Masih Relevankah Model Kepemimpinan Yesus?

Masih Relevankah Model Kepemimpinan Yesus?

Kepemimpinan ( leadership) adalah tema yang selalu aktual karena kepemimpinan selalu hadir dalam kehidupan nyata entah politik sosial personal atau gerejawi. Banyak buku ditulis tentang model kepemimpinan yang ada di dunia kerja atau masyarakat. Namun bagaimana Yesus membangun komunitas dan memilih kader- kadernya menarik untuk dicermati model kepemimpinan macam apa yang diterapkan.
Kepemimpinan Yesus menghadirkan paradigma yang berbeda dari model kepemimpinan dunia pada umumnya. Ia tidak memimpin dengan kekuasaan, paksaan, atau dominasi, melainkan dengan pelayanan, keteladanan, dan kasih. Yesus sendiri menegaskan, “Barangsiapa ingin menjadi yang terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu” (Mat. 20:26).
Pertama, kepemimpinan yang melayani (servant leadership). Yesus membalik logika kekuasaan: pemimpin sejati bukan yang dilayani, melainkan yang melayani. Tindakan membasuh kaki murid-murid (Yoh. 13:1–15) menjadi simbol kuat bahwa kepemimpinan sejati lahir dari kerendahan hati dan kesediaan mengangkat martabat sesama.
Kedua, kepemimpinan yang memberi teladan. Yesus tidak hanya mengajar dengan kata-kata, tetapi terutama melalui hidup-Nya. Ia melakukan lebih dahulu apa yang Ia ajarkan: mengasihi musuh, mengampuni tanpa syarat, setia pada kehendak Bapa, bahkan sampai wafat di salib. Keteladanan ini memberi legitimasi moral pada kepemimpinan-Nya.
Ketiga, kepemimpinan yang berorientasi pada pembentukan pribadi. Yesus tidak mencetak pengikut yang pasif, melainkan murid yang bertumbuh dan diutus. Ia sabar mendampingi para murid dengan segala keterbatasan mereka, membentuk hati, iman, dan karakter, agar kelak mereka mampu memimpin dan melayani orang lain.
Keempat, kepemimpinan yang berakar pada kasih dan kebenaran. Semua tindakan Yesus lahir dari kasih yang tulus kepada Allah dan manusia. Namun kasih itu tidak kompromistis terhadap kebenaran. Ia menegur dengan tegas, tetapi selalu dengan tujuan memulihkan, bukan menghancurkan.
Model kepemimpinan Yesus tetap relevan hingga kini. Di tengah budaya kompetisi dan pencarian kekuasaan, kepemimpinan Yesus mengingatkan bahwa pemimpin sejati adalah mereka yang rela melayani, memberi diri, dan menghadirkan kasih demi kebaikan bersama.
Gereja Katolik sebagai lembaga yang melanjutkan kepemimpinan Yesus tentu mengikuti teladan Pendirinya maka sering disalahpahami sebagai lembaga yang tidak demokratis. Kita lupa kalau Gereja jauh lebih tua daripada negara yang paling demokratis sekali pun. Demokrasi juga bukan model yang paling sempurna yang harus dijadikan tolok ukur satu- satunya. Gereja punya cara yang khas dalam memilih pemimpin dan mengatasi masalah yang dihadapi tidak harus menggunakan cara demokratis.

Paul Subiyanto

Dr.Paulus Subiyanto,M.Hum --Dosen Bahasa Inggris di Politeknik Negeri Bali ; Penulis buku dan artikel; Owner of Multi-Q School Bal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *