Zina menurut Pandangan Yahudi dan Yesus
Salah satu kisah yang cukup fenomenal dalam Injil adalah tentang sikap Yesus terhadap perempuan yang berzina. Tak bisa dihindari terkesan Yesus ” membela” pezina, maka perlu melihat fenomena ini secara lebih utuh.
Zina dalam Tradisi Yahudi
Dalam tradisi Yahudi, zina dipahami sebagai pelanggaran serius terhadap hukum Taurat. Perintah ketujuh dengan tegas menyatakan, “Jangan berzina” (Keluaran 20:14). Zina didefinisikan terutama sebagai hubungan seksual antara seorang laki-laki dengan perempuan yang sudah bersuami. Tindakan ini tidak hanya merusak kesucian pernikahan, tetapi juga mengganggu tatanan sosial dan religius umat Israel.
Hukum Taurat menetapkan hukuman yang sangat berat bagi pelaku zina, yakni hukuman mati (Imamat 20:10; Ulangan 22:22). Penekanan utamanya bersifat yuridis dan eksternal: zina adalah tindakan nyata yang melanggar hukum Allah dan harus ditindak demi menjaga kekudusan umat.
Pandangan Yesus tentang Zina
Yesus tidak meniadakan hukum Taurat, tetapi Ia menafsirkannya secara lebih mendalam dan radikal. Dalam Khotbah di Bukit, Yesus berkata:
“Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzina dengan dia di dalam hatinya” (Matius 5:28).
Dengan pernyataan ini, Yesus memindahkan fokus dari sekadar perbuatan lahiriah kepada sikap batin dan kemurnian hati. Zina bukan hanya soal tindakan fisik, tetapi juga soal hasrat dan niat yang tidak tertata.
Dalam kisah perempuan yang tertangkap berzina (Yohanes 8:1–11), Yesus juga menampilkan wajah belas kasih Allah. Ia tidak membenarkan dosa, tetapi menolak penghukuman yang tidak disertai pertobatan dan kerendahan hati. Sabda-Nya, “Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah dan jangan berbuat dosa lagi,” menunjukkan keseimbangan antara kebenaran dan belas kasih.
Perbandingan Singkat
Tradisi Yahudi menekankan zina sebagai pelanggaran hukum yang harus dihukum demi keadilan dan kekudusan komunitas. Yesus melangkah lebih jauh dengan menegaskan akar terdalam dari zina, yaitu hati manusia, sekaligus membuka jalan pertobatan melalui pengampunan.
Dengan demikian, ajaran Yesus tidak meniadakan hukum Yahudi, tetapi menyempurnakannya: dari hukum yang tertulis menuju pertobatan batin, dari penghukuman menuju pemulihan relasi dengan Allah.


pelajaran keren