YAKOBUS SALESIUS WIBOWO SINGGIH ( † )

YANG KUKENAL

PEMBUKA

                Saya, Tinus Sukarno mengenal Singgih pada pertengahan Juli 1984 saat kami bersembilan (Kartono, Chris, Siswantoro, Subiyanto, Sutardi, Hendry, Fajar, Tjoek Prasetyo dari Seminari Berthinianum Yogyakarta diperbolehkan menjalani masa novisiat MSF di Wisma Betlehem, Gendongan, Salatiga. Di novisiat ini kami mendapatkan 5 orang teman baru. Satu di antaranya utusan dari Propinsialat MSF Kalimantan, yaitu Timo, dan 4 di antaranya adalah para seminaris dari Mertoyudan (Teguh, Hari W, Hari P dan Singgih).

MASA NOVISIAT

                Saat Romo Magister (Rm. Tan Thian Sing, MSF (†) ) menyambut dan memberi kesempatan kami untuk saling memperkenalkan diri disitulah saya mulai mengenal Singgih. Pribadi yang ceria, ramah, sedikit kocak, supel serta hangat dalam bergaul dengan siapa pun.

                Setelah  berkomunikasi beberapa hari dalam hatiku muncul pertanyaan, “kenapa Singgih ini memiliki banyak nama panggilan, seperti: “Gembik” yang didapat dari teman-temannya di Mertoyudan. Kadang ia juga memperkenalkan diri sebagai “Saki” atau “Putu Sumarto”. Bahkan di novisiat ada juga yang memanggilnya “Kemin”. Pokoknya dipanggil apapun nama panggilannya, dia tetap meresponnya dengan ceria. Ringkasnya kesanku terhadap Singgih bisa saya rumuskan mendekati syair lagunya Dian Piesesa, yang di tahun 1984 lagi popular, seperti di bawah ini:

                DI SINI HATIKU TERPAUT

                Sinar cinta di matamu, menusuk hatiku, menikam merah jantungku

                Tiada pernah aku menyangka atau bermimpi, kau datang untuk diriku

                Berjuta rasa di hati, ada bimbang terukir di sana

                Terangnya sinar mentari, seterang hatiku, secerah sinar matamu

                Semilir angin berhembus, selembut cintaku yang hanya untuk dirimu

                Disini hati terpaut , rindu tercipta, membara di dada

              Senandungkanlah, nada-nada cinta untuk semua

                Biarkan kami terlena, biarkan hati terbuai

                Senandungkanlah, nada-nada rindu dalam hati

                Biarkan perasaan cinta kita mekar dan bersemi.

Foto 1 : Agem busana novis 1984-1985

                Ke 14 pribadi baru di novisiat MSF tahun itu dengan perbedaan usia, karakter dan pendidikan maupun pengalaman hidup, kami bisa menetralisir  berkat bimbingan dan pendampingan romo magister. Kami semua bisa kompak dalam hidup dan bekerja sama. Termasuk seorang Singgih, perbedaan di antara kami tidaklah menjadi penghalang baginya untuk akrab dan hangat bergaul. Kami yang tua-tua dianggapnya sebagai teman dan kakaknya. Ini kurasakan di saat sharing, santai maupun dalam bekerja sama.

                Kepandaiannya bermain musik, menjadi job rutinnya setiap kompletorium dan Perayaan Ekaristi. Sering juga ditampilkan dalam momen-momen penting saat ada tamu atau acara lain dengan memainkan gitar yang ada.

                Rasa humornya yang tinggi, kadang memang memunculkan jiwa kenanak-kanakan yang usil dan membikin kesal, misalnya di saat santai atau saat opera, nyembunyiin alat. Namun aku memahami itu wajar dan manusiawi. Aku memakluminya karena sejak lulus SMP dia langsung hidup di asrama, jauh dari keluarga dan orangtua.

                Setahun penuh masa novisiat kami jalani dengan aneka kegiatan rohani, petualangan, pelayanan, olah raga, dll. Jalan kaki modal utama kami seperti renang di Muncul, ziarah ke GM Kerep Ambarawa dengan menyusuri jalan raya Solo Semarang disambung menyusuri rel Kereta Api, mendaki Gunung Telomoyo, nonton bioskop bersama, dll. Kesemuanya itu selalu didampingi magister kami, yang sering juga mengajak beberapa mudika Salatiga yang dikenalnya Namun bulan terakhir di novisiat ke 5 teman kami i: Hari W, Sutardi, Hendry, Siswantoro dan Kartono memilih jalan panggilan hidup yang lain.

MASA SKOLASTIKAT

                Kami bersembilan berlanjut meniti panggilan hidup ke biara Nazareth milik Kongregasi MSF di Jl. Kaliurang, Banteng, Yogyakarta.

                Medan biara yang luas dan jumlah konfrater mencapai kisaran 100 orang, kami dituntut bersosialisasi lebih meluas dan melintas. Kami dituntut lebih membaur dalam bersosialisasi dan berkomunikasi. Penghuni biara Nazareth hanya dibagi dalam 3 kelompok: kelompok filosofan, kelompok teologan dan kelompok patres. Namun bagi pribadi seorang Singgih kelompok=kelompok ini juga tidak menjadi penghalang untuk akrab, selengekan dan melucu. Wajarlah dia diakrapi banyak konfraternya.

                Tugas utama disini adalah studi, ditambah latihan berpastoral sesuai minat dan bakat para frater. Latihan berpastoral ada yang di luar paroki Banteng seperti mengajar di sekolah (Pendidikan Agama Katolik dan membina Pramuka). Ada yang di lingkup wilayah Pastoral Paroki Banteng, seperti mengajar katekumin, membina pramuka, membina putra altar, mudika, koor atau kegiatan pastoral lainnya.

                Tugas tambahanku adalah membina pramuka di paroki dan di sekolah katolik bersama beberapa  frater lainnya. Sementara temanku, Singgih bersama beberapa frater lain membina misdinar Paroki Banteng. Aku tetap kagum terhadap Singgih dalam menjalani tugas pastoral ini. Dia tetap ceria, selengekan, namun akrab dengan anak-anak misdinar dan para orangtua. Dan tidak kusangka sama sekali kalau salah satu dari anak misdinar binaannya  sekarang menjadi isterinya.

                Kebijaksanaan tim Kongregasi MSF di biara Nazareth saya hanya diijinkan 3 tahun dan tidak bisa berlanjut. Dengan berat hati serta linangan air mata dan hati hancur kutinggalkan biara Nazareth. Sejak itu pula relasiku dengan para frater MSF putus dan hilang. Kini aku sibuk dengan duniaku sendiri. Dan tidak punya link kontak dengan para frater MSF.

MASA DI LUAR BIARA

                Hampir dua tahun aku menjalani hidup menemukan kehendak Tuhan atas hidupku, namun arahnya tidak jelas karena hanya menuruti emosi dan perasaan saja. Ada teman mengajakku cari kerja di Jakarta namun aku tolak. Aku merasa ngeri dan kurang PD hidup di Jakarta yang kata orang kotanya “ganas” dan biaya hidupnya tinggi. Walaupun anak-anak pak lik saya banyak yang sudah bekerja dan tinggal di Jakarta, namun aku tetap tidak berminat tinggal dan hidup di Jakarta. Maka kuputuskan tetap tinggal di Semarang ngikut kakak perempuanku.

                Sepertinya Tuhan tidak menghendaki relasiku dengan para konfrater MSF putus dan hilang. Hampir dua tahun hidup tanpa arah aku mulai bisa menerima keadaan, aku kembali mengumat di paroki Keluarga Kudus Atmodirono Semarang. Berbekal Sertifikat Kursus Guru Agama 1 tahun di PIKAT Semarang, yang kuperoleh sebelum masuk seminari, aku bisa mengajar di SMP Swasta Nasional.  Sambil mengajar melanjutkan kuliah di IPI Malang Filial Di Semarang. Tuntutan kuliah harus lebih banyak melibatkan diri dalam hidup menggereja. Di Paroki Atmodirono Tuhan mempertemukan aku dengan Fr. Teguh teman seangkatan di novisiat yang sedang menjalani TOP tahun keduanya. Saat itulah dengan kekonyolan dan cirikhas tampilannya Fr Teguh menjadi penguat dan hiburan bagiku. Kembali aku bisa setia dan tetap bergabung dengan kongregasi MSF hingga saat ini. Apalagi saat aku di IPI biaya kuliahku sering dibantu oleh Rm. Huneker MSF suwargi.

                Waktu berjalan terus. Aku banyak terlibat di kegiatan kegerajaan dan keguruan agama katolik kota Semarang. Disitu aku dipertemukan dengan para mantan MSF, Koh Sancahya, Mas Roby, Mas Unggul, dll. Dari pergaulan ini kami mulai tahu bahwa ada wadah Bramin, yang anggotanya para mantan MSF.  Akupun mulai aktif bergabung dalam wadah Bramin Rayon Semarang yang diketuai Mas Unggul.

                Di tahun 2008 ada kegiatan temu anggota Bramin di Rumah Joglo Gunung Pati seraya louncing buku NBP jilid 2. Di akhir tahun 2009 ada Temu Akbar anggota Bramin Nasional di Biara Kana Salatiga. Mulai saat itulah kami eks novis 1984-1985 yang ikut hadir seperti: Teguh, Singgih, Kartono dan Tinus sepakat membentuk dan mengembangkan jalinan kami. Merajut benang yang ruwet dan putus menjadi Group Komunitas Jamu 13 (Novis 1984-1985). Kami kerja bareng merangkul semua teman eks novis 1984-1985 untuk menjadi anggota group, temasuk Romo Fajar, Romo Tjoek dan Romo Timo sampai sekarang.

Foto 2: Pertemuan Bramin Regio Jawa

Tahun 2018 kami, eks novis MSF 1984-1985 bereuni di Wisma Kana Salatiga yang dihadiri 12 orang. Dua orang tidak bisa hadir, Rm. Timo karena di Kalimantan harus mendampingi para seminaris baru dan Romo Tjoek karena harus mendampingi retret.

                Disinilah momen-momen kehangatan dan persaudaraan kami di novisiat dirasakan Kembali. Banyak di antara kami semalaman tidak tidur karena melepas rindu dengan saling mendengarkan dan saling menguatkan, Saat itulah suasana kompletorium dan misa di masa novisiat dikenang kembali, dimana Singgih menjadi organis, Tinus memimpin kompletorium dan Romo Fajar sebagai pemimpin misa. Disini pula kami rasakan kehangatan dan kasih setianya Singgih. Dia yang rumah dan kerjanya di Madiun masih berkenan mengantar kami bersembilan ke Semarang. Tujuan awalnya ingin menemui Romo Magister (Rm. Tan Thian Sing MSF) di Propinsialat MSF Guntur. Sayangnya tidak bertemu karena beliau lagi berobat di Purwokerto Banyumas. 

Foto 3 : Reuni Novis 1984-1985 di Biara Kana Th. 2018

Reuni berlanjut di tahun 2022 di Biara Nazareth Jl. Kaliurang Yogyakarta. Kami disambut dengan welcome banget oleh Romo Yuli (selaku Rektor waktu itu). Saat itu kami menyempatkan tabur bunga ke makam para romo dan bruder MSF di Sasana Golgota.

                a gagasan Temu Darat PBMN di Sarangan sebenarnya kami eks novis 1984-1985 sudah berencana reuni kembali di rumah Lek Siswantoro  Canggalan Ngluwar atau di rumah Lek Teguh Klepu Banjaroya kalibawang namun terkendala oleh kondisi Lek Teguh yang harus pasang ring, Om Kartono yang kecelakaan dan Lek Subi yang harus menjalani penyembuhan atas operasi ginjalnya……

TEMU DARAT PBMN 2026

                Di awal tahun 2026 aku dikontak oleh Mas Jaya, Ketua PBMN Rayon Solo Raya. Kami dajak rapat Panitia Temu Darat di rumah salah satu teman PBMN di kota Solo. Namun karena sudah menyanggupi mandu kegiatan di paroki saya tidak bisa datang, tetapi siap melaksanakan tugas kepanitiaan yang diberikan kepadaku. Dan disitu aku ditunjuk sebagai Seksi Doa dan Misa. Dan panitia menginginkan adanya doa kompletorium saat Temu Darat di tgl 17 Oktober dan Misa di tanggal 18 Oktober 2026.

                Kujalankan persiapan tugas seksiku. Aku mulai mencari sumber-sumber untuk menyusun teks kompletorium dan teks misa hari Minggu Biasa ke 29 tahun 2026. Termasuk juga meminta bantuan beberapa teman yang kompeten untuk membantu lancarnya  kompletorium dan Misa saat Temu Darat PBMN di Sarangan. Karena jumlah PBMN saat ini banyak sekali, maka aku hanya menunjuk teman-teman PBMN yang kukenal potensinya, termasuk Singgih, yang saya minta bantuan untuk mengiringi kompletorium dan Misa Temu Darat PBMN.

                Ketika kuWA dengan segara Singgih memberikan jawaban, “Kang, sing enum-enum mestine yo ono sing isa to? Mosok putra Berthier ora ono? Aku wis nyopir, nyotrek barang kii…..serakah mengko    Tapi lihat sikondom wae suk mben….spontanitas.” Kujawab, “oke bro, dipersory, masalahnya aku gak kenal siapa PBMN yang bisa main organ untuk peribadatan. Memang ada sich, Kak Thomas dan Mas Haryo. Tapi yo mosok dia? Dia kan datang dari jauh Depok dan lereng Merapi. Makasih ya atas spontanitasnya kamu nanti.”

                Dalam perjalanan waktu ternyata mas Ratmono setelah dirayu dan diberi pengertian bersedia menggantikan Singgih sebagai pengiring kompletoriun dan misa Temu Darat.

                Saat temu darat karena kesibukan setiap panitia aku tidak banyak ngomong dan berelasi dengan Singgih. Namun di hari Minggu tgl 18 Oktober 2026 di saat teman-teman berekreasi di Telaga Sarangan, aku sengaja tidak ikut karena harus mempersiapkan Perayaan Ekaristi Penutupan Temu Darat. Ketika jam menunjukkan jam 9.00 aku menuju kapel Medali Wasiat di Domus Mariae. Di halaman kapel saya dicegat Singgih dan digeret serta dirangkulnya dengan erat sambil dia berkata, “Yuk kang kita selfi. Senyum yo, ojo mrengut!” Dengan tetap memelukku erat dia mengangkat tongsisnya dan memberi aba-aba selfi. Dalam hatiku berkata, “Orang ini koq dengaren dan aneh to?” Habis itu aku melanjutkan ke kapel dan Singgih pun pergi entah kemana.

Foto 4: Selfi perpisahan selamanya dengan pelukan erat, 90 menit sebelum Singgih menghadap-Nya

Di akhir misa penutupan itu ada pengumuman yang membuat sebagian besar peserta misa shock, menangis dan histeris. Audio di kapel itu tidak jelas dan suara romonya juga terlalu lembut. Saya tidak tahu dan tidak sadar kalau berita itu tentang Singgih. Barangkali memang ini sudah diatur oleh Tuhan karena malam sebelumnya air mataku sudah bercucuran oleh renungan yang dibawakan Mas Widyanto mengenai seorang ayah, dan ditampilkan foto-foto banyak orang yang dulu dekat dengan aku, diantaranya Romo Tan Thian Sing MSF.

                Di saat makan siang, aku duduk bersama kang Tardi. Saat itu panitia mengumumkan serkileran atau kolekte untuk Singgih yang telah dipanggil Tuhan. Aku bertanya kepada kang Tardi. “Jane yang meninggal itu Singgih siapa to kang? Pendengaranku di kapel tadi tidak jelas. Kan di PBMN ini juga ada nama Singgih yang lain” Jawab kang Tardi, “Yo singgih e dhewe. Kancane dhewe kae…….. Tadi Singgih pingsan di bagasi bus jam 10.30 lalu dilarikan ke Puskesmas Plaosan sudah nggak ada…..”. Spontan sendok ditanganku mencelat, mataku nanar dan aku mitenggengen. Namun air mataku tanpa terasa mengalir lagi

                Di bus A yang mengantarkan kami pulang selama perjalanan sepi, tidak seperti saat berangkat begitu heboh dengan candaan, gurauan, dan karaoken. Namun saat pulang  di bus A Silentium Magnum. Dalam perjalanan di kereta apipun yang biasanya aku banyak ngobrol dengan penumpang lain saat itu aku memilih menutup mukaku dengan sweeter dan tidur. Terbangun setelah samar-samar terdengar music Gambang Semarang di Stasiun Tawang. Dengan teman sesama PBMN se Semarang pun saya bicara seperlunya saja. Aku ngerasa terpukul dengan ditinggalkannya oleh Singgih, yang adalah temanku, adikku, musuhku sekaligus konfraterku dan solmetku.

                Dua firasat tentang ditinggalkan Singgih kualami:

  1. Saat kutunjuk untuk mengiringi perbadatan selama Temu Darat dia menolaknya dengan kelakarnya.
  2. 90 menit sebelum meninggal aku dipaksanya selfi dengannya dengan dipeluk erat serta menyuruhku senyum.

Selamat jalan menuju rumah Bapa wong bagus. Terima kasih  boleh berteman dengan dirimu. Doakanlah kami dan PBMN !

PENUTUP

Sebulan yang lalu kau masih disini
Cerita padaku tentang Temu Darat

Sebulan yang lalu kau masih disini
Kau ketawakan diriku dengan celotehmu
Ooh indahnya, ooh hangatnya malam itu

Belum habis manis yang kauberikan
Sudah kau balas pahit begini

Ternyata untukku kau berikan duka
Dari cinta, tawa dan candamu.
Maafkan sayang. memang salahku
Kurang peka akan tanda yang kau beri
Tak kusangka, tak kuduga semula
Kau yang kucinta telah tiada.

Namun dengarlah, dari semua
engkau yang kusayang

Pergilah, pergi saja dan jangan datang lagi
Merahnya kasihmu, birunya cintaku
Bagai mimpi mimpi yang hitam.

                                                                                                                Sendangguwo Semarang akhir Oktober 2026

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *