SMA Bhakti Awam Ambarawa, Pamit

SMA Bhakti Awam Ambarawa, Pamit


Satu lagi Sekolah Katolik Tumbang
Keberadaan sekolah Katolik banyak yang susah bertahan. Gempuran sekolah asal-asalan, mematahkan tradisi disiplin yang menjadi nilai lebih binaan Katolik. Hanya sebagian kecil yang memiliki rekam jejak panjang, mempunyai nama besar dan bisa eksis hingga hari ini. Sekolah yang berdiri sejak 1967 itu kini telah tiada.
Masa jayanya sekolah ini sampai ada kelas pagi dan sore, seorang guru yang telah purna pernah mengisahkan sampai lupa pulang karena dari pagi sampai menjelang malam di sekolah. Guru muda yang masih bersemangat untuk berbagi ilmu. Kala berjumpa tahun 2017-an, beliau berkisah beda jauh mengenai anak ataupun kondisi sekolah.
Kala sudah tidak berjaya guru lain menceritakan, harus membangunkan anak dari kamar kosnya untuk datang ke sekolah. Betapa pilunya pengalaman itu. Tahun 90-an dengan sekitar 12 kelas, jauh berkurang dari cerita guru era 80-an sampai kelas pagi sore, pada tahun 2010 tinggal tiga kelas sangat kurus, perkelas dengan hanya hitungan jari.
Kini, semua tinggal kenangan. Salah satu komentar rekan Angkatan
Melu (ikut) sedih… tapi hanya bisa terpana melihat dinamika system Pendidikan yg di dalamnya ada unsur terselubung (intoleran)
Terbukti sudah sejak lama sekolah Yayasan Katolik dan Kristen tanpa dukungan pemerintah yg seimbang…
Selamat berkabung


Negara Abai Sejarah
Pendidikan merata memang tugas negara. setiap kecamatan ada SMK-SMA itu wajar, namun sayang, bahwa banyak yayasan merupakan pionir, pendiri mula-mula sekolah di mana sama sekali belum ada pendidikan yang memadai. Memulai itu tidak mudah lho, jangan dikira seperti saat ini.
Gambaran keberadaan Bhakti Awam sebagai bagian sejarah adalah, SMA Negeri Ungaran berdiri tahun 1965 di ibukota Kabupaten Semarang, tetangga terdekat SMA Salatiga didirikan tahun 1954. Ambarawa kota kecamatan di antara kedua kota itu baru memiliki SMA Negeri tahun 1982. Di Ambarawa SMA Islam Sudirman berdiri tahun 1977 dan diikuti SMA Taman Madya. Bisa dilihat sebagai pemula untuk jenjang sekolah menengah atas.

Negara bisa hadir dengan memberikan bantuan guru. Malah terbunuh ketika adanya BOS sekolah swasta juga harus gratis, mau hidup dari mana? Negeri yang bangunan dari negara, gaji guru dan karyawan semua negara saja sering masih memungut dengan berbagai-bagai istilah.
Pendidikan gratis sejatinya jargon keliru. Mosok level pengusaha dengan kuli panggul disamakan dalam pendidikan di negeri ini. Siapa yang mampu biarlah membayar, yang tidak beruntung bisa menikmati pendidikan sama bagusnya. Itu baru pendidikan bermutu.


Apakah akan terus seperti itu? Jika negara tidak sadar akan perilaku ugal-ugalannya, jangan kaget, saat generasi mendatang tidak lagi memiliki akar budaya dan sejarah yang kokoh. Miris.
Salam JMJ
Susy Haryawan

Susy Haryawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *