NADAR SEORANG SIMEON
Oleh FA Adihendro
Renungan harian, Senin 2 Februari 2026
Pesta Yesus Dipersembahkan di Kenisah
Injil: Lukas 2:22-40 (singkat 2:22-32)
“Yusuf dan Maria amat heran akan segala sesuatu yang dikatakan tentang Yesus” (Luk 2: 33)
NADAR berbeda dengan cita-cita. Cita-cita lebih menekan proses dan usaha yang untuk mencapainya, sedangkan nadar lebih menekankan kepada kesetiaan, kesabaraan dan pengharapan. Nadar seorang Simeon dalam bacaan Injil hari ini, berbunyi :“Sekarang Tuhan, biaarkanlah hamba-Mu ini pergi (berpulang-red)dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi pernyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel” (ay 29).
Sesungguhnya dalam pengalaman sehari-hari kita menjumpai orang yang pada batas akhir hidupnya di dunia sering mengucapkan nadar, yang mungkin kedengaran aneh: ingin berjumpa dengan cucunya yang di Amerika, sebelum meninggal ingin menyaksikan anak bungsunya menikah, ingin membagi warisannya secara adil, tidak ingin melepaskan jimatnya, hartanya,sebelum meninggal ingin keliling dunia, dll.
Nadar Simeon ini telah dibakukan menjadi Kidung Simeon yang dinyanyikan dalam Ibadat Penutup (Completorium). Tentu saja, bukan untuk mengingatkan akhir hayat seseorang, melainkan untuk menumbuhkan kerinduan dalam menyambut Tuhan Yesus sebagai penyelamat dunia. Simeon menanti cukup lama kedatangan Tuhan Yesus, Sang Terang yang menyelamatkan bangsa-bangsa. Ia tidak ingin meninggal sebelum berjumpa dengan Yesus. Dan nadar itu terpenuhi.
Ketika itu kebetulan genap hari pentahiran menurut hukum Taurat Musa. Sebagai penganut agama Yahudi yang taat, Yusuf dan Maria membawa Yesus dari desa Nazaret ke kota Yerusalem yang berjarak cukup jauh untuk menyerahkan Yesus sebagai anak sulung kepada Allah, sesuai dengan Hukum Taurat Musa. Dan mempersembahkan sepasang tekukur atau dua ekor anak burung sebagai kurban persembahan bagi keluarga sederhana, sebagai syarat untuk pentahiran.
Di sanalah, Simeon berjumpa dengan Yesus, sesuai dengan nadarnya, sebelum ia meninggal ingin berjumpa dengan Yesus,yang membawa terang keselamatan bagi bangsa-bangsa.
Pertanyaan reflektif, apakah yang menjadi nadar saya sebelum Tuhan, yang memiliki kehidupanku, memanggilku? Nasihat orang bijak dan saleh: berbuatlah sebaik-baiknya menurut ajaran Tuhan, seakan-akan hari ini adalah hari terakhir hidupmu.
Doa:
Allah, Bapa yang maha rahim dan kuasa, biarkanlah semakin hari iman kami menjadi semakin bertumbuh dalam hidup rohani dengan baik, sehingga pada saat kami mati nanti dalam kondisi yang layak bagimu. Demi Kristus, Tuhan dan Penyelamat kami.

