Bayang-Bayang Orde Baru Jilid Dua dalam Balutan Aturan Baru (5)

Bayang-Bayang Orde Baru Jilid Dua dalam Balutan Aturan Baru (5)

Ketika kita mulai bertindak (bertanya, mengawasi, menolak diam) kita kerap merasa sendirian. Seolah Indonesia sedang mengalami anomali tersendiri. Padahal, sejarah dunia penuh dengan bangsa yang pernah berdiri di persimpangan yang sama: di antara godaan stabilitas semu dan keberanian mempertahankan prinsip.

Mereka yang memilih jalan mudah, melegitimasi kekuasaan ganda demi “ketertiban”, akhirnya kehilangan lebih dari yang mereka kira: bukan hanya kebebasan, tapi juga kemampuan untuk mengenali ketidakadilan ketika ia datang berpakaian rapi, membawa surat resmi, dan tersenyum sopan. Inilah saatnya kita belajar bukan dari musuh, tapi dari cermin: negara-negara yang pernah salah langkah, lalu berusaha bangkit, atau justru terperosok semakin dalam. Karena kearifan tak selalu lahir dari pengalaman sendiri; terkadang, ia datang dari kegagalan orang lain yang mau kita dengar.

Seri 5: Ketika Negara Lain Gagal Belajar, Pelajaran dari Chile, Turki, dan Thailand

Indonesia bukan satu-satunya negara yang kembali menghadapi bayang-bayang dwifungsi. Di Chile, usai jatuhnya diktator Pinochet (1990), transisi demokrasi sempat berjalan mulus, hingga 2010-an, ketika mantan perwira militer kembali ditempatkan di kementerian keamanan dan intelijen, secara perlahan menggerus reformasi intelijen sipil.

Di Turki, setelah kudeta gagal 2016, Presiden Erdoğan justru memperluas penempatan personel intelijen aktif di universitas, media, dan lembaga keuangan, bukan untuk keamanan, tapi untuk pengendalian politik.

Di Thailand, junta militer pasca-kudeta 2014 membentuk “jabatan khusus” di birokrasi sipil bagi perwira aktif, dengan dalih “stabilitas nasional”, yang pada praktiknya digunakan untuk mengawasi oposisi dan mengontrol anggaran daerah.

Pola yang sama berulang: Awalnya kecil: hanya berupa “penugasan sementara” atau “tim khusus”. Legalistik: dibungkus aturan administratif, bukan UU. Dibenarkan narasi krisis: terorisme, korupsi, atau ancaman keamanan non-tradisional. Dan Efek jangka panjang: lembaga sipil kehilangan otonomi, masyarakat kehilangan kepercayaan.

Pola ini menggambarkan mekanisme klasik dari erosi demokrasi secara bertahap (democratic backsliding), di mana kekuasaan ekstra-konstitusional dibangun melalui langkah-lcremental. Dengan berawal dari kebijakan administratif yang tampak teknis dan temporer, pola ini menghindari uji publik dan legislatif yang ketat.

Narasi krisis kemudian dimanfaatkan untuk menciptakan keadaan darurat permanen, yang melegitimasi konsentrasi kekuasaan. Akibatnya, terjadi pergeseran struktural jangka panjang: lembaga sipil direduksi menjadi pelaksana, sementara ruang partisipasi dan kepercayaan publik menyusut, membuat sistem menjadi lebih rentan terhadap otoritarianisme.

Yang membedakan negara yang berhasil bertahan demokrasinya adalah: Pertama, Adanya early warning system dari masyarakat sipil. Kedua, Media yang bebas dan kritis terhadap normalisasi kekuasaan ganda. Dan ketiga, Lembaga peradilan yang berani membatalkan aturan inkonstitusional, tanpa takut tekanan.

Ketiga faktor ini merupakan pilar penopang ketahanan demokrasi yang saling memperkuat. Early warning system dari masyarakat sipil memberikan deteksi dini dan tekanan dari akar rumput. Media bebas yang kritis berfungsi sebagai pengawas publik yang menyebarkan informasi dan menjaga agar kekuasaan tetap terpapar cahaya (sunlight principle).

 Sementara itu, lembaga peradilan yang independen dan berani bertindak berperan sebagai penjaga konstitusi (guardian of the constitution), yang mampu membatasi ekses kekuasaan melalui instrument hukum. Ketiganya bersama-sama membentuk sistem “checks and balances” ekstra-institusional yang vital, terutama ketika mekanisme formal demokrasi menghadapi ujian.

Indonesia pernah menjadi contoh sukses reformasi pasca-otoritarian. Tapi keberhasilan itu rapuh. Sejarah tak mengulang dirinya persis, tapi ia berulang dalam logika. Dan logika kekuasaan, yang selalu ingin melebar, mengakar, dan mengendalikan, belum pernah berubah. [bersambung ke Seri 6: Mereka yang Masih Menyalakan Lilin di Tengah Badai]

Alfred Jogo Ena

Alfred Jogo Ena

Seorang editor yang suka menulis dan guru agama di beberapa sekolah menengah di Yogyakarta. Ia juga melayani pelatihan dan konsultasi penulisan buku

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *