Mendalami Doa Bapa Kami dalam Injil Matius
Catatan pengajaran dari Mgr. Ignatius Kardinal Suharyo
Pengantar
Doa Bapa Kami adalah doa yang diajarkan langsung oleh Yesus kepada para murid-Nya. Doa ini bukan sekadar doa hafalan, melainkan doa yang membentuk jati diri dan komitmen seseorang sebagai murid Kristus. Dengan mendoakan doa ini, seorang murid diajak untuk menata seluruh hidupnya dalam terang kehendak Allah.
Doa sebagai Ruang Batin
Berdasarkan Matius 6:6, Yesus menasihatkan agar orang yang berdoa masuk ke dalam “kamar” dan menutup pintu. Kardinal Suharyo menegaskan bahwa yang dimaksud bukan ruang fisik, melainkan “ruang batin”, yaitu hati manusia sebagai pusat kehidupan. Doa menjadi pintu masuk ke ruang batin itu, tempat relasi terdalam antara manusia dan Allah terjalin.
Doa Bapa Kami: Doa Para Murid
Doa Bapa Kami diajarkan Yesus secara khusus kepada murid-murid-Nya, yakni mereka yang sungguh ingin mengikuti-Nya. Karena itu, doa ini menuntut kesadaran dan komitmen. Doa Bapa Kami seharusnya tidak didaraskan secara asal atau sekadar hafalan, melainkan dengan tekad untuk semakin menjadi murid yang setia.
Struktur Doa Bapa Kami
Doa Bapa Kami memiliki struktur yang jelas: tiga permohonan pertama berpusat pada Allah, dan tiga permohonan berikutnya berkaitan dengan kebutuhan manusia. Urutan ini mengajarkan bahwa Allah harus ditempatkan sebagai yang utama dalam hidup. Hanya jika Allah diberi tempat pertama, seluruh aspek hidup manusia akan tertata dengan benar.
Tiga Permohonan untuk Hidup Manusia
Permohonan akan rezeki sehari-hari menyangkut masa kini, permohonan pengampunan berkaitan dengan masa lalu, dan permohonan agar tidak jatuh ke dalam pencobaan mengarahkan manusia pada masa depan. Dengan demikian, seluruh perjalanan hidup : masa lampau, kini, dan mendatang, diserahkan kepada penyelenggaraan Allah.
Dimensi Tritunggal dalam Doa
Di balik ketiga permohonan tersebut tersirat iman akan Allah Tritunggal. Allah Bapa adalah pencipta dan penyelenggara hidup, Yesus Kristus adalah penebus yang mengampuni dosa, dan Roh Kudus adalah pendamping yang meneguhkan manusia agar tidak jatuh dalam pencobaan.
Allah sebagai Bapa
Menyebut Allah sebagai Bapa merupakan pewahyuan yang revolusioner. Berbeda dengan gambaran ilah-ilah dalam agama-agama kuno yang penuh iri dan kekuasaan, Allah yang diwartakan Yesus adalah Bapa yang penuh kasih. Keyakinan ini membentuk relasi yang sehat dengan dunia, dengan sesama, dengan diri sendiri, dan dengan Allah.
Bapa Kami yang di Surga dan Kekudusan Nama Allah
Sebutan “yang di surga” menegaskan bahwa Allah bukan hanya dekat, tetapi juga kudus. Permohonan “dikuduskanlah nama-Mu” berarti memohon agar Allah ditempatkan secara istimewa dan utama dalam hidup, sehingga seluruh hidup manusia mencerminkan kehendak dan kekudusan-Nya.
Datanglah Kerajaan-Mu
Kerajaan Allah bukan sekadar wilayah, melainkan keadaan di mana kehendak Allah terwujud dalam kehidupan nyata masyarakat. Nilai-nilai keadilan, kasih, kebenaran, solidaritas, dan kepedulian terhadap sesama serta ciptaan menjadi tanda kehadiran Kerajaan Allah di dunia. Karena itulah Gereja terus berdoa: datanglah Kerajaan-Mu.
Penutup
Melalui pendalaman doa Bapa Kami, umat diajak menyadari bahwa doa ini membentuk cara hidup seorang murid Kristus. Doa ini menuntun manusia untuk menyerahkan seluruh hidupnya ke dalam rencana keselamatan Allah.(*)

