Bunda Maria Ratu Segala Bangsa

Bunda Maria Ratu Segala Bangsa

Renungan Harian

Jumat, 22 Agustus 2025

Oleh : Thomas Hardjono

Ketika orang-orang Farisi mendengar, bahwa Yesus telah membuat orang-orang Saduki itu bungkam, berkumpullah mereka dan seorang dari mereka, seorang ahli Taurat, bertanya untuk mencobai Dia: “Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?”  Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” (Mat 22:34-40)

Bacaan Injil hari-hari sebelumnya bicara tentang ke-RAJA-an Surga, kondisi hidup surgawi yang digambarkan dengan perumpamaan TUAN rumah mencari pegawai (Mat 20:1-16) dan SANG RAJA mengundang pesta (Mat 22:1-14). Hari ini kita diingatkan peranan Maria yang melahirkan Yesus sang RAJA, yang dikandung tanpa noda dosa, yang diangkat ke surga dengan mulia seperti Anaknya. Maria adalah seorang manusia yang dinobatkan sebagai RATU SURGA. Dalam doa Litani Santa Perawan Maria disebutkan sebagai Ratu para malaikat, Ratu para bapa bangsa, Ratu para nabi, Ratu para rasul, Ratu para saksi iman, Ratu para pengaku iman, Ratu para perawan, Ratu para orang kudus, Ratu yang dikandung tanpa dosa, Ratu yang diangkat ke surga, Ratu rosario yang amat suci, dan Ratu pecinta damai. Pantaslah hari ini kita peringati Santa Perawan Maria Ratu, Sang Ratu bagi kita semua.

Gereja meyakini: “Akhirnya, Perawan Tak Bernoda, yang terbebas dari segala dosa asal, setelah menyelesaikan perjalanannya di dunia, diangkat jiwa dan raga ke dalam kemuliaan surgawi, dan ditinggikan oleh Tuhan sebagai RATU ALAM SEMESTA, agar ia semakin serupa dengan Putranya, Tuhan segala tuhan, serta penakluk dosa dan maut.” (LG.59)

Perawan Maria adalah gambaran manusia yang memahami dan melaksanakan Hukum yang diajarkan Yesus Puteranya. “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.” Maria telah mengasihi dan menaati Tuhan Allah secara totalitas, dalam keseluruhan dimensi pribadinya: dimensi badan-hati-akalbudi nya, dimensi raga-jiwa-roh nya, dimensi fisikal, psikologikal dan spiritual nya.

Meski pedih hatinya ditembus 7 pedang mengikuti jalan salib Yesus, namun Maria tetap bertahan sampai puncak Golgota, mendampingi para rasulNya menerima Roh Kudus, sebagaimana mendampingi Yesus sendiri, buah rahimnya. Maria melaksanakan Hukum kedua, “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”. Maria sungguh melaksanakan kehendak Allah, sebab “Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi”.

Marilah berdoa,

Bunda Maria, ketika diberi kabar sukacita oleh malaikat Gabriel, engkau hanya bisa menjawab “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanMu”. Itulah ungkapan kesetiaan dan ketaatanmu pada kehendak Allah, sekaligus wujud kasihmu kepada kami para murid Yesus. Ajarilah kami agar bisa setia dan taat sepertimu, dan mampu mengasihi sesama sebagaimana mengasihi Yesus, yang hadir dalam diri kami.

Sebab Dialah Tuhan pengantara kami, yang berkuasa bersama Bapa dan Roh Kudus, kini dan sepanjang masa. Amin.

Thom Hardjono

Pemerhati pendidikan, keluarga, hidup rohani, humaniora dan hidup bermasyarakat. 100% Katolik 100% Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *