Kesan-kesan Reuni PBMN, Pasutri Hari Pranoto-Ari Andriati
KESAN-KESAN REUNI PBMN
PASUTRI HARI PRANOTO-ARI ANDRIATI
Y. HARI PRANOTO
Mengikuti reuni 17-18 Oktober 2026 di Sarangan bersama “Paseduluran Brayat Minulyo Nusantara” PBMN, bagi saya sungguh membahagiakan dan membawa kesan mendalam bagi saya pribadi dan keluarga. Rasanya seperti pulang ke rumah, menjumpai para sahabat, sedulur yang sangat “semudulur” meskipun jarang berjumpa tapi hati tetap saling bertaut erat, baik yang muda maupun yang lanjut usia. Perjumpaan yang tidak saja menyegarkan, tapi juga menguatkan, menginsiprasi dan saling menyemangati.
AMOR GIGNIT AMOREM ternyata tidak sekedar slogan, dikupas dengan apik oleh mas Wid, sangat menginspirasi sekaligus menyentuh realitas pendampingan anak dalam keluarga. Luar biasa, saya merasakan bagaimana “paseduluran” yang dibangun atas dasar cinta di PBMN ini juga telah melahirkan dan menumbuhkan perasaan saling cinta yang mendalam di antara anggota. Paseduluran yang tanpa syarat, tanpa sekat, tapi tetap saling hormat di antara yang tua dan muda, bak kerabat yang sangat dekat.
PERJAMUAN KUDUS DAN SAKRAMEN PENGURAPAN ORANG SAKIT, menutup seluruh rangkaian acara; menjadi puncak dari ikatan cinta paseduluran PBMN ini, yang dipersembahkan kepada Tuhan sebagai ungkapan cinta. Terlebih ketika kami diberi kesempatan ambil bagian dalam penerimaan sakramen pengurapan orang sakit. Saya berdua dengan pasangan juga memutuskan ambil bagian dalam sakramen ini bukan karena sedang sakit parah, tapi lebih ingin mohon kerahiman Tuhan atas dosa dan kesalahan yang telah saya buat, yang telah melukai hati pasangan hidup saya, melukai hati saya sendiri dan hati Tuhan. Saya ingin menyatukan dan mempersembahkan hidup saya pada Tuhan dan mohon semoga Tuhan berkenan mengampuni semua dosa-dosa saya, memberikan rahmat khusus, ketenangan, keberanian, serta kekuatan iman agar dijauhkan dari segala pencobaan. Semoga Tuhan juga berkenan memberikan rahmat kekuatan dan kerendahan hati bagi saya pribadi, terlebih dalam menyongsong hari-hari ke depan dalam kerapuhan jiwa dan raga menjelang lansia.
Akhir kata, duka mendalam atas berpulangnya mas Singgih, seorang sahabat, sedulur, yang begitu mengasihi kita semua. Saya yakin, cinta dan pengorbanannya untuk kita, akan melahirkan juga cinta yang lebih mendalam di antara kita. Berkah Dalem
Salam dalam YMY.
Yoh. Hari Pranoto
ARI ANDRIATI
Saat Mas Hari (suamiku) mengajak aku hadir di reuni Paseduluran Brayat Minulyo Nusantara (PBMN), jujur saat itu aku ragu, karena aku tidak pernah bertemu dengan saudara-saudara di PBMN, kalaupun ada yang kenal ya hanya beberapa saja. Tapi setelah berjumpa, kenal, dan ngobrol bareng ternyata ada kehangatan, keakraban yang segera terjalin seperti berjumpa dengan “sedulur” yang lama yang tidak berjumpa.
Sesi bersama mas Wid yang mengupas tentang pendampingan anak di dalam keluarga, saya memperoleh nila-nilai yang sangat berharga, yang bisa kami bawa untuk oleh-oleh anak cucu kami.
Hari Minggu, saat merayakan Ekaristi bersama PBMN, sungguh menjadi pengalaman yang mengharukan, terutama ketika kami diberi kesempatan memperoleh sakramen pengurapan orang sakit. Meskipun kami berdua tidak dalam keadaan sakit berat, namun kami merasa ada kerinduan untuk menyambutnya. Setelah penerimaan sakramen itu, aku merasakan adanya kelegaan, ketenangan batin yang yang sungguh luar biasa. Semoga berkat sakramen ini dapat menjadi kekuatan untuk menjalani hidupku ke depan, agar menjadi pribadi yang lebih baik dalam mejalani hidup ini dan menguatkan imanku yang begitu rapuh.
Di akhir acara, kabar kepergian mas Singgih sungguh mengejutkan kami semua. Mas Singgih yang sejak hari Sabtu sampai Minggu pagi masih bersama kami ternyata berpulang begitu cepat. Kesedihan atas kehilangan mas Singgih menyelimuti hati kami, dan tentu kita semua. Selamat jalan mas Singgih, terimakasih untuk semua yang telah diberikan untuk kelancaran reuni PBMN ini.
Untuk sedulur2 di PBMN, maturnwun untuk semuanya, sehat selalu. Berkah Dalem
Salam hangat dalam YMY.
Ari Andriati

