh jahat” yang dapat memengaruhi manusia, seperti “roh jahat dari TUHAN” yang mengganggu Saul (1Sam. 16:14). Roh-roh jahat juga dipandang sebagai kekuatan yang menentang kehendak Allah dan merusak ciptaan-Nya. Kerasukan setan dilihat sebagai bentuk penindasan nyata terhadap manusia, yang membuatnya kehilangan kebebasan dan martabat sebagai gambar Allah.
Tradisi Yahudi mengenal praktik pengusiran roh jahat melalui doa, pemanggilan nama Allah, penggunaan mazmur, serta tindakan simbolis tertentu. Pengusiran setan dipahami sebagai bagian dari perjuangan rohani untuk memulihkan tatanan yang dikehendaki Allah dan mengembalikan manusia pada kehidupan yang benar di hadapan-Nya.
Pemahaman Yahudi tentang kerasukan setan ini menjadi latar penting bagi kisah-kisah pengusiran setan dalam Injil. Ketika Yesus mengusir setan dengan otoritas pribadi, tindakan ini dipahami oleh orang Yahudi sebagai tanda bahwa kuasa Allah bekerja secara istimewa melalui diri-Nya, bahkan melampaui praktik-praktik religius yang sudah dikenal.
Kiranya perlu juga kita mengetahui bagaimana kerasukan setan menurut Ilmu Kedokteran Saraf dan Psikologi
Dalam ilmu kedokteran saraf dan psikologi modern, fenomena yang secara religius sering disebut sebagai “kerasukan setan” dipahami bukan sebagai penguasaan oleh makhluk adikodrati, melainkan sebagai manifestasi gangguan pada fungsi otak, kondisi psikologis tertentu, atau interaksi kompleks antara faktor biologis, psikis, dan sosial-budaya.
Dari Perspektif Ilmu Kedokteran Saraf
Ilmu saraf melihat perilaku, emosi, dan kesadaran manusia sebagai hasil kerja sistem saraf pusat, terutama otak. Gejala yang kerap dikaitkan dengan kerasukan—seperti kejang, perubahan suara, kehilangan kesadaran, gerakan tak terkendali, atau perilaku agresif—dapat dijelaskan secara medis.
Beberapa kondisi neurologis yang relevan antara lain:
Epilepsi, khususnya epilepsi lobus temporal, yang dapat menimbulkan pengalaman trans, halusinasi, atau perubahan kepribadian sementara.
Gangguan kesadaran akibat cedera otak, infeksi, atau gangguan metabolik.
Dari Perspektif Psikologi
Psikologi menjelaskan fenomena kerasukan terutama melalui dinamika kejiwaan. Beberapa gangguan psikologis yang sering dikaitkan dengan pengalaman mirip kerasukan antara lain:
Dissociative Identity Disorder (DID) atau gangguan disosiatif, di mana seseorang mengalami pemisahan identitas atau kesadaran.
Gangguan konversi, ketika konflik batin diekspresikan dalam gejala fisik atau perilaku ekstrem.
Psikosis, seperti skizofrenia, yang dapat melibatkan halusinasi suara atau keyakinan kuat bahwa diri dikendalikan oleh kekuatan luar.
Dalam masyarakat religius, pengalaman psikis yang intens sering ditafsirkan dengan bahasa spiritual, termasuk kerasukan setan.
Dari Perspektif Budaya dan Keyakinan
Baik ilmu saraf maupun psikologi mengakui bahwa budaya dan sistem kepercayaan sangat memengaruhi cara seseorang mengalami dan menafsirkan gangguan mental. Fenomena yang sama dapat dipahami sebagai gangguan klinis dalam budaya medis modern, namun ditafsirkan sebagai kerasukan dalam kerangka religius tradisional. Penafsiran ini memengaruhi bentuk gejala, respons sosial, dan cara penanganannya.
Pendekatan medis dan psikologis menekankan diagnosis yang tepat, terapi psikologis, serta pengobatan bila diperlukan. Dalam praktik pastoral atau religius, pendekatan ini tidak harus dipertentangkan dengan iman, melainkan dapat saling melengkapi demi pemulihan manusia secara utuh.
Kesimpulan
Menurut ilmu kedokteran saraf dan psikologi, kerasukan setan dipahami sebagai istilah religius untuk fenomena gangguan neurologis dan psikologis tertentu. Penjelasan ilmiah ini tidak bertujuan meniadakan iman, tetapi membantu memahami mekanisme biologis dan psikis di balik pengalaman manusia, sehingga penderita dapat ditangani secara manusiawi, rasional, dan bertanggung jawab.
Maka, apa pun pemahamannya – kerasukan setan sebagai gejala supranatural atau karena gejala natural saja — pengusiran setan sebagaimana diceritakan melalui. Injil tidak perlu dipertentangkan karena fungsinya sebagai tanda kehadiran Kerajaan Allah yang memulihkan relasi manusia dengan Allah. Tentu.sebagai orang kristiani tetap rasional, ” kerasukan setan” harus ditangani secara medis secara rasional, tidak cukup hanya dengan doa- doa dan penumpangan tangan.

Paul Subiyanto

Dr.Paulus Subiyanto,M.Hum --Dosen Bahasa Inggris di Politeknik Negeri Bali ; Penulis buku dan artikel; Owner of Multi-Q School Bal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *