REKONSILIASI
BRAMIN 9
Episode sebelum ini saya bercerita tentang pengenalan saya dengan pak Broto Santoso dan
perjalanan kami pulang bersama-sama dari pertemuan di Rawamangun. Saya sudah mencoba
mengingatnya Kembali mungkin pertemuan itu pertemuan bersama dengan Rm. Wim van de
Weiden MSF yang sedang berkunjung ke Indonesia menjelang berakhirnya masa jabatan sebagai
Jenderal MSF pada periode ke dua di tahun 2007.
Siapa yang tidak kenal Rm. Wim? Semua dari generasi terdahulu anggota Bramin sampai
generasi terbaru mengenalnya. Beliau sudah berkarya di Indonesia sejak Oktober 1969 sebagai
dosen Kitab Suci Perjanjian Lama di Institut Filsafat Teologi Kentungan yang kemudian berubah
nama sebagai Fakultas Teologi Wedabakti. Saat ini juga merupakan Fakultas Teologi
Universitas Sanata Darma. Beliau sengaja memilih Indonesia untuk tempat berkarya sebagai
dosen Kitab Suci, meskipun mendapat tawaran mengajar di Universitas ternama di Eropa setelah
lulus doktoralnya di akhir tahun 1968. Tawaran mengajar di tanah misi sesuai dengan cita-
citanya itu datang dari Kardinal Justinus Darmo Juwono yang ia ibaratkan sebagai hadiah
terindah dari Santo Nikolaus di masa Natal. Tugas mengajarnya baru berakhir di tahun 2015.
Pada waktu merayakan ulang tahun emas Imamatnya beliau sampaikan kurang lebih sudah 2000-
an calon imam, 30 calon uskup dan 1 calon Kardinal yang pernah menjadi mahasiswanya di
Seminari Tinggi Kentungan. Tepat pada Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam, Minggu tanggal
26 November 2017, Rm. Wim van der Weiden MSF dipanggil Tuhan pada usia 81 tahun di Biara
Nazareth, Skolastikat MSF Jogjakarta. Sejak awal beliau telah memilih Indonesia sebagai tempat
istirahatnya yang terakhir. Pusaranya dimakamkan di Sasana Golgota sebelah Selatan Biara
Nasaret bersama-sama dengan para Romo MSF yang sudah dipanggil Tuhan.
Saya ingin bercerita banyak hal mengenai Rm. Wim karena beliau adalah pembimbing Rohani
saya di Skolastikat MSF, namun saya harus membatasi diri sesuai dengan judul tulisan ini.
Dalam cerita sebelumnya ada para mantan yang berhenti dari biara bukan karena dikehendakinya
sendiri. Kekecewaan itu terungkap dalam sharing-sharing yang pernah disampaikan dalam
pertemuan.
Pada saat Rm. Wim sebagai Superior Jenderal MSF datang di Rawamangun kami para
Braminers berkumpul kembali di aula paroki Rawamangun. Pada waktu itu di luar masa Natal
atau Paskah yang biasanya dipilih untuk waktu berkumpul. Pilihan ini sengaja di rancang
bersamaan waktunya dengan kehadiran Rm. Wim. Dalam pertemuan itu Rm. Wim
menyampaikan terima kasih karena dukungan doa para Braminers, beliau diberikan berkat
kesehatan yang prima. Karena sepanjang menjadi seorang Superior Jenderal beliau harus
mengadakan perjalan visitasi dari Provinsi-Provinsi MSF di seluruh dunia yang tersebar dalam
berbagai wilayah benua. Dari Afrika, Amerika, Eropa, Asia. Tiada henti. Turne – turu kono-turu
kene. Jika tidak didukung dengan doa – mungkin beliau akan merasa sangat menderita kelelahan
(exhausted).
Dari sejumlah kisah duka cita yang mengecewakan terhadap Konggregasi MSF yang
disharingkan para Braminer pada saat diputuskan mundur bukan karena kehendaknya sendiri.
Romo Wim sebagai Superior Jenderal merespons dengan permintaan maaf. Semua masa lalu
yang telah menyakitkan para konfrater yang tidak lanjut dalam Konggregasi MSF diambil alih
sebagai bagian tanggung jawabnya untuk dilakukan perbaikan di masa yang akan datang.
Pada kesempatan itu Rm. Wim juga menghimbau khususnya bagi para Romo yang sudah
mengundurkan diri dari imamat agar mengusulkan permohonan ke Roma, supaya proses
laikalisasinya dapat segera turun. Mengingat proses itu sangat penting dalam kehidupan
selanjutnya karena senyatanya sudah menjalani hidup dalam keluarga, hal itu perlu agar tidak
menjadi ganjalan dalam hati. Jika ada kesulitan Konggregasi akan membantu. Bila mana perlu
permohonan dapat dituliskan dalam bahasa Indonesia. Konggregasi akan membantu
menterjemahkannya. Romo Wim memuji sikap Rm. Hasto Wijoyo saat mengundurkan diri dari
imamat, berproses dengan baik dan saat beliau menyampaikan itu laikalisasi Bapa Paus dari
Roma untuknya sudah turun.
Saya merasa begitulah tanggung jawab seorang pemimpin sekelas Superior Jenderal untuk
kesejahteraan semua anggotanya – bukan saja anggota yang masih dalam status berada dalam
biara tetapi juga kita anggota Bramin yang sudah lepas atau melepaskan diri dari status itu
khususnya yang pernah tertahbis sebagai imam. Sebagaimana pernah kita baca dalam konstitusi
Konggregasi MSF kita yang sudah keluar dari biarapun masih dianggap memiliki relasi dalam
semangat kekeluargaan. Anggota yang terluka masih dirasa sebagai tanggung jawabnya untuk
mendapatkan kesembuhan. Luar biasa.
Tidak semua anggota Bramin pada waktu mengundurkan diri dari Konngregasi mengalami luka
batin, karena berhenti atas kehendak sendiri. Atau pada saat keluar dari Konggregasi juga
diperlakukan dalam semangat persaudaraan dan kekeluargaan yang dihayati dalam Konggregasi.
Penegasan dari Superior Jenderal itu adalah penegasan yang menjadi bagian dari Rekonsiliasi
dalam semangat Keluarga Kudus Pelindung Konggregasi MSF.
Saya sendiri merasa meskipun dulu tidak menghendaki keluar dari diri sendiri dan sempat sakit
hati karena dianggap tidak akan berbahagia jika terus memilih panggilan hidup imamat, akhirnya
sungguh menyadari setelah teruji dalam kehidupan di luar biara yang penuh tantangan dan
berhasil menghilangkan kekuatiran akan masa depan, baik menjadi seorang imam atau awam.
Hal itu dapat saya temukan karena pengolahan diri terus menerus untuk mencoba menemukan
kehendak Tuhan dalam hidupku – karena Rahmat Tuhan. Hal itu juga tidak lepas dari
penerimaan dan pengakuan pribadi-pribadi yang pada saat menyampaikan pendapatnya sungguh
menganggap kita yang gagal dalam panggilan tetap merupakan pribadi yang berharga di mata
Tuhan dan sesamanya. Kian lama kian menemukan diri bahwa keputusan pimpinan itu adalah
tuntunan dari Tuhan bagiku untuk mengarahkan hidup menjadi bahagia sesuai dengan kehendak-
Nya.
Rekonsiliasi yang paling penting adalah rekonsiliasi dengan diri sendiri. Dimana kita mengakui
kerapuhan diri. Jujur terhadap diri sendiri di hadapan Tuhan. Tanpa kekuatan Tuhan, kita tidak
memiliki kekuatan yang muncul hanya dari diri sendiri. Jika kita bisa kuat berbuat kebaikan –
semua itu lantaran kita dikuatkan oleh Rahmat Tuhan.
Dalam status apapun apakah di dalam biara – atau diluar biara – tertahbis – tidak sampai
tertahbis. Kita semua dipanggil kepada kesucian. Tetapi kita sadar – kesucian itu hanya milik
Tuhan. Kita hanya dapat ambil bagian karena Rahmat-Nya. Puji Tuhan.
Rekonsiliasi dengan diri sendiri itu sebenarnya sudah selalu saya dapatkan dahulu ketika
meminta bimbingan dari Rm. Wim sebagai Bapa Rohani. Beliau sungguh memberikan
bimbingan yang tidak mengancam dan menakutkan tetapi – bersama-sama mencoba mengajak
kita untuk mencari kehendak-Nya. Saat saya dengan jujur menyampaikan bahwa saya sedang
jatuh cinta dengan seseorang, Bapa pembimbing tidak menghakimi. Tetapi mengajak untuk
melihat kembali jejak panggilan dan pilihan yang sudah diputuskan dahulu. Jika keputusan
dahulu itu dirasa keliru, bisa saja untuk segera mengambil keputusan yang lain. Mengganggap
jatuh cinta itu sesuatu yang wajar, karena saya seorang laki-laki sejati. Dan juga dijelaskannya
sifat-sifat wanita yang biasanya merasa aman jika bertemu dengan laki-laki yang dirasa akan bisa
menjadi andalan sebagai pelindungnya. Saya tidak diadili. Tetapi saya dibimbingnya untuk
menemukan lagi kehendak Tuhan yang tampaknya menjadi samar karena perasaan jatuh cinta
itu. Saya berani mengungkapkan dengan jujur apa yang ada dalam hati saya karena Rm. Wim
sungguh seorang Bapa yang penuh kasih. Saya dapat membayangkan kisah anak yang hilang
dalam Lukas 15: 11-32 yang terkenal itu. Saya menemukan pribadi seorang Bapa itu dalam diri
Rm. Wim yang selalu memberikan arah yang benar dalam mencari kehendak Tuhan.
Masih banyak kisah lain bagaimana Rm. Wim mendampingi saya dalam dinamika dan tantangan
menempuh panggilan untuk menjadi imam. Meskipun saya tidak sampai ditahbiskan. Tetapi
kenangan akan bimbingannya untuk terus melakukan rekonsiliasi tidak hilang. Dan tetap hidup
dan berguna meskipun akhirnya saya dipanggil Tuhan menjadi seorang Bapak Keluarga.
Pagi ini saya menemukan ayat doa yang berkesan dihati dari Ibadat Bacaan potongan dari
Mazmur 36 dibawah Antifon 3. Doa Brevir hari Selasa Pekan II. Buku hlm 527. Doa ini
mengingatkan saya pada Rm. Wim yang selalu mendoakan Brevir setelah misa pagi sambil jalan
ke utara-selatan di halaman depan Gereja Banteng membaca brevirnya.
Keselamatan orang jujur berpangkal pada Tuhan * Tuhan menguatkan mereka dalam kesesakan.
Tuhan akan membebaskan dan menyelamatkan mereka * Ia meluputkan mereka dari orang jahat.
Tuhan akan menjamin keamanan mereka* sebab mereka mencari perlindungan pada-Nya
Romo Wim. Romo pasti sudah menikmati jaminan perlindungan Tuhan seperti doa dari ibadat
bacaan pagi ini. Doa kami semua. Kami percaya pasti romo Wim sudah berbahagia bersama
Allah Tritunggal dan Keluarga Kudus di surga.
Jakarta, 28 Oktober 2025
Ansgarius Hari 45 Wijaya


Mas Hari, terimakasih untuk sharing yang luar biasa, meneguhkan dan menguatkan….mari hidup berdamai dengan diri sendiri dan orang lain. Kita tinggalkan masa lalu, ambil hikmahnya, menjadi bekal untuk menjalani kehidupan. Salam Sehat Rohani Jasmani…SeRoJa…Berkat berlimpah