Tuhan Mampukan Kami Jadi Tanah Subur

Tuhan Mampukan Kami Jadi Tanah Subur

Renungan Harian

Sabtu, 20 September 2025

Oleh Ansgarius Hari 45 Wijaya


Lukas 8: 4-15


Sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, di tanah yang berbatu-batu, di tengah semak duri, sebagian jatuh di tanah yang baik.
Sudah beratus bahkan mungkin beribu kali kita mendengar/ membaca kisah dalam perumpamaan ini. Kita akan coba menyegarkan kembali pesan Sabda Tuhan dari perikop ini.
Benih adalah sabda Tuhan yang ditaburkan dalam hati manusia, digambarkan dalam catatan ini. Kondisi hati manusia dengan aneka macam ini mengambarkan disposisi hati yang menerima sabda Tuhan yang disampaikan kepadanya.

Tanah dipinggir jalan mengambarkan hati manusia yang sama sekali tidak peka, bahkan mungkin menolaknya. Maka benih tidak sempat tumbuh pada kondisi hati manusia yang seperti ini. Sabda Tuhan mendapat prasangka buruk dalam kondisi hati seperti ini. Mungkin saja sabda Tuhan itu akan terasa membebani bagi hati dalam jenis ini. Mungkin juga yang bersangkutan sudah memiliki pegangan iman yang berbeda yang sudah dimiliki. Mungkin hati seperti ini tidak mampu melihat Sabda Tuhan yang mempu mengubah hidup manusia menjadi lebih baik, karena melihat orang-orang yang sudah mengimaninya juga bukan orang yang sempurna, bahkan hidup orang yang sudah beriman menjadi batu sandungan baginya.
Tanah berbatu, menggambarkan hati yang menerima Sabda Tuhan namun merespons dengan keengganan, tidak ada keinginan untuk mendalami lebih lanjut, maka kendatipun sempat tumbuh karena kurang berakar maka mati layu sebelum tumbuh lebih lanjut. Jenis hati seperti ini sudah sedikit terbuka. Bisa melihat kebaikan yang ada dalam Sabda Tuhan. Namun tidak ingin mengolah dan merawatnya lebih lanjut. Tanggapannya hanya suam-suam kuku. Tidak serius. Sehingga pertumbuhan yang sudah mulai tidak dapat bertahan lama.


Tanah dengan semak berduri, mengambarkan kondisi hati yang semula dengan gembira memberikan respons yang baik sehingga sempat tumbuh namun karena himpitan berbagai kepentingan duniawi menjadi mati “tercekik”. Di sini digambarkan bahwa kondisi yang mencekik itu adalah kekayaan, kesenangan, kekuatiran duniawi. Maka meskipun benih dapat tumbuh ia tidak menghasilkan buah sama sekali. Hati jenis ini sudah sempat mengimani sabda Tuhan. Tetapi hatinya belum bersauh di dalamnya. Banyak pilihan lain yang dia pertimbangkan. Pilihan-pilihan lain itu membuat hatinya goyah. Tidak kokoh dalam menghayati iman, karena mengikuti Sabda Tuhan menuntut pengurbanan. Ketekunan dan kesabaran.

Bahkan kadang tidak mendatangkan keuntungan materi atau keuntungan duniawi lainnya. Kekayaan yang dimiliki tidak dapat digunakan sesuka hati – harus ada kewajiban untuk memanfaatkan kekayaan itu bukan saja untuk kepentingan sendiri, keluarga dan kelompok. Tetapi harus juga bersifat sosial. Menuntut kemurahan hati, tidak dapat digunakan untuk mendapatkan kesenangan jasmani, untuk kebanggaan diri – flexing, menikmati kesenangan jasmaniah dalam kelekatan afeksi, dapat menikmati makanan dan minuman yang berlebihan, relasi dengan lawan jenis yang tidak teratur dalam kebebasan seksual dengan siapa saja, menyuap untuk mendapatkan kekuasaan dan kekayaan yang lebih berlimpah. Hati jenis ini juga memiliki kekuatiran duniawi yang berlebihan. Takut menderita sengsara, takut miskin, takut menjadi orang biasa saja, takut menjadi orang yang tidak popular, takut untuk menjadi bukan siapa-siapa. Takut menderita sakit. Takut kehilangan relasi dengan orang lain yang bisa mendatangkan pujian dan kesenangan dunia yang tidak abadi. Takut direndahkan-takut dihina. Takut tidak memiliki jabatan tinggi. Seringkali niat baik tidak terwujud dalam kenyataan. Ada jurang pemisah antara apa yang ada dalam hati dan pikiran dengan perbuatan baik yang seharusnya dilakukan. Yang baik hanya berhenti dalam angan-angan.

Bahkan dapat jadi sabda Tuhan yang sudah tertanam di dalam hati dan sudah dirawat sekian lama dikianatinya. Akhirnya hidupnya mandul tidak membuahkan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain.
Tanah subur, dalam hati yang memiliki disposisi seperti tanah subur ini benih tumbuh baik dan akhirnya menghasilkan banyak buah. Ada yang seratus kali lipat. Jenis ini yang diharapkan dihidupi oleh orang beriman. Sabda Tuhan yang tertanam dalam hati dihidupi di dalam kenyataan sehari-hari. Ajaran iman dilaksanakan dalam perbuatan. Baik yang bersifat ritual peribadatan maupun dalam tindakan moral.
Selalu memohon bantuan Roh Kudus agar dapat menjadi orang yang bijaksana, yang selalu mencintai dan mengutamakan cita-cita surgawi, Menghindari jeratan dosa dari dunia ini. Selalu memohon terang akal budi dari Roh Kudus untuk dapat memahami ajaran Yesus dan melaksanakan pemahaman akan ajaran itu dalam kehidupan sehari-hari. Selalu memohon nasehat Roh Kudus agar terus melakukan hal-hal yang baik dan menjauhi yang jahat. Sadar diri akan kelemahan-kelemahan manusiawi yang melekat dan selalu mohon kekuatan dari Tuhan untuk tetap tabah dalam menghadapi kesulitan dan penderitaan yang tidak dapat dihindari dalam perjalanan hidup. Selalu berusaha “memegang tangan” Tuhan yang menuntun perjalanan hidupnya.

Memohon kepada Tuhan agar diberikan kesadaran bahwa kehidupan duniawi ini hanya sementara saja sifatnya. Menghindari untuk tidak terbuai – menikmati kemegahan duniawi saja, dan lupa bahwa ada sesuatu yang sifatnya lebih abadi. Mohon bimbingan agar mampu menggunakan hal-hal duniawi untuk kemuliaan Tuhan. Berusaha untuk terus berbakti kepada Tuhan. Tahu berterima kasih dan selalu bersyukur atas segala kebaikan Tuhan dan berani menjadi teladan kesalehan bagi orang-orang disekitarnya. Selalu bertakwa kepada Tuhan dimanapun dia berada dan selalu berusaha melakukan hal-hal yang berkenan kepada Tuhan.


Kita boleh memiliki keyakinan jika hal-hal di atas selalu kita perjuangkan untuk diwujudkan dalam hidup kita, maka dalam status apapun hidup kita : apakah kita seorang awam, seorang biarawan-biarawati ataupun imam, kita akan dapat menghasilkan buah beratus kali lipat dalam kehidupan kita.
Semua langkah itu akan membuahkan hasil berlimpah jika dilambari dengan ketekunan, kesabaran, dan juga ketahanan dalam menghadapi berbagai persoalan yang dijumpai dan terus tidak menyerah dalam mengatasi berbagai pencobaan dengan kesadaran bahwa berkat Tuhan selalu memberikan kekuatan dalam kehidupan tidak pernah berkurang.


Tuhan mampukan kami menjadi tanah subur yang menghasilkan banyak buah. Amin.
Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *