Suara Kenabian yang Dibayar Nyawa
Renungan harian
Jumat, 29 Agustus 2025
Peringatan Wajib Wafatnya St. Yohanes Pembaptis
Oleh Susy Haryawan
Anak itu pergi dan menanyakan ibunya: “Apa yang harus kuminta?” Jawabnya: “Kepala Yohanes Pembaptis!”(Mrk. 6:17-29)
Saudara terkasih, hari ini kita memperingati wafatnya Santo Yohanes Pembaptis. Ia wafat karena keberaniannya menyatakan kebenaran. Siapa yang berani mengatakan kesalahan yang dilakukan penguasa, apalagi saat itu, di mana hakimnya adalah kaisar itu sendiri. Hukumannya adalah kematian yang akan diterima. Kepalanya terpenggal.
Kita bisa belajar beberapa hal dengan peristiwa wafatnya Yohanes Pembaptis;
Pertama, mengenai suara kenabian, bagaimana tugas kita juga, terutama di era post truth, di mana kebenaran bisa bias karena pembentukan opini. Kita sebagai anak-anak Allah memiliki peran untuk tetap setia pada kebenaran, apapun risikonya. Berani tidak?
Kedua, di tengah masyarakat yang sangat mengagung-agungkan mayoritas, kesamaan apapun bentuknya, berani tidak berbeda, meskipun itu sendirian? Sangat tidak mudah, namun itu bukan tidak mungkin.
Ketiga, belajar setia sampai akhir. Yohanes Pembaptis tetap setia membela kebenaran sampai pada akhirnya. Melawan arus pun ia berani menanggung risiko itu.
Saudara terkasih, di tengah arus dunia informasi yang berpengaruh pada keadaan pembentukan opini untuk “membentuk” kebenaran sesuai kepentingan, beranikah kita sebagai murid-murid Yesus meneladan Yohanes Pembaptis. Menyuarakan kebenaran, dalam karyanya ia berseru-seru di padang gurun, bukan jalan ramai penuh kemegahan, viral, atau sorak-sorai kemegahan. Yohanes Pembaptis sebelum dipenggal, hidup dalam jalan sunyi.
Hidup di negeri ini, panggilan Yohanes Pembaptis menemukan kontekstualisasinya. Bagaimana sebagai minoritas sering mengalami pengalaman tidak enak, urusan sering ribet, mau jadi ini susah, bersuara kena pasal penistaan agama, dan berani tidak tetap berjalan di tempat yang tidak nyaman ini?
Pilihan yang tidak mudah, lebih sering pindah server untuk memperoleh jabatan, pekerjaan, atau keamanan hidup, dari pada menapak di jalan yang susah. Pengalaman sampai kematian Yohanes Pembaptis kiranya bisa menjadi teladan, motivasi, dan kekuatan, bahwa pernah terjadi dan itu bisa dilakukan.
Berani memilih berjalan di dalam kebenaran, mungkin tidak populer, bisa jadi kehilangan jabatan, pekerjaan, teman, itu belum seberapa. Toh Yohanes Pembaptis sudah lebih dulu melakukannya, dan itulah mutu hidup yang layak diteladani.
Doa: Allah Bapa Mahakuasa, Syukur bahwa kami boleh mendapatkan inspirasi dari rasul-Mu, Yohanes Pembaptis, yang berani bersuara lantang mengenai kebenaran. Nyalakanlah api keberanian kami, di tengah masyarakat kami yang sering membuat kami sulit bergerak. Namun kami percaya bahwa Engkau hadir untuk mengokohkan kaki-kaki kami untuk tetap mampu melangkah. Kobarkanlah semangat kami dalam membela dan berpihak pada kebenaran, meskipun terkadang kami takut, jerih, dan mau mundur atau berpaling. Semoga semangat Yohanes Pembaptis mampu menggerakkan hati kami untuk tetap setia pada jalan panggilan-Mu dalam memilih kebenaran, bukan pembenaran. Amin
Salam JMJ

