Nasionalisme Gaya Baru, Melampaui Gincu dan Seremoni

Nasionalisme Gaya Baru, Melampaui Gincu dan Seremoni

Nasionalisme bukan cuma soal hafal Pancasila atau isi stadion, tapi soal aksi nyata & kritik jujur. Yuk, bedah makna Nasionalisme Gaya Baru di sini!

Baru-baru ini, sebuah bacaan liturgis mengetengahkan topik yang menarik: tentang siapa sebenarnya “saudara-saudari” Yesus. Perdebatan teologis sering kali terjebak pada definisi teknis—apakah mereka saudara kandung, tiri, atau kerabat? Namun, esensinya sebenarnya bukan pada hubungan darah, melainkan pada kesamaan visi dan perbuatan. Analogi ini terasa sangat relevan ketika kita bicara soal nasionalisme di tanah air belakangan ini.

Sering kali, nasionalisme dikerdilkan menjadi sekadar tontonan atau label yang ditempelkan oleh penguasa kepada rakyatnya. Kita melihat fenomena ini ketika seorang elite politik menuding rendahnya nasionalisme publik hanya karena stadion sepi saat tim nasional bertanding. Logikanya dangkal: datang ke stadion sama dengan cinta tanah air; absen berarti pengkhianat.

Padahal, realitanya jauh lebih kompleks. Stadion yang kosong bisa jadi adalah sebuah protes bisu. Bagaimana mungkin penggemar diminta bersorak ketika di saat yang sama, pengelola federasi memecat pelatih yang dicintai tanpa alasan transparan? Mengosongkan stadion dalam konteks ini justru merupakan bentuk nasionalisme kritis—sebuah upaya menjaga integritas olahraga dari tangan-tangan yang dianggap tidak kompeten. Kecewa pada pengelolaan negara atau organisasi bukan berarti tidak cinta; justru karena terlalu cinta, kita tidak ingin melihatnya dikelola dengan serampangan.

Jebakan “Negeri Seremoni”

Kita sedang terjebak dalam budaya “Negeri Seremoni dan Hafalan”. Di sekolah hingga instansi pemerintahan, nasionalisme diukur dari seberapa tegak seseorang berdiri saat upacara, seberapa lantang menyanyikan lagu kebangsaan, atau seberapa hafal mereka pada butir-butir Pancasila di luar kepala.

Namun, sejarah dan realitas sosial membuktikan bahwa hafal tidak sama dengan mengamalkan. Kita sering kali gagap saat nilai-nilai tersebut harus diterjemahkan ke dalam tindakan nyata. Nasionalisme hafalan adalah nasionalisme kosmetik—terlihat cantik di permukaan, namun luntur saat terkena keringat konflik kepentingan.

Ambil contoh oknum di lingkungan militer atau aparat. Secara doktrin, mereka adalah garda terdepan nasionalisme. Mereka disiplin, teratur, dan hafal setiap tata upacara. Namun, ketika kita melihat arogansi di jalanan, keterlibatan dalam konflik agraria melawan rakyat sendiri, atau pelanggaran aturan demi kepentingan pribadi, di mana letak nasionalisme itu? Jika nasionalisme sejati adalah tentang pengabdian pada bangsa dan negara (yang isinya adalah rakyat), maka tindakan menindas rakyat adalah bentuk pengkhianatan terhadap nilai nasionalisme itu sendiri, seberapa pun sering mereka memberi hormat pada bendera.

Nasionalisme adalah Kritik

Elite negeri juga kerap menggunakan kartu “tidak nasionalis” untuk membungkam mereka yang kritis atau yang merasa jengkel dengan kondisi negara. Ketika ada warga yang berkata, “Lebih baik kabur dulu,” itu sering kali bukan pernyataan menyerah, melainkan ekspresi kejengkelan yang memuncak atas masalah sistemik yang tak kunjung selesai—mulai dari korupsi yang menggila hingga ketidakadilan hukum.

Mengatakan bahwa “semua baik-baik saja” di tengah kondisi yang carut-marut adalah pembohongan publik. Nasionalisme gaya baru justru menuntut kejujuran. Mencintai negara berarti berani mengakui borok-borok yang ada agar bisa diobati, bukan malah menutupinya dengan narasi-narasi manis yang semu.

Menuju Nasionalisme Substansial

Nasionalisme gaya baru tidak membutuhkan validasi dari teriakan di stadion atau barisan upacara yang rapi. Nasionalisme ini hidup dalam:

  • Ketaatan pada aturan bersama tanpa merasa lebih tinggi dari hukum.
  • Empati sosial kepada sesama warga negara yang tertindas.
  • Keberanian untuk mengkritik demi perbaikan institusi negara.

Sudah saatnya kita berhenti menilai kadar cinta tanah air seseorang dari formalitas belaka. Seperti halnya makna “saudara” dalam bacaan liturgis yang melampaui ikatan darah, nasionalisme juga melampaui sekadar simbol. Ia adalah kata kerja. Ia adalah tindakan nyata untuk hidup bersama dengan baik, menaati aturan, dan menjaga martabat bangsa—bukan dengan hafalan, melainkan dengan seluruh jiwa dan raga yang berintegritas.

Salam JMJ

Susy Haryawan

Susy Haryawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *