KAKA NYONG, MAAFKAN ADE NYONG YANG TERLAMBAT DATANG
KAKA NYONG, MAAFKAN ADE NYONG YANG TERLAMBAT DATANG
(Obituari untuk Singgih Wibowo: Sebuah Janji Bertamu yang Tak Pernah Terpenuhi)
Oleh: Aven Jaman
Ada kehilangan yang membuat kita menangis karena seseorang telah pergi. Namun, ada kehilangan yang jauh lebih menyakitkan karena bersama kepergiannya, ikut terkubur pula kesempatan-kesempatan kecil yang tak pernah kita sadari akan menjadi begitu berharga.
Bagi saya, kepergian Kaka Nyong Singgih Wibowo pada 18 Oktober 2026 adalah keduanya. Saya kehilangan seorang sahabat sekaligus seorang kakak yang kehangatannya akan selalu tinggal dalam ingatan. Tetapi ada satu hal yang terus mengganjal hati: sebuah permintaan sederhana darinya yang sampai hari ini tak pernah sempat saya penuhi.
“Ade Nyong, kalau saya pulang ke Kopen, main ya.”
Kalimat itu sederhana. Tidak ada janji besar. Tidak ada rencana istimewa. Hanya ajakan seorang kakak kepada adiknya untuk mampir ke rumah.
Tetapi kini, setelah ia pergi untuk selamanya, kalimat itu menjelma menjadi sesuatu yang begitu berat saya kenang. Sebab, saya masih bisa mengingatnya dengan jelas, tetapi tidak akan pernah lagi memiliki kesempatan untuk menjawabnya dengan sebuah kunjungan.
Hangat Meski Jarang Berjumpa
Saya mengenal Kaka Nyong ketika kami sama-sama menjadi pegawai di Bimas Katolik Kanwil Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur. Beliau bertugas di Madiun, sementara saya di Kediri.
Jarak dan kesibukan membuat kami tidak sering berjumpa. Kami bukan tipe sahabat yang setiap hari bertukar kabar atau selalu punya waktu untuk duduk bersama. Pertemuan kami sesekali saja, di sela-sela pekerjaan dan perjalanan hidup masing-masing.
Namun, ada orang-orang yang tidak membutuhkan perjumpaan terlalu sering untuk membuat sebuah hubungan terasa dekat. Kaka Nyong adalah salah satunya.
Setiap kali kami bertemu, kehangatan itu selalu mengalir begitu saja. Tidak terasa seperti pertemuan dua orang yang sudah lama tidak berjumpa, melainkan seperti dua sahabat lama yang tidak pernah benar-benar kehilangan kedekatan. Bahkan, bagi saya, hubungan itu terasa lebih dari sekadar persahabatan. Ada rasa persaudaraan yang tulus, seperti hubungan kakak dan adik yang tidak dibatasi oleh hubungan darah.
Beliau adalah Kaka Nyong bagi saya. Dan saya adalah Ade Nyong baginya.
Panggilan itu bukan sekadar sapaan. Di dalamnya ada keakraban, ada kasih sayang, ada rasa saling menerima yang tidak membutuhkan banyak penjelasan.
Ada orang yang kehadirannya membuat kita merasa dihargai tanpa harus melakukan sesuatu yang istimewa. Kaka Nyong memiliki kehangatan semacam itu. Ia tidak perlu hadir setiap hari untuk meninggalkan kesan mendalam. Cukup dengan perjumpaan yang singkat, ia mampu membuat hubungan terasa dekat dan hati terasa lapang.
Barangkali itulah sebabnya kabar kepergiannya terasa begitu sulit saya terima. Sebab, orang yang jarang saya jumpai itu ternyata memiliki tempat yang begitu dekat di hati saya.
Sebuah Permintaan yang Terlambat Saya Pahami
Setelah pensiun dari tugasnya di Gara Bimas Katolik Kabupaten Madiun, Kaka Nyong menjalani pekerjaan yang sangat diimpikannya: menyopiri bus pariwisata.
Saya membayangkan ada kebahagiaan tersendiri ketika seseorang akhirnya dapat menjalani pekerjaan yang diimpikannya. Jalanan menjadi bagian dari hari-harinya. Perjalanan demi perjalanan mengantarnya ke berbagai tempat, sementara rumah di Kopen menjadi tempat untuk kembali dan beristirahat sebelum perjalanan berikutnya.
Pada suatu waktu, beliau pulang ke Kopen setelah menyopiri bus pariwisata. Di tengah kesibukannya itu, ia menyampaikan permintaan sederhana kepada saya: kalau pulang ke Kopen, mampirlah.
Sayangnya, saat itu saya sedang sibuk mempersiapkan kegiatan Sinau Bareng bersama para prodiakon Paroki Banteng.
Saya merasa masih punya banyak waktu. Saya berpikir akan ada kesempatan lain. Saya bisa datang pada kesempatan berikutnya, ketika pekerjaan tidak terlalu padat dan agenda tidak bertumpuk.
Bukankah rumahnya tidak akan ke mana-mana? Bukankah kami masih bisa bertemu lagi?
Ternyata, hidup tidak pernah memberikan jaminan bahwa kesempatan yang kita tunda hari ini akan tetap tersedia esok hari.
Saya bisa saja tidak menghadiri rapat panitia. Saya bisa saja mengatur ulang kesibukan. Saya bisa saja meluangkan waktu untuk datang, duduk sebentar di rumahnya, berbincang tentang pekerjaan, keluarga, perjalanan, atau sekadar menikmati secangkir kopi bersama.
Tetapi saya memilih untuk tidak datang.
Waktu itu, pilihan tersebut mungkin terasa biasa saja. Tidak ada yang mengingatkan saya bahwa suatu hari kelak saya akan menyesalinya. Tidak ada tanda bahwa sebuah ajakan bertamu yang saya tunda akan menjadi percakapan yang tidak mungkin lagi dilanjutkan.
Kini, justru hal sesederhana itulah yang paling menyayat hati.
Bukan semata-mata karena Kaka Nyong pergi secara tiba-tiba. Melainkan karena saya tidak lagi dapat memenuhi permintaannya ketika kesempatan itu masih terbuka.
Saya tidak tahu apa yang sebenarnya ada di balik ajakan beliau. Mungkin ia hanya ingin bertemu dan berbincang seperti biasa. Mungkin ia ingin berbagi cerita tentang pekerjaan barunya di jalanan. Mungkin pula ada pengalaman hidup, nasihat, atau teladan yang ingin ia bagikan kepada saya.
Saya tidak akan pernah tahu.
Namun, belakangan saya membayangkan bahwa kunjungan itu mungkin akan memberi saya kesempatan untuk belajar lebih banyak darinya: tentang semangat melayani dengan rendah hati, tentang pengabdian kepada instansi tanpa kehilangan senyum, atau tentang bagaimana menjadi seorang suami dan ayah Katolik yang menghadirkan kasih melalui kehidupan sehari-hari.
Semua itu kini tinggal kemungkinan yang tidak pernah sempat saya buktikan.
Dan justru karena tidak pernah terjadi, pikiran saya terus kembali kepadanya.
Maafkan Ade Nyong yang Memilih Sibuk
Kaka Nyong, maafkan saya.
Maaf karena ketika Kaka mengulurkan sebuah undangan sederhana, saya tidak cukup peka untuk memahami betapa berharganya kesempatan itu.
Maaf karena saya merasa masih memiliki banyak waktu, padahal waktu bukanlah sesuatu yang pernah benar-benar menjadi milik kita.
Maaf karena saya lebih memilih menyelesaikan agenda dan menghadiri rapat, sementara Kaka hanya meminta sedikit waktu dari saya. Waktu untuk bertamu. Waktu untuk menyapa. Waktu untuk duduk bersama sebagai seorang kakak dan adik.
Saya tahu, Kaka tidak pernah meminta sesuatu yang sulit. Kaka tidak meminta saya menempuh perjalanan jauh untuk sebuah urusan besar. Kaka hanya ingin saya datang ke rumah ketika Kaka sedang pulang.
Dan saya tidak datang.
Betapa mudahnya kita menganggap pertemuan sebagai sesuatu yang bisa ditunda. Kita menunda kunjungan karena pekerjaan, menunda percakapan karena kesibukan, dan menunda kebersamaan karena merasa esok masih tersedia.
Padahal, tidak semua orang yang kita cintai akan selalu memiliki hari esok bersama kita.
Kita sering mengira bahwa kasih sayang dapat dibuktikan kapan saja. Kita lupa bahwa salah satu bentuk kasih sayang yang paling sederhana justru adalah kesediaan untuk hadir ketika seseorang membuka pintu bagi kita.
Kini, saya tidak lagi dapat memperbaiki pilihan itu. Saya tidak bisa mengetuk pintu rumah Kaka di Kopen untuk menebus kunjungan yang tertunda. Saya tidak bisa meneleponnya untuk mengatakan bahwa saya akhirnya punya waktu. Saya bahkan tidak bisa meminta beliau mengulang ajakannya sekali lagi.
Yang tersisa hanyalah penyesalan, doa, dan sebuah permohonan maaf yang saya sampaikan melalui tulisan ini.
Semoga, di tempat peristirahatanmu, Kaka dapat menerima permohonan maaf dari Ade Nyong yang terlambat memahami arti sebuah undangan.
Ketika Saya Pun Tak Bisa Mengantar Kepergianmu
Ada satu hal lagi yang membuat kehilangan ini terasa semakin berat.
Ketika kabar lelayu itu datang dari Pak Ismul, saya sedang diperintahkan dokter untuk beristirahat. Kabar itu datang membawa kenyataan yang sulit saya cerna: Kaka Nyong telah pergi secara tiba-tiba.
Saya ingin berbuat sesuatu. Saya ingin hadir. Saya ingin memberikan penghormatan terakhir kepada seorang kakak yang selama ini menghadirkan kehangatan dalam setiap perjumpaan kami.
Saya berharap bisa menghadiri Misa Requiem untukmu. Setidaknya, saya ingin berada di antara mereka yang mengantarmu dalam doa, menyatukan kesedihan dengan pengharapan, serta mengucapkan selamat jalan secara langsung.
Namun, pada hari saya menulis kenangan ini, kantor kami sedang melaksanakan penandatanganan perjanjian kerja sama dengan instansi tetangga. Ada tanggung jawab pekerjaan yang harus dijalankan, sementara kondisi saya sendiri sebelumnya mengharuskan saya beristirahat.
Saya tidak hendak membandingkan mana yang lebih penting. Saya juga tidak ingin menjadikan pekerjaan sebagai alasan untuk membenarkan segala ketidakhadiran saya.
Tetapi, di tengah keadaan itu, hati saya kembali dihadapkan pada kenyataan yang menyakitkan: sekali lagi, saya tidak bisa hadir untuk Kaka.
Rasanya seperti mengulang kesalahan yang sama. Dulu, saya tidak datang ketika Kaka masih hidup dan mengundang saya ke rumahnya. Kini, ketika Kaka telah pergi, saya pun tidak dapat hadir untuk memberikan penghormatan terakhir.
Saya tahu, ketidakhadiran tidak serta-merta berarti ketiadaan kasih. Ada keadaan yang tidak selalu dapat kita kendalikan. Namun, mengetahui hal itu tidak serta-merta menghapus penyesalan.
Mungkin, inilah salah satu cara kehilangan mengajari kita tentang kerendahan hati: menerima bahwa kita tidak selalu mampu melakukan apa yang ingin kita lakukan, tetapi tetap bertanggung jawab atas kesempatan yang dahulu sebenarnya bisa kita pilih.
Kaka Nyong, sekali lagi, maafkan Ade Nyong.
Kali ini, saya hanya bisa mengantarmu melalui kata-kata dan doa.
Jejak Seorang Pelayan yang Tidak Ikut Pensiun
Kepergian Kaka Nyong tentu meninggalkan duka bagi banyak orang yang mengenalnya. Saya membayangkan ada begitu banyak kenangan yang kini muncul kembali di benak keluarga, sahabat, rekan kerja, dan mereka yang pernah bersentuhan dengan pelayanannya.
Bagi saya, Kaka Nyong mengingatkan bahwa pengabdian tidak selalu harus dikenang melalui jabatan besar atau prestasi yang diumumkan dengan gegap gempita.
Ada pengabdian yang hidup dalam cara seseorang menyapa sesama. Ada pelayanan yang terlihat dari kesediaan menjalankan tugas dengan tulus. Ada keteladanan yang tidak dituliskan dalam laporan kinerja, tetapi tertanam dalam ingatan orang-orang yang pernah bekerja dan berjalan bersamanya.
Pensiun mungkin mengakhiri sebuah masa pengabdian formal. Namun, semangat melayani tidak harus ikut pensiun.
Kaka Nyong melanjutkan kehidupannya dengan menyopiri bus pariwisata, pekerjaan yang diimpikannya. Jalanan menjadi ruang pengabdian dan perjalanan menjadi bagian dari kisah hidupnya. Ia menjalani babak baru setelah masa tugas di Bimas Katolik Kabupaten Madiun berakhir.
Saya tidak ingin mengidealkan kehidupan seseorang seolah-olah kita mengetahui seluruh kisahnya. Namun, dari apa yang saya kenal, kehangatan dan kedekatan Kaka Nyong dengan orang lain adalah bagian dari warisan yang patut saya syukuri.
Bagi saya yang masih meniti jejak karier di jalur pelayanan yang pernah ia tempuh, kepergiannya sekaligus menjadi pengingat.
Bahwa menjadi pelayan bukan hanya soal menyelesaikan pekerjaan. Bukan sekadar menghadiri rapat, memenuhi agenda, atau memastikan sebuah kegiatan terlaksana. Pelayanan juga menyangkut bagaimana kita memperlakukan manusia yang hadir di sepanjang perjalanan itu.
Jangan sampai kita begitu sibuk melayani banyak orang sampai lupa hadir bagi seseorang yang sedang menunggu kita.
Jangan sampai kita terlalu tekun memenuhi agenda sampai tidak lagi memiliki waktu untuk merawat persaudaraan.
Dan jangan sampai kita baru menyadari betapa berharganya seseorang setelah tidak ada lagi kesempatan untuk menemuinya.
Kaka Nyong, saya ingin belajar dari kehilangan ini. Saya ingin menjadikan penyesalan ini sebagai pengingat agar kelak tidak mengulang kesalahan yang sama kepada orang-orang yang saya kasihi.
Jika masih ada seseorang yang mengundang saya bertamu, saya ingin belajar untuk tidak buru-buru menjawab, “Nanti kalau ada waktu.”
Sebab, boleh jadi yang ia perlukan bukanlah waktu luang saya, melainkan kehadiran saya.
Kini, Jadilah Pendoa bagi Kami
Kaka Nyong, pergimu membuat banyak orang kehilangan. Itu wajar. Orang yang pernah menghadirkan kehangatan akan meninggalkan ruang kosong ketika ia pergi.
Namun, sebagai orang beriman, kita percaya bahwa kematian bukanlah akhir dari segala pengharapan. Kita menyerahkanmu ke dalam kerahiman Allah, yang mengenal seluruh perjalanan hidupmu jauh lebih dalam daripada yang mampu kami pahami.
Saya membayangkan bahwa kini Kaka telah sampai di rumah yang tidak lagi mengenal lelah, perjalanan panjang, atau perpisahan. Tidak ada lagi jalanan yang harus ditempuh dengan bus pariwisata. Tidak ada lagi tubuh yang perlu beristirahat setelah menjalankan tugas. Yang ada hanyalah damai dalam kasih Allah.
Entah bagaimana kita memahami misteri kehidupan setelah kematian, iman mengajari kita untuk tetap berharap. Kita percaya bahwa kasih Allah lebih besar daripada keterbatasan manusia dan bahwa setiap kehidupan yang diserahkan kepada-Nya berada dalam tangan yang penuh belas kasih.
Maka, Kaka Nyong, beristirahatlah dalam damai.
Jika Allah berkenan menyambutmu dalam kemuliaan-Nya, jadilah pendoa bagi kami yang masih melanjutkan perjalanan di dunia ini. Doakan keluargamu yang ditinggalkan. Doakan sahabat-sahabatmu yang merindukanmu. Doakan pula Ade Nyongmu ini, yang masih berusaha meniti jejak pelayanan di jalur karier yang pernah Kaka tempuh.
Semoga saya tidak hanya mewarisi kenangan tentangmu, tetapi juga belajar meneruskan hal-hal baik yang pernah Kaka hadirkan dalam hidup orang lain.
Dan jika kelak, pada waktu yang hanya diketahui Allah, perjalanan kita sampai pada ujungnya dan kita diperkenankan berjumpa kembali, ada satu hal yang ingin saya lakukan bersamamu.
Kita ngopi, Kaka.
Ngopi yang dulu tertunda karena kesibukan. Ngopi yang tidak sempat kita nikmati di rumahmu di Kopen. Ngopi yang kini hanya bisa saya bayangkan, tetapi tetap saya simpan sebagai sebuah janji kecil dalam hati.
Kali ini, saya tidak ingin terburu-buru pulang. Kita duduk lebih lama. Kita bercerita lebih banyak. Kita tertawa seperti dahulu, ketika kehangatan itu selalu mengalir di antara seorang kakak dan adiknya.
Sampai saat itu tiba, biarlah doa menjadi cara saya menyapamu.
Selamat beristirahat, Mas Singgih.
Selamat menikmati damai Allah, Kaka Nyong.
Terima kasih karena pernah menjadi kakak yang hangat bagi saya. Terima kasih karena telah meninggalkan kenangan yang membuat saya sadar bahwa persaudaraan tidak diukur dari seberapa sering kita bertemu, melainkan dari seberapa dalam seseorang menetap di hati kita.
Dan maafkan saya karena baru memahami arti sebuah kunjungan setelah pintu rumahmu tak lagi bisa saya ketuk.
Aku, Ade Nyongmu yang kehilangan,
Aven Jaman
Aven Jaman, Pegawai Kemenag, Kolumnis, dan rekan kerja Alm. Wibowo Singgih

