#16 – Menyukai Baca Sastra

#16 – Menyukai Baca Sastra

MENGUBAH DIRI

SERIAL DIUBAH DAN MENGUBAH DIRI

#16 – Menyukai Baca Sastra

Pernyataan: Artikel ringkas berupa serial (bersambung) ini hanyalah catatan seorang guru ketika bersama murid-muridnya. Sejatinya, penulis meyakini bahwa pengaruh guru tidak pernah bisa didugai, entah kapan berhenti. Tanpa bermaksud mendaku (klaim) sebagai pengaruh satu dua guru, yang terjadi pada murid pun karena terinspirasi para guru-gurunya – yang manapun – pada saat kapanpun.

-0-

Cerita pendek “Pelajaran Mengarang” karya Seno Gumira Ajidarma ter-KOMPAS-kan pada edisi Minggu pertengahan 1991. Esok paginya saya baca dengan heroik ke depan seluruh kelas. Satu-satunya kalimat Sandra dalam karangannya sebagai pamungkas cerpen “Ibuku seorang pelacur…” sungguh mengentak ingatan murid-murid.  Dalam banyak waktu kemudian, sebagian kelas akan menagih dibacakan cerpen. Saya pun tetep mengupayakan membawa cerpen-cerpen aktual di KOMPAS Minggu atau menunjukkan buku-buku kumpulan cerpen di perpustakaan agar mereka ulik sendiri.

Nah, empat tahunan kemudian, murid-murid “angkatan pelajaran mengarang” tersebut telah lulus dan meneruskan rencana hidupnya. Satu orang di satu siang, mampir di kantor saya dengan pertanyaan pembuka, “Apa Bapak masih sering bacakan cerpen di kelas?”  setelah saya sampaikan masih terus dia pun menukas “Saya sampai sekarang mesti membeli KOMPAS Minggu, Pak, hanya ingin membaca cerpennya.”  Padahal, dia lulusan jurusan IPA dan memilih berkuliah di fakultas teknik, masih saja membaca karya sastra yang pasti mewarnai pola pikirnya hingga kian manusiawi. Bahkan, setelah dia berkarya – masih saja mengirimi gurunya buku-buku linguistik, sebuah topik yang jauh dari dunia teknologi karyanya.

Satu yang lain dari angkatan tersebut belum lama berdiri menyampaikan pidato pengukuhan guru besar kedokteran. Kecanggihan pidatonya itu diakhiri dengan sebaris puisi Chairil Anwar KRAWANG-BEKASI “Kerja belum selesai, belum apa-apa.” …masih banyak hal yang harus diteliti, ditulis, dan diajarkan, katanya. Kalimat indah bergaya sastra Bunda Teresa pun jadi pamungkas, “saya hanyalah pensil kecil di tangan Tuhan, sebuah pensil yang Tuhan pakai untuk menulis kebaikan bagi dunia”.  Menyukai sastra tak datang tetiba – banyak gurunya bisa hadirkan kesukaan itu lewat manapun – guru di tingkatan apapun. ***

St. Kartono

St. Kartono

St. Kartono – Kolumnis pendidikan mengkorankan lebih dari 650 artikel, pembicara di lebih dari 750 forum, dosen, penulis 15 buku diantaranya Sekolah Bukan Pasar (Buku KOMPAS, 2009), Menjadi Guru untuk Muridku (Kanisius, 2011), Menjadi Guru Berjiwa Merdeka (Aseni, 2024).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *