Satu Persaudaraan Dalam Satu Bapa
Renungan Harian Selasa. 24 Februari 2026
Bacaan Injil: Matius 6:7-15
Oleh: FA Adihendro
MURID-MURID Yesus sangat “kepo” bagaimana cara Yesus berdoa. Karena rupanya cara berdoa Yesus berbeda dengan kebiasaan orang Yahudi. Maka mereka minta diajari oleh Yesus cara berdoa, menurut Yesus dan Yohanes berdoa, “Tuhan ajarilah kami berdoa, sama seperti yang diajarkan Yohanes kepada para muridnya” (Lukas 11:1). Pada suatu kesempatan berkotbah di atas bukit, Yesus berkata kepada para murid-Nya, “Dalam doamu janganlah kamu bertele-tele, seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doa mereka dikabulkan. Jadi, janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan sebelum kamu minta pada-Nya. Karena itu berdoalah begini, ‘Bapa kami yangdi surga…’” (Mat 6:7).
Jangan bertele-tele
Sekedar sharing: pada suatu kesempatan kami sedang dalam perjalanan ziarah bersama seorang Romo. Seperti biasa dalam perjalanan itu, suasana amat gaduh. Masing-masing berbicara “ngalor-ngidul”. Tiba-tiba HP Romo berdering. Romo segera mengangkat HP itu. Membaca pesan dan sejenak hening. Kemudian Romo mengajak semua peserta ziarah untuk diam sesaat, dan berkata, “Ada seorang umat yang meminta doa untuk suaminya yang sedang kritis di Rumah Sakit. Marilah kita bersama berdoa Bapa Kami, Salam Maria, Kemuliaan.” Segera kami mendaraskan doa dalam suasana khusuk, penuh penghayatan. Tidak banyak kata-kata. Tidak bertele-tele. Hanya doa hafalan. Tetapi disampaikan dengan sungguh hati. Kami percaya bahwa Tuhan telah mendengar segala permohonan yang kami sampaikan dengan penuh harapan.
Bapa Kami
Adalah hal baru bagi para murid karena Yesus mengajarkan menyebut Allah dengan sebutan “Bapa, ya Abba”. Terasa hubungan yang amat dekat dan akrab. Karena pembabtisan yang sama, kita semua telah diangkat menjadi anak-anak Allah, yang membuat kita layak untuk berseru “ya Abba, ya Bapa”. Suatu angerah dan privelegi bagi kita, yang layak untuk kita syukuri. Dengan demikian kita para pengikut Yesus memiliki Bapa yang satu dan sama. Kita telah menjadi satu persaudaraan rohani dengan Yesus sebagai sulungnya.
Setiap kita berdoa Bapa Kami, hendaknya kita sadari bahwa kita hidup dalam satu persaudaran yang sama, memuji dan memohon kemurahan Bapa, saling mengasihi dan mengampuni satu sama lain. Semoga.
Doa: Bapa yang mahamurah, hanya kepada-Mulah kami memuji dan memuliakan nama-Mu. Maka jangan biarkan kami jatuh ke dalam pencobaan-pencobaan duniawi, sehingga kami layak di hadapan-Mu. Demi Kristus, saudara sulung kami, Tuhan dan Penyelamat kami. Amin.

