MENDIDIK ITU BUKAN MEMBENTUK
Di tangan seorang pematung, sebongkah kayu bisa diubah menjadi mahakarya sebuah patung . Ketika ditanya, bagaimana ia membentuk patung nan indah itu? Seniman itu menjawab, ” Yang saya lakukan hanya membuang bagian- bagian yang tidak diperlukan, sehingga patung itu muncul dengan sendirinya. Saya tidak membentuk apa- apa! ”
Akhir- akhir ini kita diprihatinkan dengan maraknya kasus ” kriminalisasi”– guru melakukan teguran keras atau tamparan terhadap siswa yang berujung pada laporan polisi dan lanjut jadi tersangka. Reaksi netizen pun terbelah- yang pro sah- sah saja tamparan itu dilakukan dalam konteks mendidik atau membentuk karakter dan yang kontra kekeh dengan pendapat apa pun kekerasan itu tindakan kriminal.
Tulisan ini tidak berpihak pada salah satu kubu, namun ingin melihat lebih dalam mengapa itu bisa terjadi, terutama dari pihak guru. Kalau dari pihak siswa bisa dipastikan memang perilakunya “menyimpang” karena mustahil guru melakukan kekerasan pada anak baik- baik saja.
Guru juga manusia yang memiliki emosi tetapi juga harapan besar agar anak didiknya bisa menjadi seperti yang diinginkan. Paradigma mendidik itu mencetak, menghasilkan, membentuk, bahkan memproduksi masih sangat kuat. Akibatnya, ketika menghadapi anak yang menyimpang dari kriteria ” anak yang saya harapkan”, emosi pun tak terkendali. Guru lupa bahwa setiap pribadi lah yang bertanggungjawab atas dirinya sendiri. Tidak ada yang bisa dan berhak mengubah atau membentuk seseorang termasuk orangtuanya sendiri, bahkan Tuhan pun tidak mau memaksakan kehendak-Nya agar manusia berubah. Guru juga tidak perlu posesif atau obsesif sehingga menjadi reaktif. Bersikap bebas, tidak terpengaruh oleh perilaku menyimpang siswa.
Yang dibutuhkan adalah menanamkan kesadaran sekaligus menjalankan bahwa anak harus bertanggungjawab terhadap perbuatan dan risikonya. Jika siswa tidak ikut ulangan maka nilai jelek, jika nilai jelek maka tidak naik kelas. Ini logika sederhana, tapi apa yang terjadi? Sistem atau aturan yang seolah membuat setiap siswa harus naik atau lulus, tidak boleh ada nilai di bawah KKM. Inilah biang kerok jatuhnya martabat dan wibawa guru karena anak- anak yang perilakunya menyimpang tahu persis tetap akan naik/ lulus. Mereka dengan leluasa bisa melecehkan guru- guru yang serius ingin membentuk dan mencetak. Dan aturan ini berlaku dari level TK sampai PT. Semakin guru bersemangat ingin membentuk semakin ia frustrasi dan semakin tidak mampu mengendalikan emosi dengan dalih mendidik. Guru ibarat tentara maju perang hanya bersenjatakan peluit !
Paul. S


ideologi, politik, membuat kacau dunia pendidikan
salam JMJ