“HARI SABAT UNTUK MANUSIA BUKAN MANUSIA UNTUK HARI SABAT”

“HARI SABAT UNTUK MANUSIA BUKAN MANUSIA UNTUK HARI SABAT”

Oleh : ANSGARIUS HARI 45 WIJAYA

RENUNGAN, SELASA 20 JANUARI 2026

MARKUS 2: 23-28
Markus 2:23-28 menceritakan Yesus dan murid-murid-Nya memetik gandum pada hari Sabat, yang ditegur oleh orang Farisi karena dianggap melanggar hukum, lalu Yesus menjelaskan bahwa “Hari Sabat diadakan untuk manusia, dan bukan manusia untuk hari Sabat,” menunjukkan bahwa kasih karunia dan kebutuhan manusia lebih utama dari aturan Sabat yang kaku, dan menegaskan otoritas-Nya sebagai Tuhan atas hari Sabat itu sendiri.


Aturan-aturan ritual keagamaan penting. Tetapi bukan satu-satunya. Ada ketentuan yang mendasar yang menyentuh hajat kehidupan manusia pada umumnya. Mendesak dan penting karena menyangkut hidup dan matinya manusia. Dalam konteks bacaan hari ini – para murid memerlukan makan. Dan mereka makan dari bulir-bulir gandum yang dipetik begitu saja dalam perjalanan mereka di tengah ladang gandum, kebetulan di hari Sabat.


Dalam konteks zaman sekarang mungkin saja ditemukan dalam suatu peristiwa dimana ada orang yang membutuhkan pertolongan karena mengalami kecelakaan di jalan – mendesak untuk ditolong, ada anggota keluarga yang sakit dan butuh pertolongan segera, ada tetangga yang yang sedang berduka karena anggota keluarganya ada yang sakit keras atau meninggal dunia. Akankah kita tetap mementingkan ibadat ke gereja atau kita akan mengutamakan lebih dahulu untuk memberikan pertolongan yang mendesak menangani anggota keluarga atau berbela rasa kepada tetangga yang sakit keras – berduka dan menunda pergi beribadat ke gereja?

Kadang ada orang yang kaku – mementingkan untuk melakukan ritual keagamaan daripada berbela rasa. Bahkan menggunakan alasan beribadah – menyangka ibadah nilainya lebih tinggi karena menyangkut relasi personal seseorang dengan Tuhannya daripada relasi sosialnya dengan manusia dan lingkungannya. Kisah hari ini kiranya menjadi kritik keras atas pandangan yang demikian. Apalagi jika alasan peribadatan itu hanya cara orang untuk menyembunyikan diri dari kewajiban keterlibatannya dengan sesama yang membutuhkan. Membangun citra kesalehan karena memetingkan relasinya kepada Tuhan. Pada hal relasi dengan Tuhan yang tidak tampak – semestinya juga diwujudkan dalam relasinya untuk berbelas kasih – berbela rasa dengan sesama yang sakit dan berduka untuk mendapatkan perhatian. Dengan perbuatan itu akan menampakkan wajah Tuhan yang berbelas kasih kepada sesama. Perbuatan itu kiranya lebih sesuai dengan sabda Tuhan dalam kisah yang kita baca pada hari ini.
Teguran orang Farisi yang mengutamakan ritual keagamaan demi kesalehan mendapat respons dari Yesus yang membela para murid-Nya. “Hari Sabat diadakan untuk manusia, dan bukan manusia untuk hari Sabat,”


Semoga kita dapat membedakan mana yang inti dari ajaran kasih dan mana yang hanya bungkus kesalehan dan kemunafikan dalam menjalankan ibadah kita kepada Tuhan.
Doa. Tuhan bantulah kami mewujudkan kesungguhan hati dalam beribadah kepada-Mu dengan perbuatan kasih yang bukan pencitraan kesalehan bagi diri sendiri yang kosong bagi kasih terhadap sesama yang mendesak untuk diperhatikan.


Srengseng Sawah Jagakarsa, Jakarta Selatan, 13 Januari 2026

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *