Buanglah Beban
Seorang murid bertanya kepada guru, bagaimana ia bisa bersikap tenang dan selalu damai dengan diri sendiri padahal begitu banyak peristiwa dan murid lain yang sering mengecewakannya. Sang guru tersenyum. Ia mengambil sebuah batu seukuran kepalan tangan, dan menunjukkannya kepada murid, seraya berkata, “Kantongi batu sebesar ini setiap kali Anda mendapatkan pengalaman, juga bertemu dengan orang yang mengecewakanmu. Dan, kembalilah ke sini beberapa hari lagi.”
Murid itu menaati nasihat guru. Dalam setengah hari ia sudah mengantongi beberapa batu. Sepanjang satu hari semakin banyak batu yang dikumpulkan dan dikantonginya. Dengan beban berat yang dibawa, murid itu berkata, “Berat sekali Guru. Saya tak sanggup melakukannya. Ini baru satu hari, bagaimana hari-hari selanjutnya? Saya mungkin tidak akan sanggup untuk membawa batu-batu ke sini. Beban bagi diri saya.”
Sang Guru menyunggingkan senyum dan berkata kapada muridnya. “Begitulah yang kita rasakan. Jika kita setiap hari harus menyimpan sakit hati, iri, dengki, dan berbagai perasaan menderita lainnya, maka akan menjadi beban hidup kita. Berat Nak, berat rasanya. Apalagi jika harus terus-menerus membawa beban berat itu sepanjang hidup kita ….” Kini, giliran murid itu yang tersenyum. Ia bergegas membuang semua batu yang seharian membebani dirinya. .
Kita tidak akan pernah belajar berani dan sabar jika kita tidak pernah mengalam sukacita di dunia.
– Helen Keller –

