Tuhan Menuntun Kami Menemukan Jejak Leluhur
TUHAN MENUNTUN KAMI MENEMUKAN JEJAK LELUHUR
27 Tahun Kerinduan, Berakhir dalam Syukur
Sharing Mas Harya Sumarta, bertemu dengan jejak leluhur, setelah hampir tiga dasawarsa kehilangan jejak. PBMN memberikan secercah harapan, dan memang benar nyatanya. Kerinduan 27 tahun terbayar lunas.
Ada kerinduan yang tidak pernah benar-benar hilang, meski waktu berusaha menutupinya perlahan-lahan. Ia hanya diam, menunggu saatnya Tuhan membukakan jalan.
Sudah 27 tahun kerinduan itu saya simpan. Sejak Budhe saya, M. Harjo Suwito, wafat pada September 1999, saya belum pernah sekalipun berziarah ke makamnya. Bukan karena tidak ingin, tetapi karena kami kehilangan jejak. Kami tidak tahu di mana beliau dimakamkan.
Budhe Harjo adalah kakak perempuan ayah saya, FA. Martadiwangsa. Beliau memiliki seorang putra tunggal, Rm. Dotohendro, imam Kongregasi MSF. Karena putra tunggalnya menjadi imam, Budhe kemudian mengangkat dua orang menjadi putra angkatnya: Tulus, yang beristrikan Suparmi, dan Suhartanto, kakak kandung saya, yang diminta Budhe menjadi putranya.
Romo Doto sendiri telah lebih dahulu dipanggil Tuhan pada tahun 1984. Kini, kedua putra angkat Budhe itu pun telah mendahului kami menghadap Bapa di surga.
Satu demi satu, orang-orang yang menyimpan ingatan itu pergi. Jejak Budhe pun seolah ikut terkubur bersama waktu. Kerinduan untuk datang, berdoa, dan sekadar berdiri di dekat makamnya, tinggal menjadi doa yang saya ucapkan dalam hati.
Sampai akhirnya, Tuhan menjawab dengan cara yang sangat sederhana.
Sepulang melayat YS Wibawa Singgih di Rumah Duka RS Panti Rapih, Mas Thomas Wikarto mengajak kami mampir ke rumah Mas Partono. Di sanalah saya baru tahu, Mas Partono tinggal di Ngabean, yang dahulu dikenal sebagai Klaseman, tempat Budhe Harjo pernah tinggal.
Perjumpaan yang tidak direncanakan itu ternyata menjadi titik terang. Dari percakapan sederhana, terbukalah petunjuk yang selama puluhan tahun kami cari.
Dan hari ini, tepat pada Hari Raya Peringatan Arwah Semua Orang Beriman, 2 November 2026, kerinduan selama 27 tahun itu akhirnya terjawab. Kami menemukan makam Budhe Harjo.
Air mata syukur tak terbendung. Yang kami temukan bukan sekadar sebuah makam, melainkan kembali menemukan jejak keluarga, jejak leluhur, dan jejak kasih yang pernah terputus.
Terima kasih, Mas Partono, atas kebaikan dan petunjuknya. Melalui Anda, Tuhan membuka jalan yang selama ini tertutup bagi kami.
Hari ini kami semakin percaya, tidak ada kerinduan yang luput dari perhatian Tuhan. Ia menuntun melalui peristiwa sederhana, perjumpaan yang tak disengaja, dan kebaikan sesama.
Budhe, hari ini kami datang. Kami mengenang, kami mendoakan, dan kami bersyukur pernah menjadi bagian dari keluarga Budhe.
Semoga Budhe beristirahat dalam damai abadi bersama Tuhan. Requiescat in pace.
Pengalaman saya kemarin. Berkat pertolongan anggota PBMN, mas Partono
Harya Sumarta

