Kala Para Alfa Berkumpul

Kala Para Alfa Berkumpul

Kala Para Alfa Berkumpul

Medio Oktober lalu, suasana sejuk Sarangan menjadi saksi berkumpulnya para eks-MSF yang terhimpun dalam Paseduluran Brayat Minulya Nusantara. Sebuah ruang temu dan reuni nostalgia yang tidak sekadar melepas kangen, tetapi juga memotret dinamika unik ketika orang-orang berkarakter kuat—para alfa—duduk bersama dalam satu meja paseduluran.

Jika dirunut balik, latar belakang pendidikan anggota paseduluran ini terhitung relatif setara: minimal SMA atau sekolah menengah atas, baik kejuruan maupun formal umum, plus satu tempaan khas yaitu seminari. Sebagian besar di antaranya melangkah lebih jauh ke jenjang pendidikan tinggi sebagai mahasiswa.

Ada satu benang merah tebal yang mengikat riwayat mereka: sepanjang masa pembinaan (formatio), mereka memang dirancang, dididik, dan dibentuk untuk menjadi seorang pemimpin. Namanya juga calon penggembala atau pemimpin umat. Bentukan karakter ini sangat terasa dampaknya hingga kini, baik dalam forum formal maupun obrolan santai tanpa agenda.

Proses penyaringan untuk memasuki jenjang pembinaan sejak awal sudah menelusuri rekam jejak kepemimpinan calonnya. Kemampuan, kebiasaan, hingga keaktifan di organisasi gereja, sekolah, maupun masyarakat menjadi bahan pertimbangan dasar, meskipun tentu bukan syarat mutlak.

Selanjutnya, selama pembentukan kepribadian di ruang formatio, cara-cara untuk memupuk jiwa kepemimpinan diterapkan secara konsisten. Pembiasaan itu melekat dalam keseharian, mulai dari disiplin studi hingga pengelolaan dinamika hidup bersama. Hal ini paling konkret terlihat pada sistem penugasan yang dikenal dengan istilah kebidelan—alias pengurus rumah tangga komunitas.

Ada yang ditunjuk menjadi bidel hewan untuk memelihara ternak, ada bidel sepeda yang bertanggung jawab merawat armada transportasi para seminaris dan frater menuju kampus, hingga bidel keuangan yang melatih kepekaan menjadi seorang ekonom dalam lingkup terbatas.

Kebiasaan dan pembiasaan tersebut tidak menguap begitu saja ketika seseorang memilih jalan hidup yang berbeda di kemudian hari. Garis tempaan itu tetap mengendap dan melekat kuat. Karakter dasarnya tampak jelas saat berhadapan dengan masalah: responsnya cepat, taktis, dan terbiasa berinisiatif mencari solusi.

Namun, ketika sosok-sosok berkarakter alfa ini bertemu dalam satu wadah, dinamika menarik pun terjadi. Gesekan ego antar-alfa tentu berpotensi timbul. Tetapi jika mampu merawat harmoni dan mengerem ego masing-masing, perjumpaan itu justru melahirkan daya kolaborasi yang amat dahsyat.

Berbicara mengenai harmoni dan kolaborasi berarti berbicara soal prinsip saling melengkapi—bukan saling meniadakan, apalagi berusaha menjatuhkan. Kolaborasi sejati bertumpu pada kesadaran untuk membangun, berkembang bersama, dan saling menopang.

Mengapa hal ini penting? Sebab setiap pribadi dibekali kharisma dan keunikan yang berbeda-beda. Perbedaan kharisma itu sejatinya ada untuk mengisi ruang-ruang kosong yang dimiliki pihak lain. Sayangnya, hal ini kerap gagal dipahami ketika seorang alfa terjebak pada dorongan menonjolkan kelebihan diri sendiri, sembari abai pada keterbatasan pribadi serta menutup mata terhadap potensi rekannya—yang ndilalah juga seorang alfa.

Pendidikan yang berhasil menempa pribadi-pribadi pemimpin ideal tentu akan memberi dorongan besar bagi kemajuan bersama. Bayangkan, jika satu pribadi alfa saja sudah mampu membawa dampak perbaikan, maka ketika ia bersinergi dengan rekan-rekannya yang setara, daya ubahnya akan berlipat ganda.

Meski demikian, potensi “ribut dan ribet” akan selalu mengintai. Hal tersebut biasanya timbul apabila seseorang masih berkutat pada “keakuan”—suatu dorongan primitif untuk memenuhi kebutuhan dasar ego yang belum tuntas. Yang paling sering terjadi adalah dahaga akan pengakuan diri (self-recognition). Ketika rasa diakui itu masih minim, seseorang cenderung menuntut orang lain untuk selalu mengerti, memahami, dan memuaskan dahaganya. Situasi bisa menjadi lebih parah manakala yang bersangkutan bahkan tidak menyadari bahwa ada masalah emosional di dalam dirinya.

Secara kasatmata, ada beberapa ciri khas yang memicu keretakan dalam perjumpaan para alfa:

  1. Mendominasi. Dorongan ego yang terlampau tinggi membuat pribadi ini berusaha menguasai panggung di setiap kesempatan demi mengeruk pengakuan. Ia cenderung tidak mau mengalah dan selalu merasa harus menjadi yang paling unggul dalam segala hal.
  2. Merendahkan. Ini adalah sikap yang amat menjengkelkan. Rasa berlebih membuat seseorang merasa berhak menilai, menghakimi, bahkan merendahkan orang lain yang memiliki pandangan atau latar belakang berbeda.
  3. Kurang Mampu Mendengarkan. Maunya selalu didengarkan, tetapi lupa pada hukum alam: bahwa manusia diberi satu mulut dan dua telinga. Padahal, rancangan itu menjadi petunjuk tersirat bahwa kesempatan untuk mendengarkan seharusnya dua kali lebih banyak daripada berbicara.

Di sisi lain, jika ego berhasil dikelola, sisi positif dari para alfa ini sungguh luar biasa dan sangat menyejukkan:

  • Solutif. Sebagai problem solver andalan, pola pikirnya terbiasa fokus pada penyelesaian. Masalah tidak dihadapi dengan ratapan, melainkan dibedah dengan taktis dan kreatif.
  • Kreatif. Daya cipta dan fleksibilitas berpikir sudah menjadi bagian utuh dari dirinya. Ini merupakan modal sosial yang sangat berharga dalam kehidupan bersama sekaligus bentuk dari kecerdasan personal.
  • Multitalenta. Tak jarang, mereka memiliki keluwesan di berbagai bidang—mulai dari kedalaman intelektual, penguasaan ilmu pengetahuan, hingga kecintaan pada dunia seni.

Bagaimanapun juga, para alfa tetaplah manusia biasa, bukan dewa yang sempurna. Selalu ada sisi tambah dan kurangnya. Pribadi yang telah matang secara spiritual dan emosional biasanya mampu melampaui keakualnya: ia memperbesar nilai-nilai positif, meredam kekurangan, tanpa pernah merasa malu mengakui bahwa dirinya pun tak luput dari keterbatasan. Dari sinilah paseduluran yang sejati tumbuh dan mengakar.

Susy Haryawan

Salam JMJ

Susy Haryawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *