Pesan dari Taman Getsmani
Dalam temaram, aku melihat Yesus melangkahkan kaki memasuki
taman Getsemani. Kaki-Nya mengayun pelahan. Ia merebahkan diri ke
tanah dan berdoa. Ia sempat juga berkata, “Ya Abba, ya Bapa, tidak ada
yang mustahil bagi-Mu, ambillah cawan ini dari pada-Ku, tetapi
janganlah apa yang Aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau
kehendaki.” Aku tak begitu memahami maksud ucapan-Nya. Aku
menduga, Yesus tak begitu jenak untuk diam dan berdoa. Ia gelisah.
Aku mengamati gerak-gerik Yesus. Ia mulai beranjak dari posisi doa dan
mencoba melihat sekelilingnya. Yesus mencoba menilik para pengikut-
Nya. Beberapa kali ia melakukannya, dan selalu mendapati para murid-
Nya sedang tertidur pulas. Aku iba melihat peristiwa di depan mata. Tak
ada yang dapat kulakukan selain melihat Yesus yang kembali berlutut
dan berdoa.
Yesus khusyuk dalam doa. Aku berjuang membuka kelopak mata
supaya tak tertutup dan lepas dalam tidur. Rasa kantukku kian
memuncak. Rasanya baru terpejam, dan tiba-tiba suasana hening dan
tenang berubah gaduh dan mencekam. Yesus telah berdiri di
hadapanku. “Saudara, mengapa kamu masih tidak mengenakan
maskermu?” Suara Yesus yang pelan dan tegas membuyarkan
mimpiku, membangunkan tidurku.***

