Kerja Keras Misionaris yang Dimentahkan
Membangun di Atas Karang, Meruntuhkan di Atas Pasir, Saat Pendidikan dan Kesehatan Kita “Sakit”
Tinggalkan warisan di atas karang, kini kita runtuh di pasir. Saat nalar sakit, mari metanoia!
Sejarah peradaban di pelosok Nusantara sering kali dimulai bukan dari instruksi birokrasi, melainkan dari langkah kaki sunyi para misionaris yang membawa tas berisi obat-obatan dan buku abjad. Mereka datang dengan keyakinan teologis bahwa memuliakan Tuhan berarti memuliakan manusia melalui akal budi dan kesehatan raga. Namun, hari ini kita menyaksikan sebuah ironi yang getir: bangunan fisik sekolah dan rumah sakit warisan mereka mungkin masih tegak, tetapi fondasi intelektualnya sedang digerogoti oleh rayap irasionalitas. Ketika seorang dokter harus gugur oleh penyakit yang seharusnya sudah punah seperti campak, kita tidak sedang menghadapi kendala medis semata, melainkan sebuah “murtad nalar” kolektif di mana sentimen kelompok dan dogma buta lebih dipercaya ketimbang sains yang teruji.
Secara teologis, kehadiran misionaris bukan sekadar membawa dogma, melainkan manifestasi dari Teologi Inkarnasi—bahwa iman harus “menjadi daging” dalam bentuk tindakan nyata. Mereka mendirikan balai pengobatan dan sekolah sebagai bentuk sakramen yang hidup. Kini, warisan intelektual dan kemanusiaan itu seolah sedang diruntuhkan oleh ketidakmampuan kita menjaga nalar sehat yang sebenarnya adalah anugerah ilahi.
Jejak yang Terabaikan di Pedalaman
Jejak para misionaris, terutama dari Gereja Katolik, masih sangat mudah kita temui di pucuk-pucuk gunung dan pedalaman. Mereka hadir saat negara belum mampu menjangkau rakyatnya. Namun, yang lebih esensial dari sekadar bangunan fisik adalah semangat Option for the Poor (Keberpihakan pada yang Miskin). Pendidikan bagi mereka adalah alat pembebasan manusia dari kegelapan kognitif.
Sangat menyedihkan bahwa hari ini—setelah puluhan tahun merdeka—negara masih terlihat keteteran memberikan kualitas pendidikan yang setara. Kegagalan ini bukan hanya masalah administratif, tetapi kegagalan moral dalam memanusiakan manusia. Kita seolah membiarkan “talenta” jutaan anak bangsa terkubur karena ketiadaan akses, sebuah dosa struktural yang sering kita abaikan.
Krisis Logika dan Tragedi Angka IQ
Pendidikan seharusnya mengasah kemampuan berpikir logis dan kritis sebagai bentuk penghormatan terhadap Logos (Akal Budi Ilahi). Sayangnya, kita sedang mengalami krisis nalar. Fenomena “nyolot duluan” dan kebenaran yang ditentukan oleh jumlah suara massa adalah bentuk idolatri modern—pemujaan terhadap ego kelompok di atas kebenaran objektif.
Angka IQ rata-rata di bawah 80 dan peringkat PISA yang rendah adalah alarm keras. Secara teologis, mengabaikan fakta ilmiah dan data statistik demi membela diri secara defensif adalah bentuk penyangkalan terhadap realitas ciptaan. Tuhan memberikan akal budi untuk membaca “Kitab Alam” (sains), namun ketika literasi rendah, kita sebenarnya sedang menutup mata terhadap cara Tuhan bekerja melalui hukum-hukum alam yang logis.
Luka di Sektor Kesehatan: Antara Sains dan Fideisme
Sektor kesehatan pun setali tiga uang. Budaya toksik dalam pendidikan spesialis dan stres para dokter adalah bentuk pengabaian terhadap martabat pribadi manusia (Imago Dei). Kita menuntut kesembuhan, namun sistem pendidikan medis kita justru “menyakiti” para penyembuhnya sendiri.
Kekacauan ini diperparah dengan masuknya Fideisme—paham yang menganggap iman cukup tanpa butuh rasio—ke dalam dunia medis. Ketika terminologi agama abad lampau dipaksakan untuk menafikan kemajuan medis modern, kita sebenarnya sedang melakukan anakronisme teologis. Menganggap teknologi kesehatan sebagai ancaman terhadap iman, atau gerakan antivaksin yang berlindung di balik narasi keagamaan, adalah bentuk kesalehan yang sesat pikir. Iman yang benar tidak pernah bertentangan dengan akal sehat; keduanya adalah dua sayap yang membawa manusia menuju kebenaran.
Refleksi: Belajar dari Sejarah “Sebelah”
Pengalaman Gereja Katolik pada Abad Pertengahan, seperti kasus Galileo, sebenarnya adalah cermin besar. Gereja belajar bahwa sains memiliki otonominya sendiri. Memisahkan ranah agama dari intervensi teknis sains bukan berarti menjauhkan Tuhan, melainkan menempatkan segala sesuatu pada proporsinya.
Sayangnya, banyak dari kita yang enggan belajar dari sejarah agama lain karena dianggap dosa. Padahal, Refleksi Teologis membutuhkan kerendahan hati untuk mengakui bahwa kebenaran bisa ditemukan di mana saja. Mengunci diri dalam pemahaman kaku yang mengabaikan keselamatan nyawa (seperti dalam kasus campak dan antivaksin) adalah bentuk pengkhianatan terhadap prinsip agama itu sendiri yang seharusnya membawa rahmat bagi semesta.
Tanpa kemauan untuk berefleksi dan melepaskan politisasi agama dari ruang pendidikan dan kesehatan, negeri ini akan terus “sakit”. Kita butuh pertobatan intelektual (metanoia)—sebuah perubahan cara berpikir untuk kembali menghargai ilmu pengetahuan sebagai bagian dari ibadah kita kepada Sang Pencipta. Mari berhenti mementahkan kerja keras para pendahulu dengan kebodohan yang dipelihara atas nama kesucian.
Salam JMJ
Susy Haryawan

