Di Luar dan Di Dalam Sama Bersihnya
Oleh: Thomas Suhardjono
Renungan Harian
Selasa, 14 Oktober 2025
Ketika Yesus selesai mengajar, seorang Farisi mengundang Dia untuk makan di rumahnya. Maka masuklah Ia ke rumah itu, lalu duduk makan. Orang Farisi itu melihat hal itu dan ia heran, karena Yesus tidak mencuci tangan-Nya sebelum makan. Tetapi Tuhan berkata kepadanya: “Kamu orang-orang Farisi, kamu membersihkan bagian luar dari cawan dan pinggan, tetapi bagian dalammu penuh rampasan dan kejahatan. Hai orang-orang bodoh, bukankah Dia yang menjadikan bagian luar, Dia juga yang menjadikan bagian dalam? Akan tetapi, berikanlah isinya sebagai sedekah dan sesungguhnya semuanya akan menjadi bersih bagimu”. (Luk 11:37-41)
Fakta yang dilihat orang Farisi, Yesus makan tidak mencuci tangan terlebih dahulu, sebagaimana yang dianjurkan dalam Taurat. Tampaknya Yesus tidak menaati hukum Taurat. Sedangkan inti ajaran Yesus adalah bahwa menaati hukum Taurat bukanlah pada permukaan atau yang kelihatan saja, melainkan isi dari aturan yang dituliskannya, karena Allah menciptakan yang kalihatan dan yang tak kelihatan, baik yang di luar maupun yang di dalam. Nilai kekudusan Allah tidak hanya yang tampak di luar, melainkan apa yang terkandung di dalamnya. Maka anjuran Yesus, yang tampak di luar itu diwujudkan dalam sedekah dan berderma, memberikan segalanya untuk sesama; sehingga yang ada di dalam adalah niat untuk bertindak bela rasa dan peduli kepada orang yang membutuhkan. Jadi, di luar maupun di dalam, sama-sama demi memanusiakan manusia, atau demi mewujudkan cinta kasih kepada sesama.
Ora Et Labora
Sering kali kita memisahkan antara kegiatan berdoa dan kegiatan bekerja. Doa ya di gereja, bernyanyi dan bersedekah mempersembahkan diri bersama persembahan Yesus di altar. Kerja ya di jalan, di perusahaan, di pabrik, tempat kita mencari sesuap nasi dan berjuang demi anak isteri. Kita memisahkan antara altar dan pasar. Ada bedanya antara hidup doa dan hidup karya. Beda jauh antara seksi Liturgi dan seksi Kerawam. Yang satu harus baik-baikan, yang lain boleh jahat-jahatan. Benarkah?
Tidak. Yesus menganjurkan baik di luar maupun di dalam, semuanya harus bersih. Kalau yang dari dalam itu bersih, di keluarkan, maka yang di luar pun akan kelihatan bersih. Yesus menekankan bahwa kekudusan sejati dimulai dari hati, pikiran, dan niat yang benar, dan bukan hanya dari ketaatan pada ritual atau penampilan luar. Kekudusan yang tulus akan terpancar dalam tindakan nyata seperti memberi sedekah kepada yang membutuhkan. Di kesempatan lain Yesus pernah mengatakan “yang dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan. Semua ini timbul dari dalam dan menajiskan orang” (Mrk 7:21-22).
Alangkah indahnya hidup ini kalau setiap hari diwarnai dengan hidup doa yang tulus, sebelum berangkat bekerja, lalu berkegiatan penuh kepedulian kepada orang lain selama bekerja. Tidak hanya rajin berdoa, melainkan juga sangat peduli pada kebutuhan sesama. Maka kegiatan altar kita akan menyucikan tindakan kita di pasar, begitu pula kegiatan di pasar menjadi persembahan sejati untuk tindakan kita di altar. Kesucian itu ada di altar dan di pasar. Ora et Labora.
Marilah berdoa,
Allah Bapa yang mahakuasa dan kekal,
Engkau tahu apa yang ada dalam hati kami, apakah kami berniat bersedekah, memberikan milik kami untuk sesama, ataukah kami hanya bermaksud memenuhi aturan saja? Engkau tahu apa yang menjadi tujuan tindakan kami setiap hari, sekedar mencari pujian, atau sungguh melayani sesam dengan tulus?
Kirimkanlah Roh KudusMu kepada kami, akan kami lebih memurnikan niat dan cita-cita kami, untuk menjadi murid Yesus yang sejati. Sebab Dialah Tuhan dan pengantara kami. Amin.

