#13 – Terbukti, Contoh Memang Mudah Ditiru

#13 – Terbukti, Contoh Memang Mudah Ditiru

SERIAL DIUBAH DAN MENGUBAH DIRI

#13 – Terbukti, Contoh Memang Mudah Ditiru

Pernyataan: Artikel ringkas berupa serial (bersambung) ini hanyalah sebagai ungkapan syukur yang menghadirkan catatan pengalaman perubahan diri, karena penulis meyakini sejatinya tiap pribadi “dilahirkan baik adanya”. Oleh sebab itu, diri sendiri, pergaulan, sekolah, lingkungan, dan keluarga punya kontribusi menjaga setiap pribadi agar berguna bagi sesama.

-0-

Masih saya ingat, dari yang biasanya diantar motoran atau kendaraan umum, pertama kali melepas putri bungsu naik motor sendiri ke sekolah. Satu dua hari masih saya ikuti dari belakang, hingga saya lepas sendiri menempuh jarak dari Condongcatur hingga Muja Muju. Setelah beberapa hari berkendara sendiri, dia bercerita, “Aku tadi mau jatuh, di perempatan APMD …” belum sempat saya tanya, dia melanjutkan “… aku niru bapak, pas lampu merah tidak berhenti, tapi belok kiri, lalu mbalik, nah, aku mau jatuh.”

Yang spontan pertama muncul di benak saya, bukan khawatir akibat seandainya jatuh sungguh. Penyesalan akan anak yang meniru kelakukan orang tua inilah yang membekas panjang dalam ingatan saya. Ternyata, anak-anak di boncengan motor atau di samping kemudi diam-diam menyimpan “ajaran di jalanan” yang dilakukan bapak atau ibunya. Belok kiri lantas balik kanan saat lampu merah pun dicoba anak, sebagai ingatan yang banyak kali dilakukan bapaknya. Bayangkan, apa yang mengendap di ingatan anak-anak yang membonceng orang tuanya di jalanan menerobos lampu merah, mengumpat-umpat saat situasi tak enak menimpa padatnya lalu-lintas,  atau memacu kendaraan sembari zig-zag di keramaian jalanan pagi?

Jangan-jangan kelakuan anak-anak kita atau orang-orang muda sekadar “imitasi” perilaku orang-orang dewasa yang terjumpai di sekitarnya? Rendahnya kemauan membaca para murid, bisa jadi itu imitasi gurunya yang tak pernah menunjukkan diri sebagai guru yang kaya bacaan. Jika itu terjadi di rumah, pasti para orang tua tak pernah punya saldo waktu untuk duduk membaca sekadar menjadi contoh bagi anak-anaknya.

Belajar dari “perempatan APMD” di awal cerita ini, saya meyakini bahwa contoh alias teladan menjadi salah satu cara mendidik. Ada satu pertanyaan murid di akhir tahun ajaran tempo hari, “Nilai hidup apa yang Bapak perjuangkan terus? Saya jawab dengan satu kata, “Integritas”. Yeach, integer, integritas, artinya utuh – yang dipikirkan selaras dengan yang diomongkan, sejalan pula dengan tindakan. Sama-sama meninggalkan ingatan bagi anak atau murid, seyogyanya yang baik-baik saja. Biarlah anak-anak menjadi “imitasi” kebaikan. ***

St. Kartono

St. Kartono

St. Kartono – Kolumnis pendidikan mengkorankan lebih dari 650 artikel, pembicara di lebih dari 750 forum, dosen, penulis 15 buku diantaranya Sekolah Bukan Pasar (Buku KOMPAS, 2009), Menjadi Guru untuk Muridku (Kanisius, 2011), Menjadi Guru Berjiwa Merdeka (Aseni, 2024).

2 thoughts on “#13 – Terbukti, Contoh Memang Mudah Ditiru

  1. Sebagai ayah, saya punya pengalaman yang hampir sama dengan Mas Kartono. Waktu saya memboncengkan anak ke sekolah, dari Gentan ke SD Marsudirini Purbayan Solo, saya mengajak anak berdoa:”Tuhan lindungilah kami dalam perjalanan. Amin. Santo Fransiskus Xaverius, doakan kami. Santa Theresia, doakan kami. Santa Bernadeta, doakan kami. Ini adalah santo santa pelindung keluarga inti kami.
    Lalu kami dengan anak melanjutkan menyebut nama santo santa yang ada di keluarga besar kami.
    Dalam perjalanan “mboncengke” saya bertanya pada anak saya: bahasa inggrisnya ‘pohon’ anak saya menjawab ‘tree’, bahasa inggrisnya ‘sepeda’ anak saya menjawab ‘bicycle’.
    Mboncengke, selama ngantar anak menjadi saat yang bermakna bagi orang tua dan anak untuk melakukan dialog dan memberikan latihan-latihan kesederhanaan: doa, belajar dari apa yang dijumpai dalam perjalanan. Terima kasih boleh sharing.
    🙏

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *