Memento Mori: Ingatlah akan Kematianmu!
Memento Mori: Kematian bisa datang kapan saja.
Mari maknai hidup yang singkat dengan cinta dan kebaikan.
Refleksi Kematian dan Makna Hidup
Ungkapan dalam bahasa Latin ini bukan sekadar deretan huruf kuno yang menghuni buku-buku teologi. Bagi saya, Memento Mori adalah gema yang terus terngiang dalam benak. Saya teringat masa-masa di seminari dulu, saat seorang Romo yang memimpin Ekaristi bertanya dalam khotbahnya mengenai arti ungkapan tersebut. Saat itu, saya terdiam. Beliau mencoba membantu dengan merujuk pada kalimat-kalimat yang sering terpahat di batu nisan makam tua, namun saya tetap tidak tahu. Kini, setelah bertahun-tahun berlalu, kehidupan itu sendiri yang menjadi guru dan menjelaskan maknanya dengan cara yang paling lugas: melalui perpisahan.
Beberapa hari terakhir ini, saya seolah dipaksa menyaksikan wajah kematian dari berbagai sisi. Ia datang dalam sunyi, dalam keterkejutan, bahkan dalam sosok makhluk tak bersuara.
Kematian yang Sunyi dan Rapuh
Dua hari lalu, tetangga depan rumah saya meninggal dunia. Beliau wafat dalam usia yang sangat sepuh. Secara logika, kematiannya “wajar”, namun cara ia pergi menyisakan sebuah ironi yang tragis. Ia mengembuskan napas terakhir dalam kesendirian yang singkat. Anak yang biasanya dengan setia menjaga, sedang pulang sebentar ke rumah sendiri. Entah mengapa, si Bapak memutuskan ke kamar mandi sendirian, lalu terjatuh di sana.
Saat anaknya kembali, rumah terasa terlalu sepi. Setelah dicari, ia menemukan ayahnya tergeletak tak bernyawa. Teriakan histeris pecah, membelah keheningan lingkungan kami. Saya, sebagai tetangga terdekat, langsung berlari tanpa tahu apa yang terjadi. Kami mengangkat tubuh ringkih itu dan membaringkannya di kasur. Tak lama, menantunya datang dan mengonfirmasi bahwa beliau telah tiada.
Peristiwa ini menjadi pengingat keras bagi saya tentang betapa rapuhnya eksistensi manusia. Sekuat apa pun kita di masa muda, pada akhirnya kita adalah makhluk yang saling tergantung. Kita butuh orang lain bahkan hanya untuk sekadar memindahkan tubuh kita dari lantai dingin ke tempat tidur yang layak saat nyawa sudah lepas. Kita perlu orang lain untuk tetap “menjadi manusia” hingga liang lahat.
Perginya Sang Guru
Belum kering rasa duka di depan rumah, kemarin siang sebuah kabar duka kembali datang. Seorang guru dan pembimbing saya seperempat abad lalu berpulang. Usianya masih relatif muda, awal 60-an. Rekan-rekan seasrama dulu banyak yang tidak percaya. Beliau bukan tipe orang yang sering keluar-masuk rumah sakit; ia tampak sehat dan bugar.
Membaca pesan-pesan di grup percakapan, kematiannya terasa begitu “ringan” dan tenang. Beliau berpulang tepat setelah menyelesaikan tugasnya memimpin misa dan beristirahat. Semudah itu. Persis seperti kisah mendiang ayahnya, yang sering beliau ceritakan: tanpa sakit berkepanjangan, pulang begitu saja saat tugas di dunia dianggap usai. Kematian seperti ini adalah sebuah rahmat, namun bagi yang ditinggalkan, ia tetaplah sebuah pengingat bahwa maut tidak mengenal antrean usia.
Jejak Si Belang: Kematian Makhluk Allah
Bahkan dalam dunia hewan pun, Memento Mori menampakkan dirinya. Pagi tadi, saya kehilangan si belang, kucing “buangan” tetangga yang datang ke rumah kami dua tahun lalu. Meskipun hanya seekor kucing, ia adalah makhluk Allah yang kehadirannya memberi warna.
Si belang punya sejarah yang unik. Ia pernah jatuh ke sumur tengah malam saat saya sedang bersiap melayat tetangga. Separuh malam dan setengah hari ia habiskan di sumur. Ia bertahan di ceruk dinding sumur, menolak untuk menyerah pada air. Pagi ini, ia pulang dari perjalanannya dengan ceria, bahkan sempat bercanda lari menabrak kaki saya. Namun, tak lama kemudian, ia berteriak dengan mulut berbusa. Ia mati sebelum tengah hari, kemungkinan besar karena racun yang tidak sengaja ia makan di luar.
Kematian bisa datang kapan saja, kepada siapa saja. Tidak bisa diminta, tidak pula bisa ditolak. Falsafah Jawa merangkumnya dengan sangat indah: Urip mung mampir ngombe—hidup hanyalah sekadar mampir untuk minum. Singkat, sementara, dan akan terus melanjutkan perjalanan.
Hidup yang Bermakna: Melampaui Kedangkalan
Jika hidup memang sesingkat “mampir minum”, pertanyaannya adalah: apa yang kita lakukan saat sedang mampir? Allah menciptakan setiap makhluk dengan maksud tertentu. Tidak ada kesia-siaan dalam kisah penciptaan, baik itu manusia maupun hewan.
Ulat yang hidupnya sangat singkat memiliki tugas untuk menjadi kepompong dan akhirnya menjelma menjadi kupu-kupu yang indah. Jika ulat saja memiliki guna bagi ekosistem, apalagi manusia yang dianugerahi akal budi dan kemuliaan? Namun, tantangan terbesar kita saat ini adalah dunia yang penuh dengan “kedangkalan”. Kita hidup di era viralisme dan pemujaan terhadap popularitas materi. Dalam hiruk-pikuk tersebut, manusia sering kali abai pada tugas perutusannya. Orientasi kita menjadi sempit pada akumulasi materi, sehingga kita sering kehilangan empati terhadap sesama manusia.
Bagaimana kita bisa bicara tentang spiritualitas yang memerlukan keheningan, sementara dunia menuntut kita untuk selalu cepat dan berisik? Jawabannya sederhana: kembali kepada Hukum Kasih.
Tiga Pilar Kasih
Untuk menjalani hidup yang tidak sia-sia sebelum ajal menjemput, kita perlu menjaga keseimbangan dalam tiga hal:
- Kasih kepada Allah: Melalui ibadah dan kepasrahan. Namun, kasih kepada Allah tanpa menghormati kemanusiaan hanya akan melahirkan fanatisme yang kejam.
- Kasih kepada Sesama: Mencintai sesama seperti mencintai diri sendiri. Tanpa landasan spiritual, kasih pada manusia bisa menjadi obsesif dan merusak kesehatan mental.
- Hormat pada Ibu Bumi: Alam lingkungan telah memberi kita kehidupan. Kisah penciptaan menyebutkan bumi diciptakan untuk manusia, namun bukan untuk dieksploitasi secara membabi buta. Merusak alam adalah bentuk pengabaian terhadap hukum kasih itu sendiri.
Kematian adalah kepastian, namun cara kita mengisi waktu sebelum “minum” kita usai adalah pilihan. Memento Mori bukanlah ajakan untuk takut pada kematian, melainkan undangan untuk merayakan kehidupan dengan melakukan kebaikan. Jangan sampai saat kita pergi nanti, kita hanya diingat karena keburukan atau kekosongan makna. Hiduplah sedemikian rupa sehingga ketika saatnya tiba bagi kita untuk “pulang begitu saja”, dunia menjadi sedikit lebih baik karena kita pernah ada di dalamnya.
Salam JMJ
Susy Haryawan

