Rendah Hati atau Sekadar Ketakutan?

Rendah Hati atau Sekadar Ketakutan?

Refleksi atas Peran Kenabian di Tengah Ketidakadilan

Sebuah diskusi menarik di media sosial sempat memicu perenungan: mengapa banyak umat Katolik cenderung merespons ketidakadilan dengan kalimat, “Ah, biarlah Allah yang membalas, itu bukan kapasitas kita”? Si penulis mempertanyakan hakikat di balik sikap tersebut—apakah itu benar-benar sebuah kerendahhatian, ataukah sekadar selubung dari rasa takut?

Jika kita menilik Kitab Suci, Yesus menunjukkan teladan yang kontras. Ia tidak diam saat melihat Bait Allah dijadikan tempat berdagang; Ia menjungkirbalikkan meja-meja mereka. Tindakan Yesus adalah sebuah pernyataan sikap yang tegas atas ketidakpantasan. Berkali-kali, Yesus menunjukkan bahwa keberpihakan pada kebenaran memerlukan tindakan nyata, bukan sekadar kata-kata manis.

Berlindung di Balik Kesalehan

Sering kali, karena alasan keamanan pribadi atau kelompok, demi menjaga harmoni, atau sekadar ingin “mengalah”, kita memilih untuk diam. Kita membungkus ketakutan itu dengan komentar-komentar saleh. Padahal, kejujuran batin mungkin berkata lain: kita takut menjadi minoritas yang vokal, takut dikucilkan, atau takut kehilangan mata pencaharian.

Tuhan dengan tegas berpesan agar kita tidak menjadi “suam-suam kuku”. Jika ya, katakan ya; jika tidak, katakan tidak. Rendah hati adalah perintah Tuhan, namun bersikap tegas terhadap ketidakadilan juga adalah mandat-Nya. Kita tidak bisa memilih keduanya secara bersamaan jika itu berarti mengorbankan kebenaran. Mengklaim diri rendah hati namun bungkam terhadap kejahatan bukanlah kerendahhatian yang sejati, melainkan sebuah sikap ragu-ragu yang tak berakar (ingah-ingih).

Menghidupkan Suara Kenabian

Salah satu tugas Gereja—tugas kita semua—adalah menjadi nabi di tengah dunia. Suara kenabian menuntut keberanian untuk menyatakan bahwa yang salah adalah salah, ketidakadilan adalah perilaku buruk yang harus dihentikan, kejujuran adalah harga mati, dan suap adalah kejahatan.

Mengapa ini sulit? Karena risiko suara kenabian sering kali bersinggungan dengan kepentingan pihak-pihak yang berkuasa. Ada risiko intimidasi, bahkan kekerasan. Di sinilah keberanian menjadi krusial. Jika rasa takut terus-menerus ditutupi dengan label religius, maka tugas kenabian kita gagal. Kita dipanggil untuk jujur melihat keadaan: jika ada yang tidak beres, nyatakanlah. Jangan membungkus ketakutan dengan dalih “iman” yang palsu.

Tipu Daya Si Jahat

Dalam kehidupan spiritual, si jahat sering kali bekerja dengan cara membengkokkan persepsi kita. Sesuatu yang buruk dikemas seolah-olah baik. Sebagai contoh, ketika seseorang melihat penanganan publik yang lamban, ia memilih bungkam dengan dalih “bukan urusan saya”, padahal motif aslinya adalah ketakutan akan persekusi atau pemecatan.

Sebaliknya, si jahat juga bisa menggoda kita melalui “kebaikan yang berlebihan” (discerning of spirits). Seseorang mungkin sudah bekerja keras melayani hingga kelelahan, namun si jahat terus membisikkan bahwa itu “belum cukup” demi memicu kesombongan rohani atau kehancuran fisik.

Pentingnya Pembedaan Roh (Discernment)

Jangan sampai niat kita untuk beriman sebenarnya hanyalah upaya memuaskan ego rohani atau rasa haus akan validasi. Di sinilah pentingnya pembedaan roh. Cara paling sederhana untuk mengetahui apakah suatu dorongan berasal dari Roh Baik atau Roh Jahat adalah dengan melihat buahnya: apakah tindakan tersebut membawa makna bagi sesama, atau hanya untuk mengamankan kenyamanan diri sendiri?

Kesalehan sejati tidak pernah memisahkan diri dari keberanian menegakkan kebenaran. Karena pada akhirnya, rendah hati tanpa keberanian adalah kelemahan, dan keberanian tanpa kerendahhatian adalah kesombongan.

Salam JMJ

Susy Haryawan

Susy Haryawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *