YESUS YANG ISTIMEWA

YESUS YANG ISTIMEWA

Oleh: Thomas Suhardjono

Renungan Harian

Sabtu, 24 Januari 2026:

3:20 Kemudian Yesus masuk ke sebuah rumah. Maka datanglah orang banyak berkerumun pula, sehingga makanpun mereka tidak dapat.

3:21 Waktu kaum keluarga-Nya mendengar hal itu, mereka datang hendak mengambil Dia, sebab kata mereka Ia tidak waras lagi. (Mrk 3:20-21).

Totalitas

Setidak-tidaknya perikop Injil Markus ini memberikan 2 hal yang bisa kita renungkan. Pertama, Yesus itu Putera Allah yang setia kepada Bapa-Nya seutuhnya, seluruh jiwa raganya. Yesus datang ke dunia untuk melaksanakan kehendak Bapa, mewartakan Kerajaan Allah dengan cara menyembuhkan orang sakit, membangkitkan orang mati dan mengusir setan. Akibatnya Yesus lupa makan dan minum, lupa mengurusi diri sendiri. Yesus bekerja secara tuntas, tidak setengah-setengah, melainkan sungguh totalitas. Yesus bekerja dengan sepenuh hatinya, dengan jasmani dan rohaninya.

Seringkali kalau kita bekerja, cukup dengan bekerja keras atau bekerja cerdas, namun itu masih kurang. Kita mesti bekerja tuntas, sampai ketemu solusinya, sampai terselesaikan masalahnya. Kita tidak hanya berhenti pada omongan, tapi langsung dikerjakan jalan keluarnya, dan dievaluasi sampai tidak muncul masalah lagi. Begitu pula dalam hidup beriman, kita mengikuti Yesus, secara total melaksanakan kehendak Bapa, sesuai dengan bidang pekerjaan kita masing-masing. Sebagai anggota sebuah organisasi, kita ikuti aturan yang berlaku demi kebersamaan. Sebagai bendahara, kita kelola keuangan secara transparan agar bisa dipertanggungjawabkan, baik di hadapan sesama dan Tuhan. Sebagai pemimpin, kita memiliki misi penyelamatan dan kesejahteraan bagi seluruh anggota, untuk memajukan kepentingan umum.

Istimewa

Di akhir perikop tersebut, Yesus dikatakan “tidak waras lagi”. Apakah berarti Yesus gila? Tidak punya akal sehat lagi? Itulah yang bisa terjadi dalam pewartaan Kerajaan Allah: salah paham, mis komunikasi. Orang banyak bahkan saudara terdekat pun, terkadang tidak memahami apa yang dimaksudkan Yesus. Namun ditinjau dari sisi lain, Yesus itu tidak sama dengan para pengajar, para penyembuh dan para pengusir setan yang lain. Mereka mungkin melakukan tugasnya demi pujian, agar mendapat perlakuan khusus, agar memperoleh imbalan makan, minum atau yang lainnya. Namun Yesus tidak punya tujuan duniawi, melainkan seutuhnya agar orang banyak percaya dan beriman kepada Allah Bapa. Maka sesungguhnya Yesus adalah orang yang “tidak biasa” (=extra ordinary). Yesus itu “luarbiasa” atau “istimewa”.

Kita pun kadang mengalami dipahami secara salah oleh teman, atasan, anak buah, bahkan oleh saudara, pasangan atau anak-anak sendiri. Kita sudah bersungguh-sungguh bekerja untuk kepentingan kantor, terkadang diragukan atau dicurigai demi keuntungan pribadi. Kita sudah berusaha menabung untuk masa depan, namun terkadang habis untuk keperluan darurat, maka dicurigai oleh pasangan atau anak-anak, bahwa kita hanya memikirkan diri sendiri. Ketidak-pahaman itu bisa muncul dari luar atau dalam keluarga sendiri. Bila tidak kuat menghadapinya, kita bisa frustrasi, merasa sia-sia saja selama ini bekerja, atau menjadi putus asa dalam hidup ini. Pada saat itulah kita diingatkan, agar tetap fokus pada misi hidup kita. Seperti Yesus yang “istimewa” tetap fokus pada kehendak Bapa, maka kita pun “istimewa” karena fokus mengikuti ajaran Yesus, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu… dan Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Mrk 12:30-31).

Marilah berdoa,

Yesus yang bekerja secara total,

Ajarilah kami agar selalu bekerja tuntas, tidak setengah-setengah, dan tidak menyisakan tugas untuk orang lain. Sebab dengan demikian kami akan ambil bagian dalam tugas penyelamatan-Mu di dunia ini.

Yesus yang istimewa,

Ajarilah kami untuk selalu fokus pada misi hidup kristiani, meskipun kadang tidak dipahami, kadang dicurigai, bahkan kadang dituduh tidak waras lagi. Semoga kami tetap fokus melaksanakan hukum kasih sebagaimana yang Kau ajarkan, sehingga kami menjadi “istimewa” di hadapan Bapa.

Amin.

Thom Hardjono

Pemerhati pendidikan, keluarga, hidup rohani, humaniora dan hidup bermasyarakat. 100% Katolik 100% Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *