Sugeng Rawuh Saudari Alam Maut
Sugeng rawuh saudari alam maut
Dalam tahun Jubileum Fransiskus Asisi ini saya memang tertegun, kadang bertanya dan berayukur bahwa Santo Fransiskus Asisi ini sharing, menjabarkan dan menjelaskan dengan lembut, tenang dan damai bahwa alam maut itu perlu disambut dengan hati suka cita bagaikan saudari yg disayang, sedulur yg akrab. Ini aneh dan kadang sulit dipahami. Tetapi kenyataannya muncul banyak kesaksian positip dan memperlihatkan kesaksian hidup yg baik bhw seseorang merasa sudah siap sowan Gusti maka dia sungguh meninggal dengan tenang dan senyum bahagia. Ada kedamaian. Finish dengan iman dan hati sukacita.
Kita keluarga besar PBMN yg hadir dalam acara Temu Akbar tgl 17 – 18 Oktober 2026 di Sarangan menjadi saksi hidup bagaimana iman kita diuji dan perasaan kita tercabik-cabik sampai teriak menangis ketika menerima kabar bahwa sefulur PBMN mas Wibowo Singgih yg jatuh pingsan lalu dibawa ke Puskesmas Plaosan tidak tertolong lagi. Saudari alam maut betul- bwtul menjemputnya untuk disowankan ke Gusti Yesus. Kita yang saat itu berkumpul di kapel untuk mengucap syukur dalam perayan ekaristi mengalami dua perasaan sekaligus bahagia sukacita karena acara temu akbar sungguh mengakrabkan saling menyapa dan mendukung. Tetapi kita juga merasa shock, tidak percaya, sedih dan menangis karena mas Singgih begitu semangat dan peduli membantu transportasi bahkan ssmpai bersedia menjadi sopir bus rombongan kelompok B. Kita apresiasi dan salut ternyata mas Singgih terampil dan piawai nyopirin bus kendati jalan menuju Sarangan banyak tikunan tajam dan jalannya berkelak kelok. Dengan entengnya semua jalan yang bikin hati dag dig dug dilahap lancar mulus sampai di tempat tujuan Rumah Retret “Domus Mariae” dengan aman dan selamat.
Beberapa cerita sederhana namun menarik karena ada pesan mas Singgih mau pamitan. Dia bilang sama kang Mangun Tiarso bahwa setelah selesai acara api unggun, pembagian door prize dan nyanyian hiburan :”Aku mau mulih”. Tafsirannya kang Mangun mau mulih ke Madiun dulu.
Rupanya mas Singgih merasakan begitu senang dan minta khsus foto berdua dengan mas Tienus. Juga minta foto bertiga dengan mas Haripafmo dan mbak Aniek. Sudah mwmberikan signal nggak akan ketemu lagi..
Sepanjang perjalanan kereta mau balik ke Jakarta saya mencoba memahami pesan Gusti atas realita yang terjadi pada keluarga besar PBMN. Komunitas PBMN menerima banyak rahmat Tuhan atas perlindungan dan pendampingan Roh Kudus. Hasil temu akbar terpilih Ketua PBMN baruas Eka Jaya. Alih generasi berjalan baik dan mulus. Kita dukung kepemimpinan mas Jaya. Banyak tks utk mas Thomas Suhardjono juga pengyrus lain mas Widiyanto, mas Unggul, mas Dwiko dan mbak Aniek. Maa Thomas sdh memimpin dgn baik dan bijak serta meninggalkan warisan yg sangat berguna Buku Ngumpulake Balung Pisah seri keempat.
Semoga para warga PBMN tetap merasakan sedulur dan sukacita dalam membangun keluarga, mengembangkan talenta dan tetap energik dalam perutusan dan pelayanan baik di lingkup gerejani dan masyarakat. Pesan mas Widiyanto dalam sesi renungan agar kita semua tetap belajar mewujudkan pola mengasuh keluarga dengan bijak dan banyak memberikan keteladanan hidup yg baik.
Akhirnya kita semua diingatkan oleh Santo Fransiskus Asisi agar tetap siap menyambut datangnya saudari alam maut dengan wajah senyum gembira, tidak resah dan tidak takut. Mas Wibowo Singgih sugeng tindak sowan Gusti. Semoga bahagia abadi di Surga bersama Allah Tri Tunggal Maha Kudus, bunda Maria, Santo Yusup, para kudus,para malaikat agung, romo Berthier dan para sedulur PBMN yang sudah sowan Gusti. Mohon doakanlah kami dan keluarga besar PBMN. Amin. Tuhan memberkati. Berkah dalem.
Kereta Batavia Solo – Jakarta
Andre Sumariyatmo.

