KESOMBONGAN MENUTUP MATA HATI TERHADAP KEBAIKAN ORANG LAIN DAN KARYA TUHAN
Oleh Y. Haryanto
Renungan Harian, Senin, 16 Februari 2026
Injil: Markus 8:11-13
“Lalu muncullah orang-orang Farisi dan bersoal-jawab dengan Yesus. Untuk mencobai Dia mereka meminta dari padaNya suatu tanda dari sorga.”(Markus 8:11)
RENUNGAN:
Bapak, Ibu, Saudara/i terkasih dalam Kristus, Berkah Dalem, Tuhan memberkati kita semua !
Hari ini dua hari menjelang Rabu Abu. Dalam banyak WAG “Katolik” telah beredar jadwal Misa Rabu Abu. Suatu ajakan simpatik untuk bersama-sama memasuki masa pantang dan puasa Pra-Paskah, memasuki masa pertobatan. Bukan kebetulan bila Injil hari ini mengundang kita untuk merenungkan perilaku sombong orang-orang Farisi. Kita diundang untuk bercermin, memeriksa diri kita, melihat dengan jujur dan rendah hati perilaku kita dalam berrelasi dengan sesama dan Tuhan: sombongkah ? tindakan manakah perlu kita ambil guna memperbaiki diri dalam rangka menyongsong perayaan Paskah tahun ini dengan baik ?
Orang-orang Farisi sebagaimana dikisahkan Markus dalam kutipan Injil yang kita dengarkan hari ini bersoal-jawab dengan Tuhan Yesus dan meminta suatu tanda dari sorga daripada Nya untuk mencobai Dia. Motivasi mereka adalah mencari-cari kesalahan Tuhan Yesus di mata mereka. Mereka mau menjebak Tuhan Yesus dengan pertanyaan dan permintaan mereka. Menganggap diri mereka sebagai penjaga dan pelaksana kemurnian Taurat, orang-orang Farisi menjadi arogan, terjebak dalam kesombongan. Menganggap diri mereka paling benar seraya memandang rendah Tuhan Yesus. Kesombongan mereka menutup mata hati mereka terhadap kebaikan orang lain dan terhadap Allah yang sedang berkarya menyelamatkan manusia dalam hidup dan karya Tuhan Yesus.
Manakala Tuhan Yesus memberi tanda dari sorga, maksudNya adalah menolong manusia bertemu dengan Allah , memuliakan Allah. Tuhan Yesus berbeda dari orang-orang Farisi yang gila hormat, gila pujian. Tuhan Yesus tidak mengejar pengakuan orang-orang Farisi demi pujian dan penghormatan kepada diriNya. Alih-alih menuruti permintaan mereka, Tuhan Yesus “meninggalkan mereka, naik perahu dan bertolak ke seberang”.
Di tengah-tengah situasi abai terhadap nilai, ada godaan bagi kita untuk bersikap dan berperilaku seperti orang-orang Farisi. Ada godaan menganggap diri kita sebagai penjaga dan pengamal nilai-nilai seraya memandang rendah orang-orang lain yang kita cap sebagai golongan tidak peduli terhadap perlunya menjunjung nilai-nilai. Orang-orang sombong berorientasi pada pujian dan penghormatan bagi diri mereka sendiri, lupa pada kasih terhadap sesama dan beriman kepada Tuhan.
Kita mohon bantuan rahmat pertolongan Tuhan untuk teguh memperjuangkan hidup beriman kita tanpa merendahkan orang-orang lain. Kita mohon penjernihan mata hati kita agar dapat melihat kebaikan orang lain dan Allah yang tengah berkarya menyelamatkan kita, khususnya melalui “retret agung” Pra-Paskah 2026 yang segera kita tempuh bersama.
DOA
Ya Tuhan,
anugerahi kami rahmat pertolonganMu untuk dapat menjalani laku tobat, khususnya selama masa Pra-Paskah yang segera kami tempuh.
Amin.

