In Memoriam Rama Petrus Santosa Ponco Prasetyo, MSF: Sebuah Refleksi tentang Bimbingan dan Kepercayaan

In Memoriam Rama Petrus Santosa Ponco Prasetyo, MSF: Sebuah Refleksi tentang Bimbingan dan Kepercayaan

Kepergian Rama Petrus Santosa Panco Prasetyo, MSF—atau yang akrab kami sapa Rama San—meninggalkan ruang rindu yang mendalam. Bagi saya, beliau bukan sekadar seorang imam atau pembimbing formal dalam struktur biara. Beliau adalah sosok yang hadir di momen-momen krusial pembentukan jati diri saya sebagai seorang religius pada masanya. Dua kali periode pembinaan saya lalui di bawah bimbingan tangan dinginnya: satu semester di masa Postulat dan paruh kedua masa Novisiat.

Kehendak Allah  mengatur agar saya selalu berjumpa dengannya. Saat di Postulat, beliau mengisi posisi Direktur  menggantikan Rama Walidi yang sedang retret. Begitu pula di Novisiat; beliau menjadi Magister kami setelah Mgr. Hardjosusanto diangkat menjadi Uskup Keuskupan Tanjung Selor. Dalam rentang waktu itulah, saya mengenal sosok Rama San yang tegas, namun penuh selera humor dan empati yang luar biasa.

Humor di Balik Jubah

Kenangan bersama Rama San selalu diwarnai dengan tawa yang jujur. Salah satu kisah yang tak pernah saya lupakan adalah drama “tidur siang” di Novisiat. Suatu siang, seorang adik kelas mengetuk kamar saya, memberi tahu bahwa Rama San mencari saya. Dengan malas, saya berdalih, “Kan siesta (tidur siang).” Namun, jawaban Rama San sungguh di luar dugaan. Beliau berkata kepada adik kelas itu, “Susi rau tau turu,” Susi tidak pernah tidur siang.”

Ternyata, beliau sedang berada di Berthi bersama dua rekan dari seminari, mencoba memperbaiki kunci pintu yang rusak. Di sanalah terlontar tantangan jenaka yang khas. Beliau berujar, “Nek ra isa ndandani, balik wuda” (Kalau tidak bisa memperbaiki, pulang telanjang). Saya menyanggupi tantangan itu dan ajaibnya, kunci berhasil diperbaiki. Saat saya menagih janji taruhannya, beliau hanya bisa melotot sambil menahan geli dan mengumpat pelan, “Bodong!” Sebuah kata umpatan akrab yang menjadi tanda kedekatan kami.

Kejadian serupa terulang saat masa awal Novisiat. Usai upacara agem busana (penerimaan jubah), kami beberes dan bebersih, kejadiannya, pas penyerahan jubah ayah saya menangis terharu. Rama San berkomentar dengan nada guyon, “Pakne Susi gembeng” (Bapaknya Susi cengeng). Secara spontan saya menjawab, “Ning lak jik due bapak” (Tapi kan masih punya bapak). Seketika beliau terdiam dan kembali berujar, “Bodong!”. Saya baru sadar bahwa ayah beliau sudah tiada. Namun, di balik umpatan itu, tidak ada amarah; hanya ada kehangatan seorang bapak kepada anaknya.

Kedekatan dan Ketulusan Hati

Banyak rekan angkatan menganggap saya mendapat “prioritas” dari Rama San. Faktanya, beliau memang sangat murah hati. Apapun yang saya ajukan dalam daftar kebutuhan bulanan selalu beliau penuhi tanpa banyak tanya. Pernah saya meminta pena, beliau malah memberikan pena pribadinya. Begitu juga dengan dompet dan kebutuhan rutin lainnya. Beliau memberikan bukan karena saya istimewa, tapi karena beliau tahu mana kebutuhan yang tulus dan mana yang sekadar keinginan.

Namun, di atas materi, dukungan emosionalnyalah yang paling membekas. Saat saya masuk Novisiat, kakak kandung saya menikah di tanggal yang sama. Sebagai anak laki-laki yang sangat dekat dengan orang tua, ada pergolakan batin yang hebat dalam diri saya. Rama San menenteramkan kegelisahan itu dengan kalimat yang sangat menguatkan: “Frater layak bersyukur, bahwa sebagai anak laki-laki memiliki perasaan dan pengertian seperti itu.” Kalimat sederhana itu menghapus rasa bersalah saya dan meneguhkan pilihan hidup saya saat itu.

Warisan yang Tak Lekang Oleh Waktu

Nasihat Rama San yang paling abadi tersimpan dalam sebuah kartu yang beliau laminating sendiri setelah retret pertama saya. Tulisan itu berbunyi:

“Fr. Susiharyawan yang berbahagia, Profisiat atas Retret. Sadarlah bahwa Tuhan memanggilmu dan Dia senantiasa menyertai kamu. Janganlah takut melangkah dan jangan ragu-ragu. Tuhan memberkati usaha dan niatmu.”

Kartu itu masih saya simpan dengan rapi hingga hari ini. Nasihatnya terus menggema, melampaui waktu dan status saya yang kini sudah di luar seminari. Pertemuan terakhir kami terjadi pada perayaan 100 tahun Seminari Menengah Petrus Kanisius Mertoyudan beberapa waktu lalu. Itu adalah perjumpaan pertama sekaligus terakhir kami setelah bertahun-tahun berpisah.

Selamat jalan, Rama Santosa. Terima kasih atas kepercayaan, bimbingan, dan kesediaanmu menemani langkah awal panggilan saya. Kini, beristirahatlah dalam damai di pelukan Bapa di Surga. Tugasmu telah usai, namun jejak kebaikanmu abadi di hati kami.

Salam JMJ.

Susy Haryawan

Susy Haryawan

6 thoughts on “In Memoriam Rama Petrus Santosa Ponco Prasetyo, MSF: Sebuah Refleksi tentang Bimbingan dan Kepercayaan

  1. Mengesankan, terimakasih Sharingan bro Susy.
    Selamat jalan menuju surga, Romo San. Jadilah pendoa bagi kami.
    Allah Maha Kasih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *