TANTANGAN KATEKIS DI ERA DIGITAL

TANTANGAN KATEKIS DI ERA DIGITAL

Sampai tahun 1960an, katekese dilakukan secara monolog dan ceramah, lalu dengan gambar- gambar, disusul slide, kemudian lahir media audio visual. Namun saat ini,era digital telah mengubah cara manusia berpikir, berkomunikasi, dan belajar—termasuk dalam hal iman. Bagi katekis Katolik, ini bukan hanya soal memakai teknologi, tetapi menghadapi perubahan budaya yang mendalam.Oleh sebab itu para katekis mau tidak mau dihadapkan pada tantangan baru.
Pertama, perubahan cara menerima informasi. Umat, terutama kaum muda, terbiasa dengan informasi cepat, visual, dan singkat. Tantangannya, katekis harus mampu menyampaikan ajaran iman yang mendalam dengan cara yang menarik tanpa membuatnya dangkal. Iman bukan sekadar kutipan inspiratif, tetapi proses pertumbuhan yang utuh.
Kedua, banjir informasi dan krisis kebenaran. Di internet, ajaran Gereja bercampur dengan opini pribadi, tafsir keliru, bahkan ajaran menyesatkan. Katekis dituntut memiliki pemahaman iman yang kuat sekaligus literasi digital, agar mampu menuntun umat membedakan kebenaran dari informasi yang menyesatkan.
Ketiga, budaya serba cepat dan dangkal. Dunia digital membuat orang sulit hening dan fokus, padahal iman bertumbuh dalam doa dan refleksi. Tantangan katekis adalah membantu peserta katekese mengalami keheningan, perjumpaan pribadi dengan Tuhan, dan kedalaman hidup rohani.
Keempat, relasi virtual yang menggantikan perjumpaan nyata. Media sosial memudahkan komunikasi, tetapi bisa mengurangi kedalaman relasi. Katekis perlu memakai teknologi sebagai sarana, bukan pengganti komunitas dan perjumpaan langsung yang menjadi jantung kehidupan Gereja.
Kelima, kesaksian di ruang digital. Dunia maya sering diwarnai debat keras dan ujaran kebencian. Katekis dipanggil menghadirkan wajah Kristus: komunikasi yang santun, penuh kasih, dan membangun, sehingga kehadiran mereka sendiri menjadi pewartaan Injil.
Singkatnya, era digital memang penuh tantangan, tetapi juga peluang besar. Jika katekis berakar pada Kristus, setia pada ajaran Gereja, dan mau terus belajar, dunia digital dapat menjadi ladang misi baru bagi pewartaan iman.

Paul Subiyanto

Dr.Paulus Subiyanto,M.Hum --Dosen Bahasa Inggris di Politeknik Negeri Bali ; Penulis buku dan artikel; Owner of Multi-Q School Bal

One thought on “TANTANGAN KATEKIS DI ERA DIGITAL

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *