Puasa Menurut Yesus dan dalam Tradisi Yahudi

Puasa Menurut Yesus dan dalam Tradisi Yahudi

Dalam tradisi mana pun, praktik asketisme seperti puasa matiraga,bertapa,tirakat selalu ada sebagau praktik religius yang sangat penting, termasuk dalam tradisi Yahudi dan juga mendapat penegasan makna baru dalam ajaran Yesus. Keduanya saling berkaitan erat, sebab Yesus hidup dan bertumbuh dalam konteks iman Yahudi.
Puasa dalam Tradisi Yahudi
Dalam tradisi Yahudi, puasa terutama dipahami sebagai ungkapan pertobatan, penyesalan dosa, dan kerendahan hati di hadapan Allah. Puasa bukan sekadar menahan diri dari makan dan minum, melainkan sikap batin untuk kembali kepada Tuhan.
Puasa paling utama adalah pada Hari Raya Pendamaian (Yom Kippur), ketika seluruh umat Israel berpuasa sebagai tanda penyesalan kolektif dan memohon pengampunan Allah (Imamat 16:29–31). Selain itu, puasa juga dilakukan dalam situasi krisis, bencana, atau ancaman, misalnya ketika bangsa Israel menghadapi bahaya perang (Yoel 2:12–15). Para nabi menekankan bahwa puasa sejati harus disertai keadilan sosial, belas kasih, dan perubahan hidup, bukan sekadar ritual lahiriah (Yesaya 58:3–7).
Puasa Menurut Yesus
Yesus menerima praktik puasa sebagai bagian dari kehidupan rohani, tetapi Ia mengoreksi motivasi dan cara berpuasa. Dalam Khotbah di Bukit, Yesus berkata:
“Apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik” (Matius 6:16).
Bagi Yesus, puasa tidak boleh dijadikan sarana pamer kesalehan atau mencari pujian manusia, melainkan relasi pribadi yang tulus dengan Allah.
Yesus sendiri berpuasa selama empat puluh hari di padang gurun sebelum memulai karya-Nya (Matius 4:1–2). Puasa ini menegaskan ketergantungan total kepada Allah dan kesiapan untuk melaksanakan kehendak-Nya. Dalam ajaran-Nya, Yesus menempatkan puasa sebagai sarana pembentukan batin, yang harus berjalan seiring dengan doa, kejujuran hati, dan kasih kepada sesama.
Kesimpulan
Baik dalam tradisi Yahudi maupun dalam ajaran Yesus, puasa memiliki makna yang mendalam: pertobatan, kerendahan hati, dan pembaruan relasi dengan Allah. Yesus tidak menolak puasa, tetapi memurnikannya dari sikap lahiriah dan formalistik. Puasa sejati, menurut Yesus, adalah puasa yang lahir dari hati yang tulus dan diwujudkan dalam kehidupan yang penuh kasih, keadilan, dan ketaatan kepada Allah.

Paul Subiyanto

Dr.Paulus Subiyanto,M.Hum --Dosen Bahasa Inggris di Politeknik Negeri Bali ; Penulis buku dan artikel; Owner of Multi-Q School Bal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *