Pintu yang Tak Pernah Ditutup
Sebuah feature naratif semi fiksi tentang 131 Tahun Para Misionaris yang Mengundang Mereka yang Merasa “Terlambat”
Bekas barak itu sudah lama ditinggalkan. Di Grave, sebuah kota kecil yang berdiri di tepian Sungai Maas, Belanda, berdiri tegak bangunan bekas garnisun yang kini tampak renta. Cat dindingnya mengelupas, celah-celah temboknya membiarkan udara dingin menyelinap masuk tanpa hambatan. Di ambang pintu bangunan itu, pada penghujung September 1895, berdiri seorang imam berkebangsaan Prancis yang telah menginjak usia lima puluh lima tahun. Tubuhnya tampak ringkih, jubahnya sederhana tanpa hiasan apa pun. Di belakangnya berbaris dua belas lelaki, orang-orang yang menurut ukuran zaman itu sudah dianggap “terlambat” untuk memulai sesuatu yang baru.

Salah seorang dari mereka, lelaki dengan tangan kasar penuh kapalan, tampak ragu melangkah mendekat. Ia menunduk, sikapnya seperti orang yang sudah terlalu sering ditolak dan diberi alasan untuk pergi.
“Bapa, umur saya sudah lewat,” ucapnya pelan, nyaris tak terdengar.
Sang imam menatapnya lama, tatapannya lembut namun teguh. Lalu ia menarik daun pintu itu lebih lebar, membukanya sepenuhnya.
“Masuklah. Dapur di sini memang masih dingin, belum terjamah api. Tetapi rumah ini sudah menunggumu sejak lama.”
Namanya Jean-Baptiste Berthier. Hari itu, tanggal 28 September 1895, menjadi hari lahir Institut untuk Panggilan Terlambat, cikal bakal Kongregasi Misionaris Keluarga Kudus, yang kini dikenal sebagai MSF. Kini, lembaga itu telah genap berusia seratus tiga puluh satu tahun, dan seratus tahun dari perjalanan panjangnya, dijalani di tanah Indonesia.
Anak Gunung yang Terpikat Sebuah Kisah
Semuanya bermula di Châtonnay, sebuah tempat di wilayah tenggara Prancis. Di sanalah Berthier lahir pada 24 Februari 1840. Sejak kecil, kisah penampakan Santa Perawan Maria di La Salette terus bergema di telinganya, dan kisah itu tak pernah benar-benar hilang dari hatinya. Ia masuk seminari di Grenoble pada tahun 1858, lalu ditahbiskan menjadi imam pada usia 22 tahun, dan tak lama kemudian bergabung dengan jemaat Misionaris La Salette.
Berpuluh-puluh tahun ia habiskan di gunung suci itu. Musim-musim panas berlalu dalam ibadah: mempersembahkan Misa, berkhotbah, mendengarkan pengakuan dosa, hingga turun tangan melakukan pekerjaan fisik yang berat karena jumlah staf yang terbatas.
Namun di tempat itulah ia bertemu orang-orang yang tak mampu ia lupakan, lelaki-lelaki yang mendambakan pelayanan namun dianggap terlalu tua untuk bersekolah, atau yang tak memiliki dana untuk menempuh pendidikan keagamaan. Ayat Alkitab yang lama tersimpan kini terasa mendesak di dalam hatinya:
“Tuaian memang banyak, tetapi pekerjanya amat sedikit.” (Matius 9:37)
Di malam-malam sunyi di penginapan para peziarah, ia mungkin pernah berbicara kepada rekan-rekannya:
“Jika Tuhan memanggil seseorang di usia empat puluh tahun, siapakah kita untuk berkata bahwa panggilan-Nya datang terlambat?”
Kesimpulannya sederhana namun mengguncang kebiasaan yang berlaku:
“Panggilan dapat datang pada usia berapa pun. Roh Allah berhembus ke mana Ia kehendaki.” (Laman resmi MSF Amerika Serikat)
Diusir, Lalu Tersebar ke Seluruh Dunia
Sayangnya, jemaat asalnya belum siap menyambut gagasan baru itu. Kongregasi La Salette belum memiliki dana untuk membuka sekolah bagi mereka yang datang belakangan. Sementara itu, Republik Ketiga Prancis pun bersikap tak bersahabat terhadap lembaga-lembaga keagamaan. Dengan restu para pemimpin gereja dan dukungan Paus Leo XIII, Berthier pun berangkat ke Belanda. Sejarah kerap menyimpan ironi: pengusiran yang tampak seperti kekalahan justru menjadi benih yang menyebarkan tarekat-tarekat baru ke segenap penjuru dunia, dan MSF adalah salah satunya.
Sepuluh tahun pertama berjalan senyap. Sekolah itu berdiri pada 1895, namun imam lulusan pertamanya baru ditahbiskan sepuluh tahun kemudian.
Bayangkan sosok Cornelis, seorang tokoh rekaan yang telah bekerja sebagai tukang kayu selama dua puluh tahun. Setiap kali berdiri di depan cermin di bengkelnya, selalu ada bisikan lembut yang tak kunjung padam. Suatu malam di kota Grave, ia mengaku kepada teman sekamarnya:
“Aku belajar Latin hingga kepalaku terasa berdenyut. Namun baru kali ini, di sini, aku merasa pulang.”
Nama “Keluarga Kudus” yang disandangnya bukan sekadar hiasan. Sesuai catatan yang disimpan di lingkungan MSF Indonesia, konstitusi pertama jemaat ini menempatkan seluruh karya mereka di bawah teladan Keluarga Kudus dari Nazaret serta perlindungan Bunda Rekonsiliasi dari La Salette. Sosok Yusuf yang bekerja keras, Maria yang setia dan tabah, serta Yesus yang tumbuh dalam kesederhanaan, merekalah yang menjadi teladan bagi para murid.
“Aku Ingin Menghilang dari Pandangan Dunia”
Pada tahun 1908, tiga belas tahun setelah barak reyot itu dihuni kembali, Berthier menyaksikan dua puluh lima imam ditahbiskan dan hampir dua ratus calon bergabung dengan komunitasnya. Dari sekelompok lelaki yang penuh keraguan, lahirlah sebuah keluarga besar.
Kini ia merasa tugasnya telah selesai. Ia menyampaikan keinginannya yang sederhana: “Aku ingin menghilang dari pandangan dunia.” Hari-hari awal Oktober 1908 terasa berat baginya. Ia berpulang pada 16 Oktober 1908 di Grave, berusia enam puluh delapan tahun. Jenazahnya kini beristirahat di pemakaman komunitas di Gunung La Salette, dan Gereja telah menganugerahi gelar Venerabilis kepadanya.
Kita boleh membayangkan doa terakhirnya yang sederhana:
“Tuhan, rumah ini milik-Mu. Jagalah pintunya agar tetap terbuka bagi siapa saja yang datang.”
Orang yang mengira dirinya akan menghilang justru meninggalkan sesuatu yang tak dapat dihapus: sebuah rumah dengan pintu yang tak pernah ditutup.

Menyusuri Sungai Menuju Hutan Kalimantan
Delapan belas tahun setelah kepergian Berthier, tiga orang misionaris Belanda menyusuri sungai berwarna cokelat pekat di Kalimantan. Hutan lebat menutup cakrawala, udara lembap menempel di kulit. Di hulu Sungai Mahakam terletak sebuah kampung bernama Laham.
Mereka adalah Pater Frederich Groot, Pater J. van der Linden, dan Bruder Egidius Stoffels. Tanggal 27 Februari 1926 tercatat sebagai hari kedatangan perwakilan MSF pertama di Indonesia, atas undangan para biarawan Kapusin yang telah berkarya di wilayah itu.
Malam pertama di bawah cahaya lampu minyak, Pater Groot mungkin menulis demikian:
“Sungainya luas dan tak bertepi, hutannya rapat dan tak terjamah. Kami hanya bertiga. Namun, kami tak merasa sendirian.”
Sementara Bruder Egidius, yang terbiasa bekerja dengan tangan, mungkin berkata seraya memaku atap yang bocor:
“Rumah Nazaret pun dulu dibangun dengan palu dan papan, bukan dengan kata-kata indah.”
Perjalanan itu tak mudah. Mereka pindah dari Laham ke Tering, di wilayah Kutai Barat, sebuah langkah yang kini dikenang sebagai titik balik: berani meninjau kembali jalan yang diambil, menyesuaikan diri, dan tidak menyerah. Dari tepian Sungai Mahakam inilah karya MSF berkembang meluas ke Kalimantan Timur, Tengah, hingga Selatan.
Enam tahun kemudian, tepatnya 26 Februari 1932, tiga orang imam MSF tiba di Semarang. Dari sana mereka menyebar ke sepanjang pesisir utara Pulau Jawa, dan berdirilah Provinsi Jawa.
Anak Pribumi yang Menjawab Panggilan
Pada tahun 1936, seorang pemuda dari Temon, Wates, Yogyakarta, bernama Dionisius Adisoedjono melangkah masuk sebagai calon anggota MSF. Ia adalah putra pribumi pertama yang mewujudkan benih panggilan itu di tanah sendiri. Ia menjalani masa pembinaan di Belanda, hingga akhirnya ditahbiskan menjadi imam pada tahun 1942.
Bayangkan saat ia berpamitan dari rumahnya. Di ambang pintu, ibunya bertanya dengan lembut:
“Nak, sejauh itukah tempat yang Tuhan panggil?”
Ia mungkin menjawab tenang:
“Bu, Tuhan tidak memanggil pergi menjauh. Ia memanggil masuk ke dalam rumah yang lebih besar.”
Rumah yang dibuka bagi semua orang kini benar-benar terbuka bagi anak-anak Nusantara. Tak lama kemudian, didirikanlah asrama pendidikan di Yogyakarta yang diberi nama Nazareth, nama yang penuh makna. Hingga kini, para calon imam belajar di sana, sedangkan masa novisiat dilaksanakan di Biara Bethlehem, Salatiga.
Selalu Ada Tempat Lagi
Nama Keluarga Kudus bukan sekadar nama. Bagi MSF, keluarga adalah tempat di mana kesucian dijalani: di dapur yang hangat, di ladang yang luas, di bengkel yang berdebu, maupun di ruang tunggu rumah sakit yang sepi. Maka, pendampingan keluarga, pembinaan iman anak-anak dan remaja, serta pengabdian teladan Keluarga Kudus menjadi tiang utama karya mereka. Tiga kata merangkum semuanya: keluarga, panggilan, misi.
Bagi keluarga yang sedang berjuang, yang lelah mencari nafkah, yang dilanda kesedihan, atau yang retak hubungannya, Nazaret menjadi pengingat: Allah sendiri pernah hidup di rumah yang sederhana seperti rumah kita.
Pada 27 Februari 2026, MSF merayakan genap seratus tahun pengabdian di Indonesia, dengan menegaskan kembali panggilan mereka: mendampingi keluarga dan menyertai kaum muda.
Bangunan bekas barak di kota Grave mungkin telah berubah rupa. Namun pintunya, dalam makna yang sesungguhnya, tak pernah tertutup. Dunia menilai seseorang dengan jam tangan: terlalu tua, sudah terlambat, waktunya berlalu. Namun, seorang imam sederhana dari pegunungan Prancis menjawab hal itu dengan berdiri di ambang pintu, lalu membukanya lebar-lebar.
Dan di rumah yang bernama Nazaret itu, selalu tersedia satu kursi lagi.

