Singgih Suci Tenan di Akhir Hidupnya
Oleh: Harya Sumarta
Semalam, Jumat (23/10), seusai doa Rosario memperingati tujuh hari berpulangnya Singgih ke Rumah Bapa, kami duduk mengobrol di ruang tamu. Ada saya, Wiwid, istri Singgih, dan beberapa teman Wiwid. Dari obrolan sederhana itu mengalirlah kisah yang menyentuh hati tentang hari-hari terakhir Singgih: kisah tentang seseorang yang, tanpa banyak kata, sedang mempersiapkan diri untuk pulang.
Sebulan sebelum berpulang, Singgih sakit. Istrinya menjemputnya dari Madiun untuk dibawa pulang ke rumah di Kopen, Yogyakarta. Ia diperiksakan ke IGD RS Panti Rapih. Hasil pemeriksaan menunjukkan tekanan darahnya normal, begitu pula kondisi jantungnya. Akhirnya ia diperbolehkan menjalani rawat jalan, dan obat yang dibawanya pulang pun tidak ada yang harus dihabiskan.
Selama kurang lebih delapan belas hari beristirahat di rumah, ada satu kebiasaan yang tak pernah ditinggalkannya: mengikuti misa pagi di Gereja Banteng. Setiap pagi Singgih mengajak istrinya berangkat. Sebelum pukul 05.00 mereka sudah tiba di gereja, sebab ia ingin mengikuti doa Brevir sebelum Ekaristi.

Saat Brevir, ia selalu duduk di bagian depan, di sebelah Romo Triatmoko, Rektor Biara Nazareth. Seusai Brevir, menjelang Ekaristi dimulai, barulah ia berpindah tempat duduk untuk menemani Wiwid di bagian belakang.
Kebiasaan itu rupanya meninggalkan kesan mendalam bagi Romo Triatmoko. Pada hari pemakaman Singgih, Romo Tri mengenangnya dengan penuh kekaguman.
“Singgih suci tenan ing akhir uripe. Rajin melu Brevir, njejeri aku.”
Singgih sungguh-sungguh menjalani hari-hari terakhirnya dalam doa. Bahkan ia meminta Wiwid membuatkan rajutan untuk membungkus buku Brevirnya, sebab ia tahu istrinya suka merajut. Sebuah permintaan sederhana, tetapi terasa begitu bermakna ketika dikenang kembali.
Romo Tri pun sempat bertanya-tanya dalam hati, “Cah iki ono opo?” Ada sesuatu yang berbeda dari Singgih. Seolah-olah ia sedang menyiapkan dirinya untuk sebuah perjalanan yang tak diketahui kapan tiba waktunya.
Di rumah, Singgih juga beberapa kali mengajak Wiwid berkunjung ke rumah kami.
“Ayo dolan neng nggone Kang Bejo,” ajaknya berulang kali.
Namun, melihat kondisi suaminya yang belum pulih, Wiwid menjawab, “Sok yen wis mari wae dolan mrono.”
Niat itu akhirnya tak kesampaian. Singgih tak sempat datang ke rumah kami. Justru saya yang akhirnya datang ke rumah Singgih, untuk pertama kalinya, pada peringatan tujuh hari kepergiannya. Ada rasa haru ketika menyadari bahwa perjumpaan yang direncanakan dalam suasana sehat dan penuh canda ternyata harus terjadi dalam suasana duka.
Ketika Romo Cokro mengumumkan berita kepergian Singgih di awal Ekaristi, telinga saya seakan ditutup oleh Tuhan, sehingga saya tidak mendengar kabar itu. Saya bisa mengikuti Ekaristi dan pengurapan minyak suci dengan baik.
Ngger, selamat jalan. Terima kasih telah meninggalkan teladan tentang kesetiaan dalam doa. Semoga kini engkau beristirahat dalam damai bersama Bapa di surga.

