Memetik Makna Nonton Bersama
Menonton film layar lebar menjadi salah satu agenda keluarga kami. Bukan acara wajib dan rutin bulanan, apalagi mingguan. Jika ada film menarik, maka anak-anak menyampaikan usulan kepada saya atau istri. Kami tidak serta menyetujui harapan mereka. Kalau kami mengatakan “besok”, mereka akan selalu mengingat(kan) dan “memaksa”.
Bagi saya, penyuka tontonan layar lebar, kesempatan nonton bersama keluarga, terutama bersama anak-anak menjadi media edukasi, mengenal alur cerita dan tokoh yang ada. Itu salah satu alasan yang melonggarkan permintaan mereka.
Awal pergantian tahun 2025/2026 ini, 1 Januari 2026, setelah menengok simbah dan mengucapkan ragam selamat, kami memulai dengan nonton bareng film berjudul “Zootopia 2”. Rencana yang tertunda. Sebetulnya anak-anak sudah mengajak sejak akhir tahun sebelumnya. Kami baru bisa menyanggupi lantaran beragam acara lain. “Sah! ” kata saya kepada mereka saat kami keluar dari teater.
Film “Zootopia 2” berkisah tentang dua agen ZPD (singkatan yang saya pahami pada pertengahan pemutaran film, Zoo Police Department), bernama Judy Hopps dan Nick Wilde. Mereka menyelidiki munculnya reptil misterius bernama Gary De’Snake. Tokoh ini disinyalir mengancam kota. Judy dan Nick menyamar dan menjelajahi wilayah baru seperti Marsh Market untuk mengungkap konspirasi sejarah gelap kota dan peran keluarga pendiri, sambil menguji kemitraan mereka dan menyoroti tema keberagaman serta toleransi yang lebih dalam, dengan bantuan karakter baru seperti Nibbles Maplestick. Egoisme berbalut penerimaan diri dan konspirasi untuk menguasai wilayah berhasil terkuak. Film berakhir dengan gamblang. Pembaruan relasi antara Judy dan Nick pun terjadi. Rekonsiliasi.
Sepanjang perjalanan pulang, disela dialog ringan, kami menyisipkan obrolan sekitar film Zootopia. “Ternyata si A itu jahat dan ingin menguasai kota,” kata salah satu dari DuoGracia. “Oo si B itu korban karena difitnah oleh si C,” seru DuoGracia lainnya. Demikian pembacaan atas film yang kami saksikan pada awal tahun ini. Semoga menjadi inspirasi dan peneguhan karakter anak-anak, juga kami sebagai orangtua, teman seperjalanan mereka.*

