Dilema : Tetap Berpuasa atau Berpesta Bersama Dengan Mempelai Laki-Laki?

Dilema : Tetap Berpuasa atau Berpesta Bersama Dengan Mempelai Laki-Laki?

Oleh Andre Sumariyatmo

Renungan Senin, 19 Januari 2026
Injil Markus 2 : 18 – 22

Ibu bapak dan saudara-saudari yang terkasih dalam Yesus Kristus.

“Jawab Yesus kepada mereka :”Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berpuasa sedang mempelai itu bersama mereka? Selama mempelai itu bersama mereka, mereka tidak dapat berpuasa. Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka, dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa”(ayat 19 – 20).

Pesan Injil hari ini bisa menimbulkan kebingungan kita. Mengapa? Dalam ajaran agama katolik ada perintah Allah untuk berpuasa. Tentunya masa berpuasa ini kita jalani dengan penuhkesadaran. Kita juga terdorong menghormati mereka yang berpuasa. Kepatuhan ini tentunya baik dan diharapkan dapat memberikan rahmat serta peneguhan iman bahwa puasa mau dihayati sebagai ibadah, ungkapan iman kepada Allah yang maha kuasa. Menjalankan puasa sebagai wujud konkrit menahan atau mengontrol diri dari keinginan daging. Dalam tradisi kristen ada istilah ugahari artinya hidup dalam kesederhanaan, kewajaran atau pengosongan diri artinya pengorbanan total sebagai wujud kasih yang total seperti Tuhan Yesus.

Yesus dituduh tidak menegur para rasul.yang tidak berpuasa, malah membiarkan untuk menikmati makan dan minum dalam pesta perkawinan. Tuduhan ini betul atau salah? Terhadap tuduhan ini Tuhan Yesus tegas memberikan jawaban bahwa masalah puasa.atau tidak, harus dilihat dalam konteksnya. Mempelai laki-laki ini dimaksudkan menunjuk pada kehadiran Tuhan Yesus yang memiliki kuasa di surga dan di bumi. Tentunya siapapun yang diundang dalam pesta oleh Tuhan bagaikan perjamuan surgawi maka tidak berlaku hukum duniawi atau manusiawi, tidak berlaku hukum puasa. Singkatnya diundang atau bersama dengan Tuhan hendaknya hati kita bersuka cita dan menerima kedamaian. Baru ketika Tuhan kembali ke Surga, meninggalkan dunia, baru berlakulah hukum duniawi yang diwujudkan ketaatan menjalani puasa.

Menyinggung pelaksanaan puasa, Tuhan Yesus juga memberikan pesan supaya kita tidak pamer, menjaga muka kita tetap berseri-seri, tidak muram, memakai minyak rambut dan mencuci muka. Tuhan yang berada di tempat yang bersembunyi tentu mengetahui tindakan puasa kita dan akan membalas dengan kelimpahan rahmat-Nya (lihat Matius 6 : 16 – 18). Amin. Tuhan memberkati.

Doa : Tuhan Yesus, dengan jujur kami mengakui bila kami berpuasa sering kami tergoda untuk melakukan karena kewajiban bahkan ada keinginan mempertontonkan diri. Semoga berkat bimbingan Roh Kudus kami bisa membarui diri untuk lebih rendah hati dan jujur melakukan puasa sebagai wujud pertobatan dan penguasaan diri. Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami. Amin.

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *