RUMAH DAN LIKA-LIKU PENGHUNINYA(2) : TERMINAL TERAKHIR

RUMAH DAN LIKA-LIKU PENGHUNINYA(2) : TERMINAL TERAKHIR

Setiap orang akan sampai tiba masanya, pensiun, walaupun bukan berarti berhenti berkarya. Bagi para perantau mulailah muncul pikiran: di mana akan menghabiskan hari tua? Kami akan memasuki purna tugas tahun 2026 ini, istri bulan April dan saya Juni. Wacana mau tinggal di mana itu pun muncul: pulang kampung ke Bantul, menyepi ke desa atau tetap tinggal di sini. Jika pulang kampung rasanya itu hanya nuruti romantisme belaka gak ada alasan substansial untuk itu, belum lagi harus bangun rumah baru lagi wong saya nggak minta warisan, dari aspek sosial teman sebaya yang tinggal di sana sudah meninggal semua, jadi harus sosialisasi dengan orang- orang baru juga. Menyepi ke desa, berkebun dan berternak, akan sampai kapan tenaga saya ? Dan yang pasti, istri pasti tidak mau tinggal di desa. Pilihan terbaik ya tetap tinggal di tempat yang sudah 20 tahun lebih kami tinggali sekarang: networking sosial sudah mapan, pekerjaan ngurus sekolah masih membutuhkan tenaga kami. Apa kendalanya kalau tetap di sini?
Sesungguhnya rumah kecil ini cukup untuk kami tinggali berdua, dengan pikiran anak- anak semua pergi dari rumah. Sebagai lansia, kami hanya butuh kamar tidur, kamar mandi dan dapur berdekatan dan itu sudah tersedia.
Masalah muncul ketika kenyataan tidak sesuai sepenuhnya dengan harapan: anak pertama memang begitu menikah langsung keluar dari rumah, tetapi anak kedua sampai sekarang belum menikah dan tinggal bersama kami, anak ketiga menikah dengan satu anak tetapi belum mau berpisah. Sebenarnya untuk anak ketiga sudah saya siapkan rumah sendiri di Tabanan tetapi dengan alasan jauh dari tempat kerja istri dan punya anak kecil, belum mau menempati.
Persoalan lain, karena sejak bayi cucu dan opa mamanya serumah tak terhindarkan terjadi emotional attachment, sehingga sulit dipisahkan. Jadi, pilihan tetap tinggal di rumah lama tetapi kenyataannya tidak memadai jika ditempati untuk dua keluarga. Solusi, rumah harus direnov, tetapi lahan yang hanya 100m tak mungkin diperluas, harus dirobohkan ganti baru dengan 2 lantai. Selama ini kami tenang- tenang karena merasa cukup saja dengan rumah lama, dan kini di ujung usia ( bukan di puncak produktif usia 40- 50) kami justru harus melakukan renov besar- besaran. Kini persoalan utama masalah pendanaan karena memang tidak menyiapkan untuk itu. Konsultasi ke beberapa kontraktor, minta disiapkan dana minimal 800 juta. Dari mana? Utang bank usia udah gak layak, korupsi ya gak ada yang dikorup, paling bisanya hanya berdoa! Setelah gresek- gresek terkumpul sejumlah uang yang masih jauh dari budget. Inilah kekuatan doa, rupanyaTuhan tidak mengirim uang tetapi orang yang mau membantu mengatasi masalah saya. Ada kontraktor teman anak saya yang mau dibayar secara termin, dengan jangka satu tahun sehingga dengan dana yang ada pembangunan bisa dimulai. Kelebihan istri saya itu kalau punya mau maka akan fokus bagaimana keinginan bisa terwujud. Alhasil, April 2026 pembongkaran rumah dimulai dan kami pindah dengan kontrak rumah di sebelah persis agar mudah memantau ( bersambung)

Paul Subiyanto

Dr.Paulus Subiyanto,M.Hum --Dosen Bahasa Inggris di Politeknik Negeri Bali ; Penulis buku dan artikel; Owner of Multi-Q School Bal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *