Kiamat di Bukit Tembaga
Bau anyir tanah basah dan karat besi mendadak menyergap udara, disusul suara retakan raksasa yang merobek gendang telinga, seolah bukit yang telah bertahun-tahun dikuliti itu kini bangkit untuk menagih nyawa.
Hujan turun seperti tirai tebal, menampar atap seng bedeng operasi dengan beringas. Di dalam, Tirto menghisap cerutunya dalam-dalam, mengembuskan asap abu-abu yang mengaburkan pandangannya dari peta konsesi tambang. Jari telunjuknya, yang dihiasi cincin berlian sebesar biji jagung, mengetuk-ngetuk meja kayu jati dengan tidak sabar.
“Berapa ton lagi yang bisa kita keruk malam ini?” tanyanya. Suaranya serak menyaingi deru mesin pengeruk di luar jendela.
Giman, mandor lapangan yang seragamnya basah kuyup oleh peluh dan air hujan, berdiri gemetar di ambang pintu. “Tidak bisa dipaksa, Pak. Tanah di sektor timur sudah bergeser dua meter. Air sungai mendadak surut dan berbau belerang pekat. Burung-burung bahkan sudah terbang menjauh sejak sore. Bukit ini merintih, Pak, strukturnya sudah tidak kuat menahan air.”
“Persetan dengan burung-burung itu!” bentak Tirto, menggebrak meja hingga secangkir kopi hitamnya tumpah menodai cetak biru. “Kita punya tenggat waktu pengiriman besok pagi dan saham kita sedang naik! Nyalakan lampu sorot tambahan dan pecut pekerja-pekerja malas itu. Mesin tidak boleh mati sedetik pun!”
Giman menelan ludah, menatap bosnya dengan nanar. Belum sempat ia melontarkan bantahan, lantai di bawah sepatu larsnya bergoyang hebat. Bukan getaran dari mesin diesel, melainkan dengusan ritmis dari dasar perut bumi. Lampu pijar di langit-langit berkedip liar, lalu padam total, menyisakan kegelapan pekat yang membekukan darah.
Tiba-tiba, suara gemuruh yang menyerupai tabrakan ribuan kereta api kargo membelah malam. Kaca jendela pecah berkeping-keping, menghambur ke dalam ruangan bagai hujan belati.
Lumpur merah sedingin es, bercampur dengan gelondongan pohon beringin yang mati ditebang dan batu-batu sebesar gajah, menerjang masuk. Alam tak lagi diam; ia memuntahkan segala amarahnya.
“Lari, Pak!” jerit Giman, melompat menembus puing-puing pintu.
Namun, Tirto tidak bergerak menuju jalur evakuasi. Matanya membelalak panik melihat koper kulit berisi tumpukan emas batangan dan dokumen kontrak yang tergelincir ke arah pusaran lumpur.
Ia menerjang maju, mendekap koper itu sekuat tenaga ke dadanya, mengabaikan dinding bedeng yang mulai runtuh berderak-derak meremukkan tulang rusuknya.
Air bah lumpur yang pekat menggulung tubuh gempalnya, menghantamkannya ke tiang beton penopang bangunan. Rasa pahit tanah bercampur logam dan darah seketika memenuhi rongga mulutnya, mencekik paru-parunya tanpa ampun.
Di detik-detik terakhir napasnya yang tersengal di bawah impitan batu dan koper emasnya, otak Tirto masih saja mengutuk keras. Sialan, siapa yang akan mengganti rugi alat-alat beratku ini? Batinnya, tanpa sedikit pun menyadari bahwa keserakahannya sendirilah yang baru saja mengundang maut.

