Keluarga Kudus: Sekolah Kasih di Tengah Dunia yang Sibuk

Keluarga Kudus: Sekolah Kasih di Tengah Dunia yang Sibuk

Renungan hari Minggu, 25 Oktober 2026

Para Braminers yang dikasihi Tuhan,

Bila kasih kepada Tuhan dan sesama adalah hukum yang terutama, di manakah kita belajar mengasihi untuk pertama kalinya? Di dalam keluarga. Dan teladan terindah kita adalah Keluarga Kudus di Nazaret: Yosef, Maria, dan Yesus.

Di Nazaret, kasih kepada Tuhan hidup dalam hal-hal sederhana. Maria menyimpan segala perkara di dalam hatinya dan merenungkannya. Yosef taat mendengarkan suara Allah dalam kesunyian. Yesus bertumbuh dalam hikmat dan kasih karunia. Rumah mereka bukan rumah yang sunyi dari kesulitan, sebab mereka pernah mengungsi sebagai orang asing di Mesir. Justru di sanalah bacaan pertama menjadi nyata: Tuhan berpesan agar kita tidak menindas orang asing, janda, dan yatim piatu. Keluarga Kudus tahu rasanya menjadi yang rentan, dan Allah mendengarkan seruan mereka.

Kini, banyak rumah kita ramai tetapi sepi. Satu meja, empat orang, empat layar. Orang tua sibuk bekerja dan membalas pesan, anak tenggelam dalam gawai. Kita dekat dengan yang jauh, namun jauh dari yang dekat. Maka keluarga kita pun perlu menjadi sekolah kasih.

Dalam reuni nasional kita di Domus Mariae, Sarangan, Magetan, Jawa Timur, 17-18 Oktober lalu, Mas Widiyanto telah mengajak kita untuk belajar pada Keluarga Kudus sebagai role model sekolah kasih melalui pola-pola pengasuhan yang diajarkan oleh Santo Yosef dan Bunda Maria.

Paulus memuji jemaat Tesalonika karena menjadi teladan bagi semua orang. Iman mereka menular, sebab terlihat dalam hidup. Demikian pula keluarga Kristiani: iman diwariskan bukan lewat nasihat panjang, melainkan lewat kebiasaan yang dihidupi bersama.

Para sedulur yang terkasih, ada tiga pesan utama dari bacaan Minggu ke-30 ini (Kel 22:21-27, 1Tes 1:5c-10, dan Mat 22:34-40), yang ditawarkan kepada kita. Pertama, berdoalah bersama, walau hanya lima menit sebelum makan atau tidur. Kedua, sediakan meja makan bebas gawai, agar setiap anggota keluarga sungguh didengarkan. Ketiga, bukalah pintu bagi sesama, terutama tetangga yang kesepian, yang sakit, atau yang terpinggirkan, sebab keluarga yang mengasihi tidak berhenti di depan pagar rumahnya.

Para Braminers beserta istri dan anak-anak yang terkasih, rumah kita bisa menjadi Nazaret kecil. Tidak harus sempurna, cukup dihuni oleh kasih. Di sanalah dua perintah Yesus bertemu: mengasihi Tuhan dengan segenap hati dan mengasihi sesama, dimulai dari orang yang duduk di sebelah kita. Semoga Keluarga Kudus Nazaret menjaga keluarga kita, agar rumah kita menjadi tempat Allah berkenan tinggal.

Alfred Jogo Ena

Alfred Jogo Ena

Seorang editor yang suka menulis dan guru agama di beberapa sekolah menengah di Yogyakarta. Ia juga melayani pelatihan dan konsultasi penulisan buku

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *