Berakar, Bertumbuh, Berbuah

Berakar, Bertumbuh, Berbuah

Seabad Misionaris Keluarga Kudus di Bumi Borneo 

Sungai yang Memanggil

Di Kalimantan, sungai adalah jalan, dan di sepanjang jalan itulah Injil datang. Pada 1907, para misionaris Kapusin dari Pontianak menyusuri Sungai Mahakam hingga kampung kecil Laham, sekitar 500 kilometer dari Samarinda. Mereka menanam benih pertama. Pekerjaan itu berat, jarak terlalu jauh, dan tenaga terlalu sedikit.

Pada 18 Agustus 1924, Provinsial Kapusin di Belanda menulis kepada Provinsial Misionaris Keluarga Kudus dan meminta mereka melanjutkan karya di Kalimantan Timur. Permintaan itu diterima dengan tangan terbuka. Para MSF bahkan bersedia melayani lebih luas, sampai Kalimantan Selatan dan Tengah.

Pada 1926, tiga misionaris MSF pertama meninggalkan Amsterdam menuju Kalimantan. Seabad pun dimulai.

Perayaan mengenang 100 tahun MSF di tanah Borneo/Kalimantan, foto: Romo Ag.Purnama, MSF

Api dari La Salette dan Grave

Para misionaris ini datang membawa warisan semangat. Kongregasi MSF didirikan Pater Jean-Baptiste Berthier pada 1895 di Grave, Belanda. Dari spiritualitas La Salette ia menimba api pendamaian dan kerasulan. Dari Keluarga Kudus Nazaret ia menimba teladan hidup sederhana dan penuh kasih.

Ia mengutus anak-anak rohaninya untuk menjangkau yang paling jauh. Maka tak mengherankan para pengikutnya berani masuk jauh ke hulu Mahakam.

Menjejak Hulu: Laham, Tering, Barong Tongkok

Laham adalah pos pertama. Dari sana para misionaris berperahu, berjalan kaki, dan bermalam di rumah-rumah kampung untuk mengunjungi umat Dayak. Pada 1933, pembaptisan Dayak pertama yang tercatat berlangsung di Laham. Satu percikan air itu menjadi awal dari ribuan pembaptisan sesudahnya.

Prasasti 100 Tahun MSF di Borneo/Kalimantan, foto: Bambang Kuss

Pusat misi kemudian bergeser ke hilir, ke Tering, pada awal 1930-an. Dari Tering misi MSF membuka wilayah pesisir: Banjarmasin pada 1931, lalu Balikpapan, Samarinda, dan Tarakan. Barong Tongkok, di Kutai Barat, menjadi pusat misi ketiga pada 1933. Kini paroki Kristus Raja di sana dipercaya menjadi tuan rumah puncak perayaan seabad.

Di Banjarmasin, MSF mendirikan gereja yang kelak menjadi Katedral Keluarga Kudus. Sekolah, asrama, dan balai pengobatan menyusul. Para misionaris tidak hanya mewartakan, tetapi juga mengajar membaca, merawat orang sakit, dan hidup bersama rakyat.

Berawal dari tiga imam misionaris di Laham, kini sudah ratusan pengganti misionaris pribumi, foto: Rm. Ag. Purnama, MSF

Gereja Lokal Bertumbuh

Pertumbuhan jumlah umat menuntut struktur Gereja yang makin mandiri. Pada 21 Mei 1938, wilayah misi MSF dipisahkan dari Pontianak menjadi Prefektur Apostolik Banjarmasin, meliputi Kalimantan Selatan, Tengah, dan Timur, dengan Pater Jacobus Kusters, MSF sebagai prefek pertama. Pada 1949 Banjarmasin menjadi Vikariat Apostolik, dan pada 21 Februari 1955 lahir Vikariat Apostolik Samarinda, yang saat itu dihuni sekitar 4.955 umat, dilayani 23 imam dan 4 bruder.

Pada 3 Januari 1961 keduanya menjadi keuskupan penuh. Menyusul Keuskupan Palangka Raya pada 1993 dengan Mgr. Julius Aloysius Husin, MSF sebagai uskup pertama, Keuskupan Tanjung Selor pada 2002 dengan Mgr. Yustinus Harjosusanto, MSF sebagai uskup pertama, dan pada 2003 Samarinda ditingkatkan menjadi Keuskupan Agung.

Empat keuskupan itulah buah karya misi yang hari ini diwakili di Barong Tongkok: Keuskupan Agung Samarinda, Banjarmasin, Palangka Raya, dan Tanjung Selor.

Romo Ag. Purnama, MSF, Superior Jenderal MSF bersama Mgr. Paulinus Yan Ola, MSF, Romo Provinsial MSF Kalimantan, dan Provinsial MSF Jawa, foto: Rm. Ag. Purnama, MSF

Dari Tanah Dayak untuk Gereja

Buah yang paling indah adalah munculnya gembala dari tanah ini sendiri. Buah pertama Uskup Dayak adalah Mgr Aloysius Husin MSF. Uskup Palangka Raya pertama yang ditunjuk tahun 1993, ditahbiskan tahun 1994, namun hanya sempat menjadi uskup selama sebulan karena gagal jantung. Putra Dayak kedua adalah Mgr. Florentinus Sului Hajang Hau, MSF, putra Tering Lama yang menjadi Uskup Agung Samarinda. Kini para uskup MSF yang memimpin Gereja di Borneo, seperti Mgr. Yustinus Harjosusanto, MSF, Mgr. Aloysius Sutrisnaatmaka, MSF dan Mgr. Paulinus Yan Ola, MSF, adalah putra-putra Indonesia.

Para misionaris asing yang dahulu menjadi gembala kini telah melahirkan gembala dari antara umat sendiri. Inilah makna terdalam “berbuah”: misi yang berhasil adalah misi yang akhirnya tidak lagi membutuhkan orang asing.

Pada 8 Juli 2007, genap seratus tahun karya misi di Kalimantan Timur sejak Kapusin, Paroki Laham dibuka kembali. Lingkaran pun tertutup di tempat semuanya bermula.

Seabad, Satu Tahun Perayaan

Peringatan 27 Februari 2026 menandai tepat seratus tahun pelayanan MSF di Indonesia, bertepatan dengan hari lahir Pater Berthier. Tahun itu dijalani dengan langkah-langkah bermakna:

  • Februari: ekspedisi napak tilas dari Barong Tongkok ke Laham, dengan prasasti di makam perintis misi, lalu ke Tering, dan ziarah ke makam para perintis di Samarinda.
  • Juni dan Agustus: dua seminar tentang semangat misioner MSF dan realitas Borneo seabad.
  • Menyusul: temu OMK dan Misdinar, supaya api itu sampai ke generasi muda.
  • 18 Oktober, Minggu Misi: puncak dan penutupan di Barong Tongkok dengan tema berakar, bertumbuh, dan berbuah. Hadir Superior Jenderal MSF dari Roma, para uskup, imam MSF Provinsi Kalimantan dan Jawa, serta pemerintah daerah. Acara dibuka dengan peresmian Museum Pater Berthier, dilanjutkan Ekaristi syukur dan pentas seni.
Pak Bambang Kuss dari penulis buku sejarah MSF di Indonesia sedang menjadi narasumber, foto: Bambang Kuss

Berakar, Bertumbuh, Berbuah

Tema perayaan ini menyimpan tiga pelajaran yang layak dibawa ke abad berikutnya.

Berakar. Para perintis tidak datang dengan kemegahan. Mereka datang dengan perahu kecil, tenaga terbatas, dan iman yang besar. Akar mereka tertanam di makam-makam sederhana di Laham, Tering, dan Samarinda, tempat tulang-tulang mereka kini beristirahat di tanah yang mereka cintai.

Bertumbuh. Dari satu kampung di tepi Mahakam, kini ada empat keuskupan dengan imam, biarawan, dan awam dari tanah sendiri.

Berbuah. Buah itu adalah umat yang kian beriman, tangguh, misioner, dan dialogis, juga persaudaraan dengan sesama warga Borneo dari beragam suku dan agama. Museum Pater Berthier bukan sekadar bangunan untuk mengenang. Ia mengingatkan bahwa pendiri yang telah wafat lebih dari seabad lalu masih berbicara melalui karya anak-anaknya.

Seratus tahun telah berlalu. Sungai Mahakam masih mengalir, dan panggilan itu masih sama: pergilah, wartakan, hadirlah bagi yang paling jauh. Dari Barong Tongkok, nyala itu kini diteruskan kepada generasi berikutnya.

Lini Masa Seabad MSF di Kalimantan

Kisah seratus tahun ini bermula jauh sebelum 1926. Pada 1895, di Grave, Belanda, Pater Jean-Baptiste Berthier mendirikan Kongregasi Misionaris Keluarga Kudus, dan sejak awal ia menyiapkan anak-anak rohaninya untuk diutus ke tempat yang paling jauh. Dua belas tahun kemudian, pada 1907, para misionaris Kapusin dari Pontianak tiba di Laham, di tepi Sungai Mahakam, dan membuka pintu pertama bagi Injil di Kalimantan Timur.

Karya itu terlalu besar bagi tenaga yang sedikit. Pada 18 Agustus 1924, Provinsial Kapusin di Belanda meminta MSF melanjutkannya, dan permintaan itu disambut dengan sukacita. Tahun 1926 tiga misionaris MSF pertama bertolak dari Amsterdam, dan sejak itu tongkat estafet resmi berpindah tangan.

Awal 1930-an adalah masa merintis. Pada 1931 misi dan paroki di Banjarmasin dibuka, lalu dari Tering misi merambah pesisir hingga Balikpapan, Samarinda, dan Tarakan. Pada 1933 pembaptisan pertama orang Dayak yang tercatat berlangsung di Laham, dan di tahun yang sama Barong Tongkok menjadi pusat misi ketiga setelah Laham dan Tering.

Kado terindah 100 tahun ada tahbisan dua imam baru MSF dari Provinsi Kalimantan, foto: Bambang Kuss

Gereja yang masih muda itu lalu menata dirinya. Pada 21 Mei 1938 lahirlah Prefektur Apostolik Banjarmasin, yang mencakup Kalimantan Selatan, Tengah, dan Timur, dengan Pater Jacobus Kusters, MSF sebagai prefek pertama. Pada 10 Maret 1949 prefektur itu naik menjadi Vikariat Apostolik, dan pada 21 Februari 1955 Samarinda pun menjadi vikariat sendiri dengan sekitar 4.955 umat, 23 imam, dan 4 bruder. Pada 3 Januari 1961 Banjarmasin dan Samarinda ditetapkan sebagai keuskupan penuh.

Pohon itu terus bercabang. Pada 14 April 1993 berdiri Keuskupan Palangka Raya, dengan Mgr. Julius Aloysius Husin MSF sebagai uskup pertama. Pada 2002 menyusul Keuskupan Tanjung Selor, dengan Mgr. Yustinus Harjosusanto, MSF sebagai uskup pertama, dan pada 2003 Samarinda ditingkatkan menjadi Keuskupan Agung. Pada 8 Juli 2007, genap seratus tahun karya misi di Kalimantan Timur, Paroki Laham dibuka kembali, seakan sungai itu mengantar kita pulang ke mata airnya.

Tahun 2026 menjadi puncak peziarahan. Pada 27 Februari, hari lahir Pater Berthier, tepat seratus tahun pelayanan MSF di Indonesia dirayakan. Sepanjang tahun berlangsung napak tilas ke Laham, Tering, dan Samarinda, dua seminar di Barong Tongkok, serta temu OMK dan Misdinar. Pada 18 Oktober, Minggu Misi, perayaan seabad ditutup di Barong Tongkok dengan peresmian Museum Pater Berthier, Ekaristi syukur, dan pentas seni, di tengah keluarga besar MSF dari empat keuskupan yang menjadi buah karyanya.

Alfred Jogo Ena

Alfred Jogo Ena

Seorang editor yang suka menulis dan guru agama di beberapa sekolah menengah di Yogyakarta. Ia juga melayani pelatihan dan konsultasi penulisan buku

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *