MENELADAN KETAATAN YUSUF, SUAMI MARIA

MENELADAN KETAATAN YUSUF, SUAMI MARIA

Penulis : FA Adihendro

Renungan Harian, Kamis, 18 Desember 2025
Pekan Khusus Adven
Bacaan: Yer 23:5-8, Mzm 72:1-2.12-13.18-19, Mat 1:18-24

Saudara-saudari terkasih dalam Yesus Kristus,


Hanya penginjil Matius dan Lukas yang menceritakan kabar kelahiran Yesus. Matius lebih singkat daripada Lukas. Matius lebih menampilkan pergulatan batin Yusuf dalam menerima Maria sebagai istrinya, yang ternyata sudah mengandung oleh Roh Kudus. Sedangkan Lukas lebih menampilkan pergulatan dan dialektika Maria dengan Malaikat, yang berakhir pada sikap ketaatan Maria, sebagai hamba Tuhan. Maria percaya akan kabar yang dibawa oleh Malaikat Tuhan, yang mendatanginya, bahwa ia akan mengandung dari Roh Kudus dan akan melahirkan seorang anak yang harus dinamai “Yesus”, karena Anak ini akan menyelamatkan umat Tuhan dari dosa-dosa mereka.

Namun tidak demikian halnya dengan Yusuf. Yusuf adalah orang yang tulus hati, apa adanya; maka ia tidak ingin mencemarkan nama Maria yang mengandung tidak sebagaimana mestinya. Ada pergulatan batin dalam dirinya, yang tidak dapat diputuskan sendiri. Sehingga Tuhan membantu Yusuf untuk membuat keputusan agar bisa memahami danmau terlibat dalam misteri penyelamatan.

Saudara-saudari terkasih,


Kita kadangkala juga mengalami pergumulan batin yang sungguh berat. Kita serasa tidak mampu mengurai dan mencari jalan keluar sendiri tanpa campur tangan Tuhan. Kita menyadari bahwa persoalan hidup yang kita alami merupakan cara Tuhan mendidik kita agar bertumbuh dalam iman. Tapi kadangkala kita tidak faham akan maksud kehendak dan rencana Tuhan dalam hidup kita, karena tidak berani melepaskan gejolak pikiran kita sendiri. Lebih percaya pada rasionalitas pikiran daripada misteri penyelengaraan Ilahi. Maka marilah kita berani meneladan pribadi Yusuf, yang tidak “kekeh” mempertahankan gagasannya, melainkan berani melepas egonya dalam ketenangan. Dalam Injil Matius dikatakan malaikat Tuhan mendatangi Yusuf dalam mimpi (gambaran ketenangan) untuk membantu Yusuf membuat suatu keputusan penting. Dalam keadaan kalut pikiran, tak bijak apabila kita membuat keputusan. Letakkan semua pikiran, bawalah dalam ketenangan, dan mengeluhkan kepada Tuhan. Dia pasti akan membantu kita membuat jalan keluar yang baik, asal sesuai dengan Kehendak-Nya.

Doa : Allah Bapa, yang Maha Rahim, utuslah Roh Kudus-Mu menerangi budi pikiran kami, terlebih pada saat kami dalam keadaan kalut pikiran. Jangan biarkan kami terlempar dan jatuh ke dalam pencobaan yang tidak dapat kami tanggung. Demi Kristus, Tuhan dan Penyelamat kami. Amin.

FA Adihendro

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *