Tuhan dalam Penyamaran
Oleh : Susy Haryawan
Renungan harian, Senin, 23 Februari 2026
Injil Matius 25:31-46
Saudara terkasih, pernah nggak Anda membayangkan gimana rasanya kalau nanti di akhir zaman kita semua dikumpulin terus dipisah jadi dua barisan? Ada barisan “Domba” (yang lulus) dan barisan “Kambing” (yang gagal). Lucunya, di perikop ini, kedua kelompok itu sama-sama kaget!
1. Kebaikan yang “Nggak Sengaja”
Kelompok Domba bingung pas dibilang mereka sudah nolong Yesus. “Loh, kapan Tuhan? Perasaan saya cuma kasih makan orang laper di pinggir jalan, atau jenguk temen yang sakit.” Poinnya keren banget: Mereka berbuat baik bukan karena lagi caper (cari perhatian) sama Tuhan atau pengen pamer di sosmed. Mereka bantu ya karena mereka peduli aja. Kebaikan mereka sudah jadi refleks, bukan strategi biar masuk surga. Tidak ada konsep do ut des, gampangnya tidak berpamrih dalam berbuat baik.
Dunia modern ini sering membuat kita jatuh pada pamer, bukan sekadar pamrih, berbuat baik diposting agar orang tahu bahwa kita sudah melakukan kebaikan. Ini mengurangi apa yang seharusnya tidak perlu. Biar Allah saja yang memberikan reward atau balasan. Tidak karena like atau hati dari rekan kita di media sosial.
2. “Tuhan, Kamu di Mana?”
Saudara terkasih, Tuhan ada di mana? Ternyata, Tuhan itu hobi “nyamar.” Dia nggak selalu ada di mimbar yang megah atau di gedung gereja yang mewah. Di ayat ini, Yesus bilang Dia ada di dalam diri:
- Orang yang lagi laper.
- Orang asing yang kesepian.
- Orang sakit yang butuh ditemenin.
- Orang yang dipenjara (yang mungkin semua orang sudah jauhin).
Kalau kita cuma nyari Tuhan dalam ritual doa tapi cuek sama orang susah di sekitar kita, jangan-jangan kita lagi “melewatkan” Tuhan yang asli.
Era sosmed dan digital sering membuat kita meninggalkan hal yang mendalam. Lebih suka seremoni, ritual, dan abai akan yang mendalam, kemanusiaan yang hakiki. Kehadiran itu tidak tergantikan. Allah mengajak kita melakukan hal demikian. Hadir dalam pengalaman sesama kita yang membutuhkan
3. Dosa karena “Diem Aja”
Saudara Terkasih, kelompok Kambing dihukum bukan karena mereka jahat banget kayak penjahat di film-film. Mereka dihukum karena mereka nggak ngapa-ngapain. Mereka melihat ada orang butuh, tapi mereka pilih tutup mata dan lanjut scrolling HP.
Dosa itu bukan cuma soal “melakukan yang dilarang,” tapi juga soal “tidak melakukan yang seharusnya dilakukan.”
Kehadiran itu juga dalam konteks ketika harus menanggung risiko. Membantu itu pasti ada risiko yang harus ditanggung. Kan lagi sibuk, ini lho tayangannya lagi viral, nanti sebentar. Kehadiran bisa terjeda karena sedang asyik dengan yang jauh. Media sosial bisa mengalienasi dengan lingkungan namun serasa dekat dengan yang jauh.
Cuek telah menjadi penyakit baru. Tidak akan ada vaksinnya, tanpa kesadaran. Beranikah kita untuk sadar?
Pelajaran buat kita hari ini:
Saudara terkasih, seringkali kita nunggu ada momen besar buat melayani Tuhan. Padahal, melayani Tuhan itu sederhana:
- Nraktir temen yang lagi bokek, tetangga yang kelaparan.
- Ngasih perhatian ke orang yang lagi down, orang tua yang kesepian, yang sakit tanpa ada yang menunggui atau membezuk.
- Nggak pelit buat berbagi apa yang kita punya. Jangan lupa, tidak berpamrih, nanti aku dapat apa dengan membantu ini.
Ingat, setiap kali kamu berbuat baik sama orang yang paling “nggak dianggap” di sekitarmu, kamu sebenernya lagi bikin surprise buat Tuhan.
Doa : “Tuhan, buka mata kami supaya hari ini bisa melihat ‘Engkau’ di dalam diri orang-orang yang kami temui. Jangan biarkan kami jadi orang yang cuek, tapi ajar kami peduli tanpa tapi. Mampukan kami berbuat baik karena Engkau lebih dulu berbuat baik, bukan karena imbalan atau berharap memperoleh balasan. Amin.”
SalamJMJ

