Cerpen: LAKI-LAKI TUA DAN MALAM

Cerpen: LAKI-LAKI TUA DAN MALAM

Malam mulai pekat, jalanan lengang, terdengar sayup gelak tawa perempuan dari warung remang- remang, laki-laki tua itu keluar dari kafe dengan sebotol bir di tangan. Jalannya terseok, sambil bergumam dengan suara parau, kadang tertawa, lalu tiba- tiba meneriakkan sebuah nama. Nafas tersengal, batuk- batuk sambil tangan kiri menekan dada keras – keras seakan di dalamnya ada sakit tak tertahan. Ya, hatinya memang tersayat rasa rindu kepada putra yang telah berpisah selama 25 tahun. Ternyata yang paling diinginkan laki- laki tua adalah disapa oleh anaknya, dipanggil ” ayah” atau ” papa”, apalagi dipeluk dan digandeng walaupun kadang tertutup gengsi dan berlagak tegar.
Dua puluh lima tahun yang lalu, sebagai ayah dan suami ia bekerja sesuai dorongan hati menyadi penyanyi dari kafe ke kafe. Dunia malam menjadi dunianya, berangkat sore pulang subuh. Bekerja keras sebagai bukti cinta untuk anak istrinya. Rupanya istri kurang suka, ingin suaminya kerja seperti orang normal, berangkat pagi pulang sore, punya waktu untuk keluarga. Mau kerja apa aku? Bisaku cuma menyanyi dan menghibur orang Itulah yang membuat hidupnya merasa bermakna. Sampai suatu hari ketika tengah malam ia pulang, rumah kosong. Anak dan istrinya pergi entah kemana.
Sejak itu hidupnya semakin dililit malam: nyanyi, minum, mabuk, dan menggelandang di jalan namun rindu dan cintanya tak terpadamkan. Tua, dengan rambut gondrong memutih, kumis dan jenggot panjang, pakaian kumal, laki-laki tua itu semakin dalam dekapan malam.
Tiba- tiba batuknya panjang, lalu nafas tersengal- sengal dan berhenti. Sunyi.
Seorang malaikat membawa rohnya terbang sehingga tubuhnya terkulai seperti karung kosong. Lalu malaikat berhenti di atas rumah besar dan mewah. Tampak seorang laki- laki muda dengan pakaian perlente, menaiki mobil mewah, sementara seorang ibu tua masih tampak elegan mencium dan melambaikan tangan.
” Itu anak dan istrimu ! ” , kata malaikat. Laki-laki tua itu masih terpana dengan menggigit bibirnya.
” Masih mau bertemu mereka? ” , tanya malaikat. Laki-laki itu diam sesaat, lalu menggeleng pelan.
” Kenapa? “, sergah malaikat
” Aku takut mereka akan menolakku dan itu lebih menyakitkan. Bawalah aku terbang tinggi dengan membawa cinta dan rinduku. Mereka pun terbang menembus awan demi awan….

Paul Subiyanto

Dr.Paulus Subiyanto,M.Hum --Dosen Bahasa Inggris di Politeknik Negeri Bali ; Penulis buku dan artikel; Owner of Multi-Q School Bal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *