Tangan-Tangan Tuhan dalam Persaudaraan PBMN

Tangan-Tangan Tuhan dalam Persaudaraan PBMN

Oleh: Harya Sumarta

Catatan kenangan dari Reuni Akbar PBMN, Domus Mariae, Sarangan, 17–18 Oktober 2026

Ada pengalaman yang membuat kita semakin menyadari bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Dia hadir melalui orang-orang di sekitar kita, melalui uluran tangan yang tulus, perhatian sederhana, dan kasih yang diberikan tanpa banyak kata.

Pengalaman itulah yang saya rasakan ketika mengikuti Reuni Akbar PBMN (Paseduluran Brayat Minulya Nusantara) di Domus Mariae, Sarangan, 17–18 Oktober lalu.

Lokasi Domus Mariae berada di perbukitan. Jalan menuju beberapa tempat cukup menanjak. Bagi saya, yang pernah mengalami serangan stroke tiga kali dan masih berjuang menguatkan otot-otot kaki, medan seperti ini bukanlah perkara mudah.

Namun, sejak turun dari bus, saya sudah merasakan pertolongan Tuhan melalui Mas Subiyanto Pranjono. Dengan sabar, ia menopang langkah saya hingga ke ruang makan. Uluran tangan yang tampak sederhana itu sangat berarti bagi saya.

Dari kiri ke kanan: KangMas Hari, KangMas Andre, KangMas Harya, KangMas Adihendro dan Romo Erick)

Semula, kami mendapat jatah kamar di bagian atas, sedangkan ruang makan dan aula tempat acara berlangsung berada di bawah. Saya mencoba menguatkan hati dengan berkata dalam diri sendiri:

“Semangat! Demi persaudaraan, semua ini harus disyukuri.”

Saya tidak ingin keterbatasan fisik menghalangi kerinduan untuk bertemu dan bersaudara dengan Sedulur PBMN.

Rupanya, Tuhan telah menyiapkan pertolongan lain. Melalui Mas Dwiko, yang dengan penuh kerelaan memberikan kamar jatahnya di dekat ruang makan, kami akhirnya bisa menempati kamar di bawah. Terima kasih, Mas Dwiko. Kebaikanmu sungguh meringankan langkah kami.

Tangan Tuhan kembali hadir melalui Mas Andre Dwijo. Ketika saya harus menuruni tangga menuju ruang makan, ia menopang dan menuntun saya. Untuk menyemangati saya, Mas Andre berbisik, “Romo Bagyo juga tak tuntun kok.”

Saya tersenyum.

Bisikan sederhana itu menguatkan hati saya. Saya tidak sendirian dalam perjuangan ini.

Masih banyak uluran kasih dari Sedulur PBMN yang saya rasakan selama reuni. Semuanya menjadi tanda bahwa persaudaraan bukan sekadar kata, melainkan kasih yang nyata dalam tindakan.

Paseduluran sungguh menjadi jiwa PBMN.

Kini, kenangan itu saya bawa pulang sebagai berkat.

Terima kasih, Sedulur PBMN. Terima kasih atas kasih, perhatian, dan persaudaraan yang tulus.

Di balik setiap uluran tangan, saya melihat tangan-tangan Tuhan yang menopang langkah saya.

Syukur kepada-Mu, Tuhan. Dalam kelemahan, Engkau menguatkan. Dalam keterbatasan, Engkau menghadirkan saudara. Dan melalui persaudaraan, Engkau mengajarkan bahwa kasih selalu menemukan jalannya.

Lereng Merapi, 27 Oktober 2026

Alfred Jogo Ena

Alfred Jogo Ena

Seorang editor yang suka menulis dan guru agama di beberapa sekolah menengah di Yogyakarta. Ia juga melayani pelatihan dan konsultasi penulisan buku

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *