Guru Indonesia, Nasibmu Kini

Guru Indonesia, Nasibmu Kini


PGRI ke Mana?


Kaisar Jepang, ketika negaranya dibom oleh Amrik dan akhirnya menyerah kalah, bertanya berapa guru yang masih selamat? Ia tidak bertanya berapa tentara yang masih dimiliki, mesin perang yang masih bisa aktif, namun bertanya jumlah guru. Mengapa? Karena guru bisa menghasilkan tentara, memproduksi mesin dan alat perang yang lain. Peran guru dianggap dan ada dalam pemikiran bijak kaisar yang kalah perang.


Beberapa hari terakhir, negeri ini disuguhi berita mengenai nasib guru yang tragis. Kisah pertama, kepala sekolah di Prabumulih dipecat walikota setempat karena menegur muridnya Perempuan yang mengendarai mobil ke sekolah. Anak SMP mengendarai mobil ke sekolah lagi, pastinya belum ada SIM. Eh walikota yang sekaligus bapak si anak tidak terima. Mengaku sekadar menegur, bukan memecat. Jika menegur saja sudah salah. Memangnya pendidik itu karyawan, atau pekerjanya walikota seperti tukang kebun, sopir, atau ART?


Peristiwa kedua, ketika anak polisi menganiaya gurunya yang melapor pada guru BK. Penganiayaan pada guru di depan orang tuanya yang polisi. Kedua kisah itu mempertontonkan kekuasaan pihak lain, dalam hal ini walikota dan polisi terhadap guru, pendidik. Guru seolah karyawan, buruh, bahkan budak dari penguasa.


Eh, malah ada elit yang menganjurkan guru untuk mencicipi menu MBG apakah beracun atau tidak. Lihat, seolah guru itu sebuag profesi rendahan, sekelas budak, yang menjadi kelinci percobaan. Sekadar pelengkap di dalam system bernegara ini.


PGRI Jangan Diam!


Selama ini tidak pernah terdengar PGRI atau serikat guru lainnya yang hadir bersama guru. Mereka seolah terdiam takut, dan tidak berbuat apa-apa. Posisi guru itu sejatinya sentral, strategis, dan penting. Namun PGRI dan serikat guru yang lain malah inferior di muka penguasa, kepala daerah, profesi lain, dan pengabdi setia pada itu semua. Padahal harusnya guru yang dimuliakan, karena mereka bisa menjadi apa saja karena jasa guru.


Miris memang, karena sering ijazah itu beli, jadi tidak akan paham susah payahnya guru dalam mengajar, mendidik, dan menjadikan anak yang tidak tahu apa-apa menjadi sesuatu. Mau mimiliki kesadaran bagaimana, jika mereka ini besar dalam kesombongan dan kebebalan. Hidup tanpa pendidikan namun memiliki kekuasaan yang diperoleh dengan curang.


UU yang menyudutkan guru, malah bisa dipidana, membuat posisi guru sangat lemah. Gampang, biar saja muridnya jadi apa, bahkan sampai sekolah menengah atas belum bis abaca tulis dengan baik. Karena takut kena pasal hak asasi dan haka nak. Mereka, si anak menjadi kurang ajar, apalagi model orang tua, yang sama bodohnya. Guru hanya bisa mengelus dada, prihatin, kata Pak Beye.


PGRI dan serikt guru yang lain harus bersuara. Kenabian itu harus terus bersuara, bukan hanya diam saja, penghamba pada pihak lain dengan mengorbankan kolega sendiri. Jangan terus diam, diam itu emas tidak pada tempatnya.


Salam JMJ

Susy Haryawan

2 thoughts on “Guru Indonesia, Nasibmu Kini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *